Karyawan Sinovac melakukan penelitian pengembangan vaksin Covid-19 di laboratorium di Beijing, September lalu. | AP/Ng Han Guan
25 Nov 2020, 03:00 WIB

Cina Mulai Jalankan Vaksin Eksperimental

Vaksin ekeperimental Cina ini dipandang sebagai perjudian besar oleh pakar kesehatan.

OLEH FITRIYAN ZAMZAMI, RIZKY SURYARANDIKA

Ratusan orang, tua dan muda, perempuan dan lelaki tampak mengantre di depan salah satu klinik di Yiwu, sebuah kota di bagian timur Republik Rakyat Cina, bulan lalu. Dilaporkan BBC, mereka menanti giliran untuk disuntik dengan vaksin Covid-19 eksperimental.

Di Yiwu, setiap warga membayar sekira Rp 800 ribu untuk mendapatkan suntikan tersebut. Bahwa vaksin-vaksin tersebut belum melewati seluruh tahapan uji klinis agaknya tak jadi soal.

Sementara dunia masih berupaya menangkal pandemi, Pemerintah Cina belakangan melakukan perjudian besar. Mereka menyuntikkan vaksin-vaksin eksperimental dari berbagai pengembang kepada jutaan warga mereka.

Terkait

Di Kota Jiaxing, sebelah selatan Shanghai, yang disuntikkan pada warga adalah vaksin yang dikembangkan Sinovac. Perusahaan tersebut juga yang bekerja sama dengan PT Bio Farma untuk menyediakan vaksin Covid-19 bagi warga Indonesia. Associated Press melaporkan, vaksin ekperimental itu disuntikkan pada warga berisiko tinggi dan mereka yang harus menjalankan pekerjaan esensial di kota tersebut.

Pemerintah kota menyatakan, vaksinasi tersebut dilakukan dengan dasar penggunaan darurat. Pasalnya, sejauh ini kajian atas hasil uji klinis vaksin tersebut belum mendapat lampu hijau.

Sementara, perusahaan vaksin lainnya, China National Biotech Group (CNBG), menawarkan vaksin eksperimental secara gratis bagi mahasiswa yang akan bepergian ke luar negeri. Lebih dari 168 ribu orang telah mendaftar dalam program tersebut. Sebanyak 91 ribu dilaporkan akan disetujui mendapatkan vaksin.

Perusahaan-perusahaan obat di Cina sejauh ini memiliki lima kandidat vaksin yang dalam tahap akhir uji klinis, tetapi belum satu pun mendapatkan izin untuk penggunaan publik. Meski begitu, pejabat-pejabat Cina menjanjikan izin tersebut bakal keluar akhir tahun ini.

Selain untuk mahasiswa, vaksin CNBG telah disuntikkan pada pekerja medis dan karyawan perusahaan-perusahaan. Secara total ada 350 ribu orang divaksinasi. Jumlah tersebut bukan termasuk relawan yang mendaftar dalam uji klinis sebanyak 40 ribu orang.

"Saat ini tampaknya mahasiswa Cina yang hendak bepergian ke luar negeri punya keinginan kuat untuk divaksin," dilansir the Paper, salah satu media Pemerintah Cina.

Para mahasiswa di Cina dijadwalkan memulai semester mereka dalam waktu dekat. "Sangat berbahaya di sana, di kota tempat kami belajar. Di sana zona merah," kata Ouyang, salah seorang mahasiswa yang mendaftar untuk mendapatkan vaksinasi eksperimental.

Langkah Pemerintah Cina ini dipandang sebagai perjudian besar oleh pakar kesehatan. "Jika vaksin tak bekerja, mereka layaknya memberikan harapan palsu," ujar Sridhar Venkatapuram, spesialis bioetik di King’s College London’s Global Health Institute, kepada AP.

Sementara Sinopharm, perusahaan vaksin lainnya di Cina, melansir bahwa mereka telah menyuntikkan vaksin eksperimental kepada sejuta warga. Perusahaan itu mengeklaim, sejauh ini tak ada efek samping dari pemberian vaksin tersebut. “Kami belum menerima satu pun laporan soal reaksi berbahaya dan hanya beberapa yang menunjukkan gejala ringan,” kata Direktur Sinopharm Liu Jingzhen dalam wawancara, akhir pekan lalu.

Seperti vaksin dari Sinovac dan CNBG, vaksin yang dikembangkan Sinopharm juga baru pada tahap akhir uji klinis di sejumlah negara. Di antaranya di Uni Emirat Arab, Mesir, Yordania, dan Argentina.

Meski begitu, menurut Liu Jingzhen, penyuntikan vaksin eksperimental sejauh ini menunjukkan hasil menggembirakan. Hal itu, kata dia, menjadikan perusahaannya yang terdepan dalam pengembangan vaksin. “Pekerja konstruksi, diplomat, dan mahasiswa yang disuntik telah menyebar ke 150 negara dan sejauh ini tak ada yang terinveksi Covid-19,” ujar dia.

Ia mengungkapkan, kesimpulan itu diambil dari 56 ribu orang yang ikut serta dalam vaksinasi eksperimental sejak 6 November lalu dan telah bepergian ke luar negeri. “Contohnya, sebuah perusahaan transnasional memiliki 99 pekerja di luar negeri, 81 di antaranya divaksinasi. Saat ada penularan di kantor, 10 dari 18 orang yang tak divaksin terinfeksi dan yang divaksin tak ada yang tertular,” ujarnya.

Ia menyatakan, Sinopharm dapat memproduksi sekira 1 miliar dosis vaksin pada tahun depan. Ia juga menjanjikan akan mematuhi perintah Presiden Cina Xi Jinping bahwa vaksin yang dihasilkan di Cina akan digunakan untuk kepentingan dunia.

Terlepas dari hasil-hasil tersebut, menurut pejabat pengawas pengembangan vaksin di Komisi Kesehatan Nasional Cina, Zheng Zhongwei, seluruh yang menerima vaksin eksperimental terus dipantau. “Mereka dipantau terkait reaksi vaksinasi dan sejauh ini tak ada respons selain ruam dan demam ringan,” katanya dalam pernyataan pada Selasa (24/11).

Cina saat ini menjadi salah satu negara yang terlibat perlombaan vaksinasi. Belakangan Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Jerman mengumumkan rencana memulai vaksinasi Covid-19 di negara mereka pada Desember tahun ini.

photo
Logo perusahaan farmasi Pfizer di markas besarnya di Manhattan, New York, Amerika Serikat - ()

Inggris dapat memberikan persetujuan penggunaan vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech paling cepat pekan ini yang lebih cepat dari otoritas AS. Pfizer dan BioNTech dapat memperoleh otorisasi darurat AS dan Eropa untuk vaksin Covid-19 mereka bulan depan setelah hasil uji coba terakhir menunjukkan tingkat keberhasilan 95 persen dan tidak ada efek samping yang serius.

Moderna pada pekan lalu merilis data awal untuk vaksinnya yang menunjukkan efektivitas 94,5 persen. Hasil yang lebih baik dari perkiraan kedua vaksin tersebut. Keduanya dikembangkan dengan teknologi messenger RNA (mRNA).

Kepala program vaksin AS, Moncef Slaoui, mengatakan, orang Amerika pertama yang menerima vaksin bisa mendapatkannya segera setelah 11 Desember. Mengutip sumber-sumber pemerintah, media Inggris Telegraph mengatakan, Layanan Kesehatan Nasional Inggris telah diberi tahu untuk siap mengatur vaksinasi pada 1 Desember. Inggris secara resmi meminta regulator medisnya, MHRA, pada pekan lalu untuk menilai kesesuaian vaksin Pfizer-BioNTech.

Kemudian, Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn mengatakan, negaranya dapat mulai memberikan suntikan vaksin Covid-19 paling cepat bulan depan. Dia menyatakan Spanyol dan Jerman adalah negara Uni Eropa pertama yang memiliki rencana vaksinasi lengkap. 

Vaksin gratis

Sedangkan, Kementerian Kesehatan Arab Saudi berencana memberikan vaksin gratis kepada 70 persen warga dan ekspatriat di negaranya yang belum terjangkit virus korona. Para pejabat berharap, vaksin dapat memenuhi target untuk penyuntikan pada akhir tahun depan.

"Mereka yang belum dites positif Covid-19 akan diberi prioritas dalam kampanye vaksin dalam beberapa bulan mendatang," kata Asisten Wakil Menteri Bidang Pencegahan Kementerian Kesehatan Saudi, Dr Abdullah Asiri, dikutip Arab News, Selasa (24/11). 

Namun, dia menegaskan, warga di bawah 16 tahun tidak boleh divaksinasi kecuali penelitian atau tes yang membuktikan adanya kebutuhan. Dia mencatat bahwa Kerajaan berencana untuk mengumumkan jadwal vaksinasi yang jelas untuk negara itu dalam beberapa pekan mendatang.

“Kerajaan bekerja di dua jalur untuk mendapatkan vaksin, melalui organisasi Covax, di mana G-20 memiliki peran dalam menciptakan dan mendanai,” katanya.

Menurut dia, Saudi akan mendapatkan vaksin dalam jumlah besar melalui fasilitas ini. “Sedangkan jalur kedua melakukan kontrak langsung dengan perusahaan besar untuk menutupi celah, yang tidak dapat ditutup melalui Covax,” kata Asiri.

Covax adalah inisiatif global yang bertujuan untuk bekerja dengan produsen vaksin guna menyediakan akses yang adil bagi negara-negara dalam mendapatkan vaksin yang aman dan efektif setelah dilisensikan dan disetujui.

Asiri mencontohkan, untuk mendapatkan vaksin yang efektif diperlukan rencana persiapan dan rantai pasokan yang panjang serta waktu untuk vaksin tersebut tiba dalam jumlah yang cukup besar ke negara-negara yang membutuhkannya. Kerajaan juga berencana untuk mengumumkan jadwal yang jelas dari kedatangan vaksin pada beberapa minggu mendatang.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Saudi, Dr Muhammad Al-Abd Al-Aly mengatakan, kementerian hanya akan memberikan vaksin Covid-19 yang efektif melawan virus, tidak memiliki efek samping, dan disetujui oleh otoritas terkait.  

Arab Saudi mencatat 19 kematian baru terkait Covid-19 pada Senin (23/11), menjadikan 5.796 jumlah warga di negara itu yang meninggal setelah tertular virus. Selain itu, ada 231 kasus baru yang dilaporkan di Kerajaan sehingga totalnya sejauh ini menjadi 355.489.  

Menteri Kesehatan Yordania, Nazir Obeidat juga mengatakan, vaksin virus Covid-19 akan diberikan kepada warga Yordania secara gratis. Proses pemberian vaksin akan disesuaikan dengan prioritas tertentu.

"Ada rencana nasional terpadu untuk memvaksinasi kelompok yang membutuhkan vaksin virus korona dan memastikan bahwa tidak ada dosis yang hilang," kata Obeidat dalam konferensi pers dilansir dari Ammon News pada Selasa (24/11).

Obeidat menyebut, memvaksinasi 20 persen warga dengan vaksin Covid-19, yang tidak diwajibkan akan melindungi masyarakat. Walau sudah ada vaksin, jumlah tempat tidur yang dialokasikan untuk pasien Covid-19 terus disiapkan bagi yang memerlukan perawatan di rumah sakit.

"Pekerjaan sedang dilakukan untuk meningkatkan jumlah tempat tidur, mencatat bahwa stabilitas jumlah kasus yang dilaporkan selama minggu lalu adalah indikator yang bagus," ujar Obeidat.

Obeidat telah memperbarui protokol pengobatan yang mencakup antivirus dan obat lain sesuai dengan rekomendasi internasional. Obeidat menunjukkan, situasi epidemiologi di Yordania masih serius dan membutuhkan kepatuhan terhadap semua tindakan keselamatan dan pencegahan.

Pemerintah Filipina juga mengatakan, sekitar 60 juta orang akan menerima vaksin virus korona tahun depan. Program pemerintah senilai lebih dari 73 miliar peso atau 1,4 miliar dolar AS ini bertujuan mengembangkan imunitas di masyarakat Filipina.

Pemantau upaya Pemerintah Filipina mengamankan vaksin, Carlito Galvez Jr mengatakan, negosiasi dengan empat perusahaan Barat dan satu perusahaan Cina tengah dilakukan. Filipina melakukan negosiasi dengan Pfizer dari AS dan Sinovac dari Cina.  

Galvez mengatakan, Pemerintah Filipina juga bernegosiasi dengan perusahaan vaksin yang bermarkas di Inggris, AstraZeneca. "Kami menargetkan masyarakat yang paling rentan dan miskin di wilayah yang paling terdampak," kata Galvez, Selasa (24/11).

Presiden Filipina Rodrigo Duterte menginginkan personel polisi dan militer juga diprioritaskan untuk mendapatkan vaksin. "Saya butuh polisi dan tentara yang sehat karena jika mereka sakit tidak ada yang bisa saya andalkan!" kata Duterte.


×