Perginya Guru Ngaji Kami | Rendra Purnama

Sastra

12 Jun 2022, 08:30 WIB

Perginya Guru Ngaji Kami

Selama ini bapak Nur menjadi satu-satunya guru ngaji di mushala setempat.

OLEH FINKA NOVITASARI

“Sudah kubilang, Nur,” tegas Mak sembari menggeser duduknya lebih dekat. “Bapakmu pasti setuju dengan Mak,” ujarnya makin gamblang. “Pabrik tripleks tak lagi beroperasi, lowongan jaga toko di kios Koh Liong sudah tutup kemarin. Sekarang, kau juga tak mau ikut budemu merawat anak majikannya itu?”

Nur mengesak di sudut dipan. Lempitan mukena yang belum benar dilipat itu diremasnya dengan gemuruh membara di dada. Ini kali ketiga Mak merutuknya tanpa jeda. Sejak budenya memberi kabar lewat telepon pada malam lebaran hendak bersilaturahim, diikuti pula dengan tawaran kerja dengan gaji lumayan, membuat Nur dilanda kegamangan.

“Bukan begitu, Mak.” Nur mencoba memberi paham. Alis Mak terangkat. Belum sempat Nur merampungkan ucapannya, lekas-lekas Mak menyambar, “Tak ada gunanya kau di sini.” Disusul langkahnya yang berangsur pergi. Nur tidak bisa berbuat apa-apa. Tahulah ia bagaimana watak Mak, apa pun perkataannya harus diamini.

 
Selepas tamat SMK jurusan Tata Busana dua tahun lalu, Nur memang belum ke luar kandang. Selama pagebluk melanda, ia membuka kios jahit dan permak di rumah. 
 
 

Selepas tamat SMK jurusan Tata Busana dua tahun lalu, Nur memang belum ke luar kandang. Selama pagebluk melanda, ia membuka kios jahit dan permak di rumah. Tak banyak memang yang memakai jasanya. Namun, hasilnya bisa sedikit membantu memenuhi rak bumbu dapur, juga bisa membelikan adiknya kuota internet untuk belajar daring.

Sempat Nur dibawa gurunya ke Sragen untuk ditempatkan di pabrik garmen. Namun, satu bulan setelahnya ia memutuskan pulang ketika bapaknya dikabarkan sakit. Langkah Nur hendak kembali ke Sragen mendadak berat tatkala bapaknya menggelayuti pundak Nur dengan amanah.

“Penduduk kampung ini semua Muslim. Ajari anak-anak mereka Iqra, kalau bisa sampai khatam Alquran,” kata bapaknya pada suatu malam dengan suara serak dan terbata-bata.

Tepercik pertanyaan besar dalam kepala Nur. Namun, sesaat kemudian bapaknya menyahut seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan putrinya, “Tak usah kau pikir imbalan, yang penting anak-anak tidak buta alif ba ta. Itu lebih baik daripada anak-anak mengenal ilmu pengetahuan, tetapi jauh dari agama.”

 
Nur menyeka peluh di pelipis bapaknya. Tidak ada jawaban terlontar. Bapaknya melanjutkan dengan sehidang senyum. 
 
 

Nur menyeka peluh di pelipis bapaknya. Tidak ada jawaban terlontar. Bapaknya melanjutkan dengan sehidang senyum. Tak disangka, esok hari lepas Subuh ketika Nur berpamitan hendak mengambil wudhu usai semalaman menjaga, bapaknya justru mangkat saat itu juga.

Selama ini bapak Nur menjadi satu-satunya guru ngaji di mushala setempat. Lainnya tidak ada yang bersedia. Bukan hanya karena pemahaman ilmu agama kurang mumpuni, melainkan juga karena bayaran yang diterima tak tentu jumlahnya dan masih jauh dari kata cukup untuk biaya makan sehari-hari. Bapak Nur mengabdikan diri sembari membuka jasa jahit sol sepatu untuk menghidupi keluarga.

Satu-satunya mushala yang berdiri di kampung itu menjadi tempat Nur mengajar mengaji selama tiga jam. Ruangan berkapasitas dua puluh jamaah disulap menjadi tempat belajar. Nur mempersiapkan papan tulis putih, spidol, rehal, kalam, dan perlengkapan lain untuk menunjang anak-anak belajar mengaji.

Setiap ia datang di mushala, anak-anak sudah menunggu di pintu utama. Selalu terdengar derit sepeda Nur yang terlihat makin tua itu. Maka, tiap kali bunyi keretek ... keretek terasa makin dekat, anak-anak berebutan lari ke luar mushala untuk menyambut guru ngaji mereka sembari mencium takzim punggung tangannya.

 
Sudah seharusnya ia mesti menggantikan tugas bapaknya. Kendati selalu mendapat kicauan tak sedap dari Mak, Nur tetap mengajar.
 
 

Sudah seharusnya ia mesti menggantikan tugas bapaknya. Kendati selalu mendapat kicauan tak sedap dari Mak, Nur tetap mengajar. Nur bukanlah Sarjana Agama ataaupun jebolan pondok pesantren. Namun, sebagaimana amanah bapaknya, Nur ialah pelita yang harus dinyalakan sebagai estafet untuk menjembatani anak-anak di kampungnya mengenal agama, setidaknya memahami alif ba ta. Itu saja.

Nur beranjak hendak ke kios. Ia simpan mukena dan ditanggalkan juntai kerudung ke belakang agar tak mengganggu pekerjaan. Nur teringat ada pesanan baju senam yang belum diselesaikan. Ia baru pulang dari mushala, lalu sesampainya di rumah malah disambar dengan omelan.

Begitulah. Usai mengajar mengaji tiga kali seminggu, Nur disibukkan dengan pola-pola dan angka yang semuanya tersaji di buku mini diikuti suara pedal mesin jahit sepanjang hari. Selalu begitu.

Nur tidak bermaksud membantah perkataan Mak. Tak tahulah ia bagaimana rupa Samarinda, kota yang ditinggali budenya saat ini. Ia hanya tahu sebatas potret-potret budenya yang sering diunggah di status Whatsapp bila menemani anak majikannya jalan-jalan. Nur memang tak berpengalaman merawat bayi dan balita. Namun, Ali, adiknya yang kini kelas tiga madrasah tsanawiyah itu, Nur-lah yang mengurusi keperluannya sedari bayi bila Mak pergi mencarikan rumput ternak.

 
Tawaran gaji hingga iming-iming jalan-jalan setiap saat memang menggiurkan. Namun, manalah mungkin Nur sampai hati meninggalkan anak-anak di kampung yang sudah telanjur nyaman mengaji dengannya.
 
 

Tawaran gaji hingga iming-iming jalan-jalan setiap saat memang menggiurkan. Namun, manalah mungkin Nur sampai hati meninggalkan anak-anak di kampung yang sudah telanjur nyaman mengaji dengannya. Mushala yang selalu menjadi tempat ia melihat tawa anak-anak tak mungkin dilupakan begitu saja. Belum lagi dengan mesin jahit yang menemani sejak memberanikan diri mengungkap keinginannya masuk SMK, lalu Bapak langsung membelikan mesin jahit saat itu juga.

***

“Nanti Mak di rumah siapa yang mengurus?” Selepas Maghrib, masih mengenakan atasan mukena, Nur menghadap Mak yang sedang mengelap perabotan. Rok mukena dan selembar sajadah masih tergulung di dada. Mak tidak menyahut, hatinya masih mangkel.

Namun, Nur telah menghubungi budenya di Samarinda, memberitahukan bahwa lusa dirinya akan berangkat. Bagaimanapun, ia selalu goyah bila maknya yang meminta. Betapa hangat perasaan Mak mendengar kabar itu. Anaknya benar-benar akan keluar kandang: ke Samarinda nun jauh di sana. Kelak ketika Nur kembali, akan membangun rumah yang sudah sedemikian reyot, karena renovasi terakhir dilakukan ketika Nur hendak masuk SMK.

Esoknya, Mak melarang Nur mengajar ngaji lagi, kendati untuk yang terakhir kali. Ia mesti berberes. Pesanan baju senam telah  ia selesaikan semalam dan rampung dini hari. Plang usaha jahitnya sudah diturunkan Ali. Beberapa tetangga dekat dipamiti untuk meminta restu. Nur benar-benar akan meninggalkan tanah kelahirannya.

 
Esoknya, Mak melarang Nur mengajar ngaji lagi, kendati untuk yang terakhir kali. Ia mesti berberes.
 
 

“Tak usahlah kalian mengaji pada Nur. Apa orang tua kalian tak bisa bila mengajari alif ba saja?” ucap Mak ketika mengadang kawanan anak-anak yang hendak pergi ke mushala. Anak-anak itu bingung. Tak tahulah mereka harus berbuat apa: tetap ke mushala atau balik ke rumah. Bila nekat berangkat, maknya Nur tentu akan cerewet lagi. Namun, bila kembali pulang, mak mereka sendirilah yang akan mengomel karena mereka bolos mengaji.

“Nur mau ke Kalimantan, tak bisa mengajari kalian mengaji lagi,” lanjutnya mencebik.

Anak-anak itu saling pandang. Lantas, berbalik arah membawa segenap kekecewaan karena bakal kehilangan guru mengaji lagi. Mereka sudah kehilangan bapaknya Nur sebagai guru ngaji yang telaten dan penyabar. Kini harus menanggung nasib kehilangan Nur, sosok yang bersahaja dan sederhana dalam setiap tutur katanya.

Bila tak ada kegiatan mengaji, tak ada pula anak-anak yang berebut mikrofon masjid hendak azan. Pun tak ada yang melantunkan puji-pujian sembari menanti waktu shalat tiba. Lagi, dan lagi. Semua pergi satu per satu.

***

Di mushala berkumpul anak-anak membentuk barisan serupa hendak lomba baris-berbaris. Namun, bukan untuk itu. Manalah mungkin lomba baris-berbaris dilaksanakan malam hari. Toh, lomba semacam itu hanya digelar untuk memeriahkan acara 17-an saja.

 
Di mushala berkumpul anak-anak membentuk barisan serupa hendak lomba baris-berbaris. Namun, bukan untuk itu. Manalah mungkin lomba baris-berbaris dilaksanakan malam hari. 
 
 

Keramaian di mushala terdengar hingga rumah Nur. Nur dan maknya yang sibuk berkemas memutuskan keluar. Mereka memasang telinga baik-baik untuk menangkap suara itu. Lantunan shalawat lamat-lamat tertangkap oleh pendengaran mereka.

“Ada acara apa di mushala, Nur?”

Nur menggeleng. Seingatnya dalam waktu dekat tak ada kegiatan di mushala. Bila ada acara, Nur pasti akan dilibatkan. Demi menuntaskan rasa penasaran, gegas mereka pergi ke sana. Makin dekat, terdengar satu dua anak melantunkan shalawat dan puji-pujian. Disusul tetabuhan rebana yang makin memeriahkan suasana.

“Anak-anak menggelar hajatan kecil-kecilan untuk Mbak Nur, dengan harapan besok selamat sampai tujuan,” kata salah seorang wali santri yang menyambut kedatangan Nur dan maknya.

 
Mak mati kata. Rasanya tak pantas ia menginjakkan kaki di mushala.
 
 

Kening Nur berkerut. Ia terharu mendapat penghargaan sedemikian meriahnya. Namun, dengan dibuatkan acara semacam itu, justru makin memperberat langkahnya meninggalkan kampung halaman. Ia sapu pandangan ke seluruh ruangan mushala. Tak tahu ia harus berkata apa. Nur tersenyum tawar. Bola matanya menyiratkan ada sesuatu yang masih mengganjal dalam hatinya.

“Ali yang akan menggantikan Mbak mengajar mengaji,” sahut adiknya yang tiba-tiba menghamburkan diri memeluk Nur. Seketika mata itu membiaskan isyarat kelegaan.

Mak mati kata. Rasanya tak pantas ia menginjakkan kaki di mushala. Di hadapannya kini, kakak-beradik berangkulan. Diikuti pula anak-anak yang turut memeluk Nur dengan tangis yang ruah. Tak kuasa ia tahan air mata yang menganak sungai di kedua pipinya.

Malam itu, sebelum keberangkatan ke Samarinda, Nur dan Ali sama-sama berjanji menjaga amanah Bapak. Agar ilmu pengetahuan yang anak-anak di kampung itu kuasai diimbangi dengan pemahaman agama yang memadai. Di antara sedu sedan yang tercipta, di waktu yang sama, pada suatu ruang yang berbeda, ada wajah yang tengah tersenyum lembut turut menikmati suasana keharuan itu.

Kompak Yogyakarta, Mei 2022 

Finka Novitasari, mahasiswi Manajemen, Universitas Alma Ata, Yogyakarta. Aktif dalam Komunitas Penulis Anak Kampus (Kompak).


Mengapa Umat Islam Betah di Amerika?

Citra AS sebagai negara yang amat menjunjung tinggi hak asasi manusia, menegakkan supremasi hukum.

SELENGKAPNYA

Jamaah Ramaikan Situs Ziarah

Jamaah diminta patuhi aturan yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi.

SELENGKAPNYA

Muslim Indonesia Diajak Tahan Diri

OKI meminta India tegas menyelesaikan penghinaan terhadap Nabi Muhammad dan Islam.

SELENGKAPNYA
×