Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

Hakikat Keadilan

Salah satu perhatian al-Mumtahanah adalah pentingnya berbuat adil terhadap siapa saja sekalipun berbeda agama.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Surah an-Nisa diturunkan sesudah al-Mumtahanah. Hal itu mengisyaratkan pesan penting. Tema pokok surah an-Nisa adalah berbuat adil terhadap kaum yang lemah.

Karena itu, surah tersebut dinamakan an-nisa (perempuan) sebagai representasi kaum lemah. Sebagian ulama menyebutkan, surah an-Nisa adalah suratul mustadh’afiin (surahnya kaum dhuafa). 

Memang, dalam surah ini ada beberapa penyebutan mengenai kaum dhuafa. Tidak hanya memakai istilah an-nisa, tetapi juga yatama (anak-anak yatim) dalam ayat kedua dalam surah tersebut. Begitu pula sufaha (orang yang belum sempurna akalnya), yakni dalam ayat kelima. 

Bila diungkapkan hubungan antara surah al-Mumtahanah dan an-Nisa, akan tampak hal-hal yang menarik. Umpamanya, surah an-Nisa menekankan aspek keadilan dalam konteks keberpihakan terhadap kaum yang lemah. Sementara itu, ayat-ayat dalam surah al-Mumtahanah memaknai keadilan dalam hubungannya dengan orang-orang yang berbeda agama. 

Pada ayat kedelapan dan sembilan di dalam al-Mumtahanah, misalnya, terdapat penegasan bahwa Allah tidak melarang orang beriman untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka yang beda agama. Hal itu selama kaum non-Muslim tersebut tidak memerangi Mukminin dan tidak pula mengusir mereka.

Kemudian, Allah juga menegaskan bahwa sikap adil yang seperti itu termasuk dalam perkara-perkara yang sangat disukai-Nya: “Innallaha yuhibbul muqsithiin.” 

Sebaliknya, jika orang-orang yang beda agama itu memerangi Mukminin dan mengusirnya dari tanah air mereka maka—demikian firman Allah—tidak boleh ada keberpihakan terhadap kelompok itu. Sebab, kalangan non-Muslim tersebut telah berlaku zalim.

Wa man yatawallahum fa ulaaika humuzh zhaalimuun.” Perhatikan kata tuqsithuu (berbuat adil) dan azh-zhaalimuun (berbuat zalim) pada teks asli ayat di atas.

Hal itu menunjukkan, salah satu perhatian al-Mumtahanah adalah pentingnya berbuat adil terhadap siapa saja sekalipun berbeda agama. Dari sini, kita mengerti rahasia, surah an-Nisa turun usai al-Mumtahanah.

 
Maksudnya, surah itu mendefinisikan keadilan sebagai keberpihakan terhadap mereka yang tidak berdaya.
 
 

Bahwa tema pokok surah an-Nisa adalah keharusan berbuat adil kepada mereka yang lemah. Maksudnya, surah itu mendefinisikan keadilan sebagai keberpihakan terhadap mereka yang tidak berdaya. Misalnya, kaum perempuan, anak-anak yatim, dan mereka yang belum sempuna akalnya.

Perhatikan awal surah an-Nisa, yang menegaskan penciptaan kaum perempuan berasal dari laki-laki. “Ittaquu Rabbakumul ladzii khalaqakum min nafsiw waahidah.” Artinya, kekuatan kaum perempuan dipandang ada ketika bersandar pada laki-laki. Inilah makna kata qawwam pada an-Nisa ayat ke-34. Dari kata qama (berdiri), yakni tempat bersandarnya kaum perempuan adalah para suami. 

Dengan penggambaran di atas, jelaslah bahwa keadilan yang sebenarnya bukan seperti yang dipersepsikan banyak orang, semisal “sama rasa, sama rata”. Rasa adil itu diwujudkan dengan bersikap proporsional. 

Yang kuat harus berpihak kepada yang lemah. Yang berbeda agama harus saling menghormati keyakinan masing-masing. 

Perlakuan Aset Nonhalal, Dimusnahkan atau Disedekahkan?

Ada beragam kategori dana atau aset nonhalal.

SELENGKAPNYA

Muslimah Merancap, Bolehkah?

Ulama berbeda pendapat mengenai apakah Muslimah boleh masturbasi.

SELENGKAPNYA

Divergensi Sufi Sunni dan Sufi Falsafi

Dari empat periode perkembangan tasawuf, dapat dirumuskan dua aliran utama tasawuf.

SELENGKAPNYA