vp,,rm
Muslimah (Ilustrasi) | PIXABAY

Fikih Muslimah

Muslimah Merancap, Bolehkah?

Ulama berbeda pendapat mengenai apakah Muslimah boleh masturbasi.

Kontroversi perihal masturbasi memang terus menjadi topik hangat berbagai kalangan, baik generasi muda maupun tua. Pada abad ke-20, oleh banyak kalangan, aktivitas yang dikenal pula dengan istilah onani itu dianggap sebagai kegiatan yang tak baik dan berdampak pada kerugian fisik atau mental.

Pandangan tersebut bertolak belakang dengan pandangan yang telanjur dianut oleh keyakinan kuno, yakni tidak akan menyebabkan munculnya birahi tanpa kendali atau efek samping lainnya. Justru, beberapa ahli berpendapat, kegiatan yang dalam bahasa Melayu dikenal dengan merancap itu disebut-sebut bisa meningkatkan disfungsi seksual dan mendorong kepercayaan diri seseorang.

Masturbasi menarik perhatian para pengkaji fikih di generasi salaf. Ada banyak istilah, jelas pakar fikih terkemuka asal Arab Saudi, Syekh Salman bin Fahd, untuk menyebut masturbasi. Ada kata istimna’, khaskhasah, dan ‘adah sirriyyah.

Agar lebih jelas, definisi masturbasi, menurut anggota Komisi Fatwa Uni Eropa itu, adalah perangsangan seksual yang dilakukan dengan sengaja pada alat kelamin. Aktivitas tersebut dimaksudkan agar si pelaku mendapatkan kepuasan seksual. Medianya bisa beragam, dengan atau tanpa alat bantu.

Lalu, bagaimana kajian fikih menyikapi masturbasi, baik yang dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan? "Para ulama berselisih pandangan," urai Syekh Salman.

Wakil Sekjen Persatuan Ulama se-Dunia itu menjelaskan, kelompok pertama mengatakan hukum masturbasi haram mutlak. Pendapat ini banyak dipakai oleh Mazhab Syafii, Maliki, dan salah satu riwayat Hanbali. Ada rangkaian alasan mengapa onani haram mutlak menurut mereka. Pelampiasan seksual yang legal dan sah menurut Islam hanya lewat pernikahan.

Kelompok ini mengutip surah al-Mu’minun ayat 5-6: “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka.” Hadis Anas bin Malik, yang belakangan dianggap lemah, menjadi salah satu dalil mereka.

 

 

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka

 

QS al-Mu'minun ayat 5-6
 

 

Hadis ini menyatakan, Allah SWT tidak akan melihat tujuh golongan, di antaranya adalah mereka yang mencari kepuasan seksual dengan tangan sendiri. Onani dianggap tak selaras dengan maksud pernikahan, yakni memperbanyak keturunan. Mereka memperkuat pandangan ini lewat penelitian kedokteran tentang efek samping masturbasi.

Opsi yang kedua, yakni masturbasi hukumnya boleh mutlak. Pendapat ini merupakan pilihan Ahmad bin Hanbal dalam salah satu riwayat, Ibn Hazm, Mujahid, Amar bin Dinar, Ibn Juraih, dan Ibn Abbas. Imam as-Syaukani dalam kitabnya yang berjudul Bulugh al-Muna, membantah ragam alasan kelompok pertama.

Ayat ke-5 dan 6 surah al-Mu’minun itu bukan berarti larangan akan masturbasi. Sedangkan, hadis tentang nikah tangan, tidak cukup kuat dijadikan dasar hukum.

Ini mengingat status hadis-hadis tersebut lemah. Anggapan masturbasi mengaburkan maksud pernikahan memang benar. Ini bila konteks masturbasi itu dilakukan oleh seorang istri atau suami. Bila bujang dan lajang, alasan itu kurang tepat.

Pihak yang ketiga, memilih untuk memerinci hukum masturbasi, yakni haram jika tidak mendesak dan boleh dalam kondisi darurat, seperti khawatir berbuat zina, fitnah, dan sakit. Ini merupakan pandangan sejumlah ulama Mazhab Hanbali dan Hanafi.

photo
Ulama berbeda pendapat mengenai apakah Muslimah boleh masturbasi. EPA-EFE/ARMANDO BABANI - (EPA)

Menurut al-Buhuti dalam kitab Syarh al-Muntaha, seorang Muslim atau Muslimah yang bermasturbasi tanpa alasan yang kuat, maka haram hukumnya. Ia bisa dikenakan hukuman berupa takzir. Ini lantaran masturbasi masuk kategori maksiat.

Jika dilakukan karena terpaksa, takut berzina atau jatuh sakit, tak jadi soal. “Bahkan lebih utama,” tulisnya.

Ibnu Taimiyyah dan Ibn al-Qayyim memiliki pandangan yang sama.

Di pengujung kajiannya, Syekh Salman yang merupakan alumnus Universitas Muhammad bn Sa’ud di Qashim, Arab Saudi, itu mengatakan, opsi yang lebih tepat adalah opsi yang ketiga. Masturbasi boleh dilakukan karena alasan terpaksa, seperti belum mampu menikah dan sudah berusaha puasa atau lantaran suami berada di luar kota.

Akan tetapi, tetap dengan catatan agar tidak dilakukan secara rutin dan terlalu sering. Hal ini mengingat efek samping dan risiko akibat masturbasi yang melebihi batas. Syekh Salman menyarankan, supaya memperbanyak aktivitas positif untuk mengalihkan dari keinginan masturbasi.

Haram mutlak

Mazhab Syafii, Maliki, dan salah satu riwayat Hanbali.

Boleh mutlak

Ahmad bin Hanbal dalam salah satu riwayat, Ibn Hazm, Mujahid, Amar bin Dinar, Ibn Juraih, dan Ibn Abbas.

Boleh atau haram dengan rincian

Sejumlah ulama Mazhab Hanbali dan Hanafi.

Divergensi Sufi Sunni dan Sufi Falsafi

Dari empat periode perkembangan tasawuf, dapat dirumuskan dua aliran utama tasawuf.

SELENGKAPNYA

Makna Spiritual Thaharah: Rahasia Tayamum

Tayamum bisa mengganti fungsi wudhu dan mandi junub

SELENGKAPNYA

Tragedi 30 September 1965, Sejumlah Versi

Tak lama setelah peristiwa G-30-S/PKI, bermunculan berbagai analisis soal pemicunya.

SELENGKAPNYA