Pennguasa dan Makam Wali | Daan Yahya/Republika

Sastra

Penguasa dan Makam Wali

Puisi-Puisi Hafiz Azhari

Oleh HAFIS AZHARI

 

Penguasa dan Makam Wali

 

Awalnya bernama Sudarto,

dan ia bertekad membangun gundukan tanah di samping rumahnya

kemudian menyiarkannya bahwa gundukan itu

adalah makam seorang wali yang harus dipuja dan dihormati,

yang akan mengabulkan doa-doa dan permintaan warga kampungnya

hingga berduyun-duyun orang berziarah ke kuburan itu

mengirim sesajen bahkan membayar upeti

Kemudian setelah menjadi kaya-raya ia pun mengganti namanya

menjadi Haji Muhammad Sudarto

agar warga kampung makin tunduk dan hormat kepadanya

Tak berapa lama ia pun membangun rumah baru nan megah

serta memenuhi segala kemauan anak-cucu dan kroni-kroninya

hingga kuburan itu pun diperbaiki dan direhabilitasi

agar terlihat mewah dan megah seperti rumahnya sendiri

seakan-akan angkatan muda tak berhak mengerti dan memahami

bahwa kuburan wali itu sebenarnya tak lebih dari gundukan tanah

yang dibuatnya sendiri untuk membohongi dan mengelabui

seluruh warga kampungnya

 

*** 

 

Kreasi-kreasi Keji

 

Seniman itu duduk termenung di belakang meja

dengan kertas dan pena di tangannya

pandangannya menerawang jauh menggapai-gapai gagasan baru

terbayang harga buku yang nanti akan menguntungkan dirinya

tersenyum merekah sambil mata berkaca-kaca

Kini ditulislah karya-karyanya, disibak rahasia masa silam

tentang sejarah ciptaan sang penguasa

tentang korbannya beberapa jenderal

tentang sumur yang diberi nama Lubang Buaya

bahkan tentang wanita-wanita telanjang

yang konon berlenggak-lenggok di depan mayat

para mayat yang konon disiksa dan dianiaya

hingga mengumbar amarah purba

mengundang ketakutan massa

Maka tercapailah cita-cita sang seniman itu

yang tanpa menyadari bahwa tahun demi tahun

telah terkecoh oleh kelihaian dan kelicikan penguasanya…

 

***

 

Lebah dan Madu

 

Lebah-lebah itu besar-besar sekali

sebesar bunga-bunga semerbak yang dihinggapinya

membagi madu pada satu orang

sementara kami semua dikejar-kejarnya

Aku pun berlari dan terus berlari

hingga hilang pedih-perih

namun tiba-tiba aku tersandung batu dan tersungkur

Entahalah ada apa dengan diriku

tahu-tahu lebah-lebah itu berebutan masuk

ke lubang-lubang telingaku

hingga disengatnya genderang pendengaranku

dan sebagian menyusup masuk di balik kelopak mataku

maka disengatnya pula kedua bola mataku

 

***

 

Angin dan Arus

 

Namanya Soleh, baru saja ia pulang dari mesjid

kopiah dan sarung masih dikenakannya pula

Entahlah apa yang dilakukannya di mesjid tadi

boleh jadi ia berkumpul berjamaah

bahkan menyatu dengan Tuhan yang diyakininya

yang diucapkan mulutnya sebagai Maha Pengasih dan Maha Memelihara

Namun secepat itu tiba-tiba segalanya berubah

kini ia telah bergabung dengan kerumunan massa

bergerombol ke selatan ikut ke selatan

berbondong-bondong ke utara ikut ke utara

mereka berteriak ikut berteriak

mereka memaki-maki ikut pula memaki-maki

kemudian ia pun ikut melempar dan menjebol

warung-warung dan pertokoan

bahkan tega membakar rumah-rumah penduduk

Orang-orang tua berdiri terkesima

para wanita meraung-raung histeris

anak-anak menjerit-jerit menangis

namun ia tak peduli seakan tak menghiraukan segalanya

telinganya tuli matanya buta

Soleh yang arif dan alim itu,

kini telah berubah manjadi perusak liar

melebihi binatang-binatang buas

allah-allah purba bersemayam dalam dirinya…

 

***

 

Gurita Raksasa

 

Hidup di negeriku ini bagai terbelit oleh gurita raksasa

yang memiliki banyak tangan,

tangan-tangan yang memperalat dan memperdayakan

satu manusia oleh manusia lainnya

demi kepentingan dan keuntungan pribadinya

yang satu harus jadi korban yang lain mengorbankan

yang satu bodoh dan miskin

yang lain membodohkan dan memiskinkan

yang satu tertindas dan terhinakan

yang lain menindas dan menghinakan

Lantas untuk apa semua orang ingin menjadi bagian

dari tangan-tangan gurita itu

hingga ketika aku ingin menjadi lumba-lumba

kemudian mereka mengolok-olok dan menghasutku

bahkan serempak mendengki dan memaki-maki aku…

 

***

 

Pemimpin Munafik

 

Dan dia pun memulai segalanya dengan kekerasan

orang-orang itu dialah yang menghabisinya

baik secara langsung maupun lewat kaki-tangannya

Teman-temanku bersaksi atas perbuatannya

para wartawan pun meliput kesaksiannya

maka teman-temanku satu persatu dihabisinya

wartawan-wartawan itu pun menjadi korban berikutnya

Kini akulah sasaran utamanya

setelah aku, entah siapa lagi yang jadi korbannya…

 

*** 

 

Sakit Jiwa

 

Orang-orang bilang saya gila

Ya sudah biar sajalah,

aku merasa terganggu oleh kuman dan serangga-serangga

namun sampah dan sawang di pojok kamarku

belum sempat kubersihkan

Dan aku pun berkali-kali memeriksa pintu kamarku

namun nyatanya Udin Syafrudin diseret dari balik pintu di tengah malam

bahkan dianiaya hingga tewas

Ya, aku pun sering mendengar suara-suara aneh bergema di telingaku

namun bentakan-bentakan komandan itu

seakan masih tersisa dalam pendengaranku

Juga aku pun merasa diriku dikejar-kejar selalu

namun nyatanya seorang teman baikku telah tewas

setelah tertangkap oleh mereka

Jadi, siapa yang gila sebenarnya, akukah…?

 

***

Hafis Azhari adalah penulis novel Pikiran Orang Indonesia yang terbit 2014 lalu. Karya-karya di atas disadur dari novel tersebut.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Sungai yang Tersesat

Puisi Fileski Walidha Tanjung

SELENGKAPNYA

Suatu Hari Bersama Sang Sufi

Cerpen Indah Noviariesta

SELENGKAPNYA

Memoar Singkat yang Seharusnya Tidak Terbit di Malam Hari Raya

Cerpen Imam Budiman

SELENGKAPNYA