Suasana di dalam kereta rel listrik di masa pandemi, beberapa waktu lalu. Menurut Bank Dunia, jika ekonomi salah kelola, pandemi bisa mengganggu potensi pertumbuhan global satu dekade ke depan. | EPA
17 Jan 2021, 14:11 WIB

Mewaspadai Imbas Satu Dekade Salah Kelola Ekonomi Global

Jika ekonomi salah kelola, pandemi bisa mengganggu potensi pertumbuhan global satu dekade ke depan.

OLEH AGUNG P VAZZA

 

Dunia baru saja meninggalkan 2020, tahun yang disebut-sebut sebagai 'mimpi buruk' bagi perekonomian global. Pandemi Covid-19 menyebar di awal-awal tahun lalu, tak bisa disangkal mengakibatkan krisis kesehatan terburuk sepanjang sejarah.

Pandemi ini tidak hanya mengguncang sistem kesehatan, merontokkan perekonomian global, serta menguji ketahanan perekonomian setiap negara. Pemerintahan di banyak negara mengambil langkah dengan kebijakan extra ordinary guna meminimalkan kehancuran ekonomi sekaligus membantu kelompok rentan.

Terkait

Memasuki awal 2021, keberadaan vaksin untuk menghentikan pandemi memberi setitik harapan. Tidak hanya bagi krisis kesehatan, tapi juga bagi pemulihan perekonomian, global maupun regional. Setelah tahun lalu tercatat pertumbuhan global mengalami kontraksi sampai 4,3 persen, Bank Dunia memproyeksikan perekonomian global selama 2021 mengalami pertumbuhan empat persen. Meski disebut-sebut tahun ini sebagai tahun pemulihan, tapi pemulihan yang terjadi dinilai masih sangat rapuh.

Bukan hanya rapuh, pemulihan tersebut juga masih dibayangi risiko jangka panjang. Dalam Global Economic Prospects yang dipublikasikan awal pekan lalu, Bank Dunia menyebutkan jika pemulihan tersebut sampai mengalami 'mismanaged', maka diperkirakan pandemi mengganggu potensi pertumbuhan global dalam sepuluh tahun ke depan. Meski proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini meningkat cukup tajam, tapi proyeksi itu masih sekitar lima persen lebih rendah dibanding sebelum pandemi.

Pandemi pun sudah menyebabkan jutaan kematian, menjerumuskan jutaan dalam jurang kemiskinan, serta mengakibatkan tekanan besar pada aktivitas perekonomian dan pendapatan. Lantaran itu, Bank Dunia menyebutkan pemegang tampuk kebijakan di banyak negara perlu mengambil langkah tegas guna merespons kondisi tersebut.

 
Bank Dunia menyebutkan pemegang tampuk kebijakan di banyak negara perlu mengambil langkah tegas guna merespons dampak pandemi.
 
 

Lembaga tersebut menyarankan kebijakan prioritas untuk mengendalikan pandemi adalah memastikan vaksin terdistribusi merata. Sedangkan untuk mendukung perekonomian, kebijakan memicu siklus investasi berkelanjutan dan tidak terlalu bergantung pada utang pemerintah, dinilai penting menjadi prioritas.

"Perekonomian global memang terlihat sudah memasuki masa pemulihan yang rapuh, dan pemangku kebijakan menghadapi tantangan besar terkait banyak hal. Mulai dari kesehatan publik, manajemen utang, kebijakan anggaran, kebanksentralan, dan reformasi struktural. Tantangan tersebut perlu direspons untuk memastikan pemulihan yang masih rapuh bisa berdampak sekaligus menjadi landasan bagi pertumbuhan lebih tinggi," jelas Presiden Grup Bank Dunia, David Malpass, dalam siaran pers Bank Dunia, 5 Januari 2021.

 
Tantangan tersebut perlu direspons untuk memastikan pemulihan yang masih rapuh bisa berdampak sekaligus menjadi landasan bagi pertumbuhan lebih tinggi.
DAVID MALPASS, Presiden Grup Bank Dunia
 

David menambahkan, guna meminimalkan dampak pandemi dan kesulitan investasi, dibutuhkan upaya kuat untuk meningkatkan iklim bisnis, fleksibilitas tenaga kerja, pasar, serta menguatkan transparansi dan tata kelola.

Selain itu, Vice President dan Kepala Ekonom Grup Bank Dunia, Carmen Reinhart, mengingatkan masih rentannya sektor finansial akibat rapuhnya keuangan rumah tangga dan neraca keuangan bisnis, juga perlu mendapat perhatian. Apalagi, pada bagian lain Global Economic Prospects, disebutkan juga dalam jangka pendek tingkat ketidakpastian masih sangat tinggi.

Perbedaan pertumbuhan riil dengan angka proyeksi sangat mungkin terjadi. Salah satu faktor ketidakpastian itu tak lain masih terbukanya peluang pandemi gelombang kedua terjadi dan implementasi vaksin tertunda. Kondisi seperti ini berisiko membatasi ekspansi pertumbuhan global selama 2021 ke posisi 1,6 persen. Sedangkan skenario terbaiknya, upaya mengendalikan pandemi berhasil ditambah proses vaksinasi lebih cepat, sehingga pertumbuhan global bisa terakselerasi mendekati posisi lima persen.

photo
Estimasi dampak pandemi pada potensi pertumbuhan global berdasarkan prediksi Bank Dunia. - (Bank Dunia/Diolah APV)

Selanjutnya dipaparkan pula, di negara-negara maju, pemulihan yang mulai terlihat kembali terhambat lantaran munculnya gelombang baru pandemi, yang mengakibatkan pemulihan menjadi lambat. Amerika Serikat (AS) misalnya, Produk Domestik Bruto (PDB) 2021 diproyeksi di kisaran 3,5 persen, setelah sebelumnya diestimasi terjadi kontraksi 3,6 persen pada 2020. Di kawasan Eropa, pertumbuhan tahun ini diperkirakan di kisaran 3,6 persen, setelah terkontraksi 7,4 persen tahun sebelumnya. Jepang, yang mengalami kontraksi pertumbuhan 5,3 persen pada tahun lalu, sepanjang tahun ini diproyeksi tumbuh 2,5 persen.

Sementara di negara-negara berkembang, termasuk Cina, sepanjang tahun diperkirakan mencatat pertumbuhan mencapai lima persen, setelah terkontraksi 2,6 persen pada tahun lalu. Pertumbuhan Cina sendiri, setelah tumbuh dua persen tahun lalu, sepanjang tahun ini diperkirakan mengalami pertumbuhan tinggi, mencapai 7,9 persen. Jika Cina dikeluarkan dari kelompok emerging market dan negara-negara berkembang (EMDE), maka kelompok ini diproyeksi mengalami pertumbuhan 3,4 persen tahun ini, setelah terkontraksi lima persen.

photo
Skenario pertubuhan global berdasarkan riset Bank Dunia Januari 2021. - (Bank Dunia/Diolah APV)

Risiko Utang

Selain paparan proyeksi-proyeksi tersebut, digambarkan pula bagaimana pandemi menaikkan risiko terkait akumulasi utang, dan bagaimana pula risiko itu menghambat pertumbuhan tanpa upaya-upaya reformasi. Dijelaskan pula risiko-risiko terkait program pembelian aset sebagai instrumen kebijakan moneter di negara-negara berkembang.

"Pandemi jelas menyebabkan risiko utang menjadi lebih buruk bagi negara-negara berkembang. Sementara terus melemahnya prospek pertumbuhan justru lebih meningkatkan beban utang serta mengikis kemampuan bayar peminjam," jelas Plt Wakil Presiden Bank Dunia untuk Equitable Growth and Financial Institutions, Ayhan Kose.

Dia mengingatkan, komunitas global perlu cepat merespons guna memastikan akumulasi utang saat ini tidak berakhir dengan krisis utang. Negara-negara berkembang hampir pasti menghadapi kesulitan besar dalam dekade ke depan.

Seperti juga krisis-krisis sebelumnya, krisis akibat pandemi kali ini pun mengakibatkan imbas jangka panjang pada aktivitas perekonomian global dan regional. Kondisi ini akan memperlambat pertumbuhan yang diproyeksikan selama satu dekade ke depan karena berkurangnya investasi, juga tenaga kerja di banyak perekonomian.

Akibatnya pertumbuhan global dan regional akan sulit diharapkan terjadi pada dekade selanjutnya kecuali pemangku kebijakan mengimplementasikan reformasi secara komprehensif guna menguatkan fundamental bagi pertumbuhan berkelanjutan.

Terkait itu, Bank Dunia juga merekomendasikan pemangku kebijakan melanjutkan upaya menjaga pemulihan, serta melakukan peralihan secara gradual dari kebijakan menopang pendapatan menjadi kebijakan peningkatan pertumbuhan. Dalam jangka panjang, di negara-negara berkembang, kebijakan meningkatkan kesehatan publik, pendidikan, infrastruktur digital, praktik bisnis dan tata kelola, serta ketahanan iklim (lingkungan), dipercaya mampu memitigasi kerusakan ekonomi akibat pandemi.

photo
Para pembeli mengantre di depan pedagang kaus yang dijual di emperan. - (EPA)

Selanjutnya, dalam konteks melemahnya posisi fiskal dan bertambahnya utang, reformasi institusional guna mendorong pertumbuhan organis menjadi sangat penting. Di masa lalu, pertumbuhan dividen dari upaya reformasi diyakini bisa dipahami investor sehingga diharapkan meningkatkan arus investasinya.

Hanya saja, bank sentral di beberapa negara berkembang, untuk pertama kalinya menerapkan program pembelian aset untuk merespons tekanan finansial akibat pandemi. Melalui cara ini, pasar uang memang menjadi cukup stabil. Tapi, jika berkelanjutan dan terus menerus dipersepsikan sebagai upaya membiayai defisit fiskal, maka program ini bukan tak mungkin mengikis independensi bank sentral, serta mengkhawatirkan di sisi utang.

Pemulihan ekonomi yang lambat agaknya sulit dihindari. Namun, dengan meningkatkan produktivitas, pendidikan, investasi, realokasi sektoral dan tata kelola, bisa diharapkan mampu menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Dukungan fiskal jelas masih memainkan peran penting, meski perlu diupayakan keseimbangan risiko pertumbuhan utang dengan lambatnya pertumbuhan ekonomi dengan lebih memfokuskan pada mendorong pertumbuhan. Keseimbangan ini diyakini mampu menghindari munculnya potensi bibit-bibit masalah di masa depan.

 


×