Edisi | Sabtu, 13 Jumadil Awwal 1440 / 19 Januari 2019

Dzikir Nasional 2017. Ribuan Jamaah mengikuti Szikir Nasional di Masjid At-tin, Jakarta, Ahad(31/12). | Sumber Foto:Republika/Iman Firmansyah

Dzikir Nasional Didik Mental Umat


Republika ingin menggaungkan semangat menebar kebaikan dan kepedulian.
Oleh : | wachidah handasah

JAKARTA -- Republika akan kembali menyelenggarakan Dzikir Nasional. Bertempat di Masjid at-Tin, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Dzikir Nasional akan digelar pada 29-31 Desember 2018.

Perhelatan ini dinilai sebagai salah satu cara untuk mengisi malam pergantian tahun dengan kegiatan religius. Ada lantunan zikir yang menenangkan jiwa serta tausiyah-tausiyah berkualitas dari para ulama.

Dalam pandangan Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustaz Tengku Zulkarnain, Dzikir Nasional yang digelar setiap tahun oleh Republika merupakan acara yang mampu mendidik mental umat. Ia pun mengapresiasi Republika yang istiqamah menggelar kegiatan ini sejak tahun 2002.
"Manfaat acara ini sangat besar,?? ujar Ustaz Zulkarnain.

Ia pun bercerita, beberapa tahun lalu saat malam tahun baru, pesta petasan di kawasan TMII sangat ramai dan berlangsung terus-menerus hingga sekitar satu jam. Namun, tahun lalu hanya sedikit yang membakar petasan di TMII, sementara peserta Dzikir Nasional semakin banyak.

"Artinya, apa yang dibuat Republika (Dzikir Nasional) untuk mendidik mental umat sudah kelihatan hasilnya, banyak orang yang mendapat hidayah dan bertobat ketika mendengarkan ceramah dari ulama di acara Dzikir Nasional," kata Ustaz Zulkarnain saat ditemui Republika, Rabu (5/12).

Ia menyampaikan, jamaah yang mengikuti Dzikir Nasional sangat khusyuk, bahkan meneteskan air mata, saat berzikir bersama Ustaz Arifin Ilham. Mereka juga menyimak dan meresapi tausiyah dari para ulama.

Karena itu, Ustaz Zulkarnain mendorong agar kegiatan Dzikir Nasional dijaga secara konsisten. Saat berbuat baik jangan terpengaruh oleh hasil, mungkin saja ada orang yang memandang hasilnya sedikit. Namun, bagi Allah SWT, tidak ada orang berbuat baik dinilai hasilnya sedikit.

"Maka, Republika harus mengambil sikap dan pemahaman bahwa berbuat baik itu adalah perintah Allah SWT, hasilnya sedikit atau banyak, kita tidak peduli, yang penting jalan terus,?? ujar dia.

Ustaz Zulkarnain melihat, manfaat atau hasil dari Dzikir Nasional yang digelar setiap tahun sangat banyak. Menurutnya, banyak jamaah di majelis yang ia pimpin, mengaku mendapat hidayah saat menghadiri Dzikir Nasional.

"Republika sudah mengambil jalan yang benar ketika menggelar Dzikir Nasional setiap akhir tahun. Masyarakat diberi hidangan zikir dan tausiyah dalam acara ini,?? katanya.

Dzikir Nasional tahun ini mengusung tema "Menebar Kebaikan dan Menguatkan Kepedulian??. Wakil Pemimpin Redaksi Harian Republika Nur Hasan Murtaji menyampaikan, tema tersebut diangkat agar menjadi semangat bersama.

Ia menjelaskan, saat ini Indonesia sedang tertimpa banyak bencana, seperti gunung meletus, gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, dan sebagainya.

"Semua bencana tersebut akan terasa ringan bila seluruh bangsa Indonesia saling membantu dan bersinergi meringankan beban penderitaan orang-orang yang tertimpa musibah," kata Hasan.

Ia mengatakan, gotong royong atau bekerja bersama dengan satu tujuan akan mempermudah bangsa Indonesia menyelesaikan berbagai persoalan. Karena itu, Republika ingin menggaungkan semangat menebar kebaikan dan menguatkan kepedulian melalui Festival Republik - Dzikir Nasional.

Selain itu, lanjut Hasan, bangsa Indonesia juga sedang menghadapi tahun politik menjelang kontestasi demokrasi, yakni Pilpres dan Pileg 2019. Jangan sampai kontestasi ini membuat bangsa Indonesia terpecah belah akibat pilihan politik yang berbeda. Pilihan politik adalah hak masing-masing warga negara, tetapi kepedulian kepada sesama adalah kewajiban sebagai bangsa Indonesia dan umat manusia.

"Kita harus saling membantu, siapa pun mereka, yang membutuhkan pertolongan kita walau berbeda pilihan politik,?? ujar dia.

Ketua Panitia Festival Republik - Dzikir Nasional, Ismail Lazarde, mengatakan, di penghujung tahun Masehi, sebagian masyarakat cenderung merayakan malam pergantian tahun dengan berkumpul, bersenang-senang, dan berpesta. Bahkan, tidak sedikit anak muda yang merayakannya tanpa batasan hingga berisiko merugikan dirinya sendiri.

"Menjelang pergantian tahun, Republika bekerja sama dengan mitra usaha berencana mengisi acara tahunan yang selalu ditunggu-tunggu dengan menggelar serangkaian kegiatan yang bermanfaat, bertajuk Festival Republik - Dzikir Nasional 2018," katanya. 

wachidah handasah
Redaktur