Tukang Doa Keliling | Daan Yahya/Republika

Sastra

Tukang Doa Keliling

Cerpen Muhammad Subhan

Oleh MUHAMMAD SUBHAN

Setelah menamatkan pendidikan dari sebuah dayah, kau pulang dengan harapan besar. Tak tanggung-tanggung, cita-citamu ingin berkontribusi untuk kampung halaman. Namun, kepulanganmu tak seindah pikiranmu. Sejak kau pulang enam bulan lalu, kau kesulitan mendapatkan pekerjaan. Menjadi imam masjid tidak memungkinkan, karena masjid kampung sudah punya imam tetap. Mengajar di madrasah pun susah, karena para pengajarnya semua dari keluarga besar yayasan yang mengelola sekolah itu. Sementara di sekolah negeri sudah kelebihan guru honorer. 

Kau bukan tipe orang yang mudah menyerah. Meski setiap hari kau harus mendengar ocehan ibumu yang gelisah melihat kau menganggur, kau tetap tenang. Ada saja caramu mengisi hari-hari yang hampa, dari membantu tetangga mencangkul kebun hingga mengajarkan anak-anak mereka mengaji. Namun, semua itu bukanlah pekerjaan tetap. Ibumu mulai khawatir dan sering menatap dirimu dengan sorot mata kasihan.

"Apa tak ada niat kau balik ke kota mencari kerja yang lebih layak?” kata ibumu, suatu hari menjelang senja.

Kau menarik napas, kemudian meneguk sisa kopi di meja.

"Tidak, Mak. Aku berencana menjadi tukang doa keliling di kampung kita,” jawabmu ringan, seolah tak punya beban.

"Apa? Tukang doa? Siapa yang mau bayar kau buat baca doa? Lagi pula, mendoakan orang bukan pekerjaan, kau harus melakukannya dengan ikhlas, tanpa berharap imbalan,” sela ibumu agak sedikit terkejut.

Kau tertawa kecil, meski di dalam hatimu kau merasakan perih yang dalam. Siapa yang akan menyewa jasa tukang doa di kampungmu? Tengku dan Imam yang alim-alim banyak dan sering dipanggil orang memimpin doa dalam setiap acara. Sedangkan kau baru lulus sekolah. Tapi itulah dirimu, tak mudah menyerah.

Dan, suatu sore, ketika kau sedang duduk di beranda dengan secangkir kopi, tetanggamu Apa Mae datang tergopoh-gopoh.

"Karni, bisa tolong bantu malam ini ke rumah saya? Ada tahlilan untuk kematian mertua saya," ucap Apa Mae dengan wajah penuh harapan. Dia tahu kau baru balik dari kota karena sekolahmu telah selesai.

Seketika kau menyambut tawaran Apa Mae dengan gembira. Tanpa basa-basi kau mengangguk, mengiyakan, lalu malamnya kau bergegas datang ke rumah Apa Mae, memimpin doa dengan tenang dan khusyuk. Suaramu bergema lembut di ruang tengah rumah kecil itu, mengiringi alunan tahlil yang diikuti gelengan kepala ke kiri dan ke kanan para warga yang diundang.

"Terima kasih. Ini ada sedikit rezeki untukmu," ucap Apa Mae seusai acara tahlilan sambil memasukkan amplop yang kau raba isinya agak sedikit tebal. Amplop itu kau terima dengan bahagia, kemudian kaumasukkan ke dalam kopiah.

Mulanya kau menolak halus, tapi Apa Mae memaksakannya.

"Anggap saja ini tanda terima kasih," kata Apa Mae lagi. "Kau anak dayah, doa-doa kau bagus, kami senang mengaminkannya.”

Mendengar pujian itu, kau tersenyum bangga dan bahagia. Di kepalamu profesi tukang doa keliling sudah lekat membayang. Pikirmu, itu prospek yang bagus di masa depan, di tengah gelombang PHK di mana-mana, dan tak banyak orang melakukannya, kecuali sambilan saja. Dan, kau akan mengemas pekerjaanmu itu secara profesional. Membangun sistem manajemennya. Kalau kau sukses kelak, barangkali kau akan membutuhkan seorang asisten yang mencatat tanggal-tanggal penting ke mana saja kau akan dipanggil orang.

 

***

 

Sejak malam itu, kabar mengenai dirimu sebagai tukang doa dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut. Mulai dari acara tahlilan, syukuran, pernikahan, hingga kematian kau diundang untuk datang memimpin doa. Tentu, setiap kali selesai kau berdoa, kau diberikan amplop sebagai bentuk terima kasih. Kau tak pernah meminta, tetapi orang-orang di kampungmu mulai terbiasa memberikan sedikit uang sebagai tanda terima kasih dan penghargaan.

Lama-kelamaan, kau tidak lagi perlu menunggu panggilan. Kau membuat selebaran kecil yang kausebarkan di warung-warung dan pasar, termasuk di keude kupi. 

"Jasa Tukang Doa Keliling. Siap dipanggil untuk acara tahlilan, syukuran, pernikahan, kematian, kelahiran, dan acara lain yang membutuhkan doa," demikian bunyi selebaran yang kau sebarkan itu, termasuk di media sosial.

Orang-orang kampungmu yang awalnya ragu, akhirnya mulai menggunakan jasamu. Dalam acara pernikahan, misalnya, kau akan membaca doa panjang, meminta keselamatan dan keberkahan bagi pengantin baru. Di acara syukuran, kau berdoa memohon kelancaran rezeki bagi yang mengadakan. Dan di tahlilan, kau mendoakan arwah yang telah pergi, juga doa kesehatan dan umur panjang untuk ahli waris yang masih hidup.

Lambat laun, pendapatan ekonomimu mulai stabil dan menjanjikan. Kau tidak kaya, tetapi kau bisa menghidupi dirimu sendiri dan membantu ibumu. Namun, di tengah rutinitasmu, kau mulai merasakan ada sesuatu yang ganjil. Ada perasaan yang tak enak selalu menghantui dirimu siang dan malam.

Suatu sore, saat kau sedang beristirahat, kau merenung. Kau teringat saat belajar di dayah, guru-gurumu mengajarkan bahwa doa adalah urusan keikhlasan, tidak boleh dijadikan ajang mencari keuntungan duniawi. Lalu, apakah yang kau lakukan sekarang melanggar ajaran itu?

"Aku membaca doa untuk orang-orang yang membutuhkan. Mereka yang meminta, bukan aku yang menawarkan," gumammu mencoba menenangkan diri. Tapi tetap saja ada sesuatu yang mengusik batinmu.

Beberapa hari kemudian, Tengku Imum, seorang tokoh agama di kampungmu datang menjumpaimu di rumah.

"Apa yang kaulakukan itu bagus. Tapi hati-hati, jangan sampai niatnya melenceng," ujar Tengku Imum memberi nasihat. Tengku Imum salah seorang tokoh agama di kampugmu yang juga sering dipanggil orang untuk berdoa.

Kau tertegun. Apakah yang kaulakukan salah? Apakah kau hanya menggunakan ilmu agama untuk kepentingan dunia? Keraguan itu kian menghantui pikiranmu. Pertanyaan lain, apakah kehadiranmu sebagai tukang doa menjadi saingan para tukang-tukang doa sebelumnya yang tanpa melabeli dirinya sebagai tukang doa? Entahlah. Berbagai pikiran berkecamuk di dadamu.

 

***

 

Suatu hari, dalam perjalanan pulang dari memimpin doa di rumah seorang warga yang baru melahirkan, kau bertemu seorang tua berjanggut putih. Lelaki tua itu duduk di depan meunasah kecil di ujung kampung, seolah menunggu sesuatu. Orang tua itu menyapamu ramah, dan kau menjawab salamnya.

“Maaf, Pak, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyamu sopan penuh hormat.

Orang tua itu menggeleng. "Tidak. Tapi saya tahu kamu. Kau sudah dikenal sebagai tukang doa di kampung ini."

Kau tersenyum tipis. Dalam hatimu ada rasa bahagia dan bangga. 

"Oh, saya hanya membantu orang-orang yang membutuhkan saja, Pak. Sama seperti jasa-jasa lainnya,” jawabmu merendah.

Lelaki tua itu menatapmu teduh, tetapi tatapan itu seakan menembus jiwamu. "Hati-hati, Nak. Jangan sampai kau menjual sesuatu yang tak bisa dijual."

Tiba-tiba kau terdiam mendengar ucapan orang tua itu. Kata-kata orang tua itu begitu menusuk hingga membuatmu tak nyaman. Sebelum kau sempat bertanya lagi, lelaki tua itu menghilang di balik keremangan malam.

Keesokan hari, ketika kau sedang bersiap pergi memimpin doa di acara yang lain, seorang tamu tak terduga datang ke rumah itu. Tamu tersebut adalah Tengku Imum, tokoh agama yang dihormati di kampung itu.

"Aku senang kau diundang banyak orang. Tapi aku mengingatkan lagi, bahwa doa itu urusan hati. Jangan sampai hatimu terjebak dengan amplop-amplop itu. Aku tahu kau tidak memintanya, tapi terkadang, cobaan terbesar bukan dari apa yang kita ambil, melainkan dari apa yang kita biarkan diterima," ujar Tengku Imum dengan nada penuh perhatian.

Kau terdiam. Hatimu bergejolak, dan keraguan yang selama ini kau tahan-tahan akhirnya pecah. Kau membenarkan doa adalah soal keikhlasan, dan tak bisa diukur dengan materi apa pun.

Malam itu, kau tidak bisa tidur. Kata-kata Tengku Imum dan lelaki tua misterius di depan meunasah malam itu terus terngiang di kepalamu. Apakah kau benar-benar telah menyimpang dari jalan yang diajarkan agama? Apakah niatmu yang semula tulus sudah berubah? Entahlah.

 

***

 

Beberapa pekan setelah pertemuan dengan Tengku Imum kau mulai menarik diri. Kau menolak tawaran untuk memimpin doa dari warga. Orang-orang kampung menjadi kebingungan, tapi kau merasa perlu waktu untuk merenung.

Pada suatu malam, saat kau sedang berjalan menuju meunasah untuk salat Isya, seorang anak kecil berlari menghampirimu.

"Ada yang mau bertemu Abang!" seru anak itu terengah-engah.

Kau mengerutkan kening. "Siapa?"

Anak itu tak menjawab, hanya menarik tangannya menuju rumah Tengku Imum. Di sana, Tengku Imum terbaring lemah di ranjangnya, wajahnya pucat.

"Doakan aku ... aku butuh doa darimu. Ini mungkin saat terakhirku," ucap Tengku Imum lirih.

Kau terdiam. Selama ini, Tengku Imum yang mengingatkanmu tentang pentingnya keikhlasan, kini meminta doa darimu.

"Tolong doakan aku. Doa yang keluar dari hatimu yang paling tulus ….”

Dengan tatapan sedih, kau menggenggam erat tangan Tengku Imum, merasakan dinginnya kulit lelaki tua di hadapanmu. Di saat yang genting itu, kau tahu bahwa yang dibutuhkan bukanlah sekadar doa panjang atau ucapan ritual, melainkan doa yang benar-benar berasal dari kedalaman hati. Ini bukan lagi soal bayaran atau amplop. Ini adalah tentang hubungan yang paling dalam antara seorang hamba dan Penciptanya, sebuah keikhlasan sejati yang sering kali terlupakan di tengah rutinitas.

Kau duduk di samping ranjang Tengku Imum. Kau memejamkan mata dan mulai melafalkan doa, bukan dengan suara yang keras, melainkan dalam bisikan yang lembut, penuh harap, dan dengan hati yang terbuka. Suaramu mengalun, mendoakan ketenangan dan penerimaan bagi Tengku Imum, yang perlahan-lahan tersenyum lemah.

Saat doa selesai, keheningan menyelimuti ruangan. Mata Tengku Imum terbuka sedikit, lalu ia mengangguk pelan, seiring lisannya mengucapkan dua kalimat syahadat. 

Dan dalam hitungan detik, Tengku Mahmud menghembuskan napas terakhirnya. Tangis keluarga Tengku Imum pecah.

Kali itu kau benar-benar panik. Kau tak menyangka akan melepas kepergian Tengku Imum yang kau hormati itu. Air matamu jatuh dan kau merasa sangat kehilangan.

 

***

 

Setelah kepergian Tengku Imum, kau memutuskan untuk tetap menjadi tukang doa, namun dengan cara yang berbeda. Kau tidak lagi mengharapkan amplop, tidak lagi merasa harus dibayar untuk jasa doa-doamu. Kau berdoa untuk orang-orang yang membutuhkan, untuk mereka yang merayakan kebahagiaan maupun merasakan kehilangan, dengan hati yang ikhlas, tanpa pamrih.

Dan, setelah kau memutuskan untuk tidak lagi menerima imbalan, kau justru semakin dikenal. Bukan hanya di kampungmu, tetapi juga di kampung-kampung tetangga. Orang-orang menghargaimu lebih dari sebelumnya, bukan karena kau seorang tukang doa berbayar, melainkan karena kau seorang yang benar-benar ikhlas dalam mengamalkan ilmu yang telah kau dapatkan selama ini, dari guru-gurumu di dayah. Hidupmu kini semakin tenang, dan kau selalu meyakini pintu rezeki dapat terbuka dari mana saja. Salah satunya ternak ayam dan kolam ikan yang kau bibitkan berkembang pesat. Kau mengamalkan nasihat ibumu, kebahagiaan dunia harus didapat, kebahagiaan akhirat tak boleh dilupakan. 

 

Ladang Tebu, Maret 2025

 

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis, menetap di pinggir Kota Padang Panjang, Sumatra Barat. Berdarah Aceh-Minang. Lahir di Medan, 3 Desember. Buku Kumpulan cerpennya Jalan Sunyi Paling Duri (2022) dan Bensin di Kepala Bapak (2020). Buku puisinya Tungku Api Ibu (2023) dan Kesaksian Sepasang Sandal (2020). Novelnya Rumah di Tengah Sawah diterbitkan Balai Pustaka (2022). Ia penulis undangan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017. Esainya tiga terbaik Festival Sastra Bengkulu (2019) dan puisinya tiga terbaik Banjarbaru Rainy Day Literary Festival (2019). Beberapa puisinya dialihwahanakan menjadi lagu dengan iringan musik klasik oleh pianis bertaraf internasional, Ananda Sukarlan. Penulis bisa dihubungi di rinaikabutsinggalang@gmail.com.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Sungai yang Tersesat

Puisi Fileski Walidha Tanjung

SELENGKAPNYA

Suatu Hari Bersama Sang Sufi

Cerpen Indah Noviariesta

SELENGKAPNYA

Memoar Singkat yang Seharusnya Tidak Terbit di Malam Hari Raya

Cerpen Imam Budiman

SELENGKAPNYA