Presiden Tsai Ing-wen meninjau latihan militer di Jiadong, Taiwan, pada 2021 lalu. | AP/Taiwan Presidential Office

Internasional

Presiden Taiwan Gambarkan Besarnya Tekanan dari Cina

Tekanan dan provokasi Cina yang mereka hadapi tak bisa digambarkan.

TAIPEI -- Presiden Taiwan Tsai Ing-wen menyampaikan pujian dan apresiasi terhadap para personel Angkatan Laut Taiwan. Menurut dia, tekanan dan provokasi Cina yang mereka hadapi tak bisa digambarkan. 

"Dalam menghadapi pelecehan dan provokasi Cina di luar perairan teritorial Taiwan, bahkan lebih penting untuk mengawasi dinamika kapal musuh setiap saat. Tekanannya sangat besar sehingga tak tergambarkan," kata Tsai saat mengunjungi pangkalan Angkatan Laut Taiwan di Suao, pantai timur laut Taiwan, pada Kamis (18/8) malam.

Tsai menilai militer Taiwan, khususnya Angkatan Laut, telah menunjukkan keberanian yang tak tergoyahkan dalam menghadapi tekanan Cina dan tetap merespons dengan tenang. "Walaupun terkadang menghadapi angin dan ombak yang tidak terduga, selama kawan-kawan di kapal bersatu, mereka dapat mengatasi semua tantangan di depan mereka. Ini adalah semangat rakyat Taiwan, tetapi juga semangat perwira Angkatan Laut dan pelaut," ucapnya.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) memprediksi, tekanan Cina terhadap Taiwan akan terus berlanjut. Washington menilai tindakan Beijing di sekitar Selat Taiwan sangat tidak stabil. 

Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Asia Timur dan Pasifik Daniel Kritenbrink mengatakan, Cina telah memanfaatkan kunjungan Ketua House of Representatives AS Nancy Pelosi ke Taiwan untuk mengubah status quo di kawasan tersebut. Terkait hal itu, dia menyinggung latihan militer besar-besaran yang digelar Cina di sekitar Selat Taiwan setelah lawatan Pelosi. 

"Cina telah menggunakan kunjungan Ketua House of Representatives AS, kunjungan yang konsisten dengan kebijakan satu Cina kami dan belum pernah terjadi sebelumnya, sebagai dalih untuk meluncurkan kampanye tekanan intensif terhadap Taiwan dan mencoba mengubah status quo, membahayakan perdamaian dan stabilitas di selat serta di kawasan yang lebih luas," kata Kritenbrink, Rabu (17/8). 

Kunjungan Nancy Pelosi ke Taiwan pada 2-3 Agustus lalu telah memicu kemarahan Cina. Beijing diketahui mengeklaim Taipei sebagai bagian dari wilayahnya. Dalam kunjungannya, Pelosi menegaskan dukungan AS untuk Taiwan.

Menanggapi kunjungan Pelosi, Cina menggelar latihan militer besar-besaran di Selat Taiwan pada 4-7 Agustus. Dalam latihan itu, Cina mengerahkan seluruh armadanya, yakni udara, darat, dan laut. Beijing bahkan menguji peluncuran rudal balistik. Latihan tersebut tak pelak memanaskan tensi di Selat Taiwan.

Perdana Menteri Taiwan Su Tseng-chang mengatakan, Cina telah secara brutal menggunakan tindakan militer untuk mengganggu perdamaian dan stabilitas regional. "Kami tidak akan pernah tunduk pada tekanan. Kami menjunjung tinggi kebebasan dan demokrasi, serta percaya bahwa warga Taiwan tidak menyetujui tindakan intimidasi Cina dengan kekerasan dan gemerincing pedang di depan pintu kami," ucapnya kepada awak media pada 7 Agustus lalu, dilaporkan Bloomberg

AS tak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan. Namun, negara itu mendukung Taipei dalam menghadapi ancaman Cina. Presiden AS Joe Biden bahkan sempat menyatakan bahwa negaranya siap mengerahkan kekuatan jika Cina menyerang Taiwan. Isu Taiwan menjadi salah satu faktor yang meruncingkan hubungan antara Beijing dan Washington.

Derita tak Menggoyah Ki Hajar Dewantara

Begitulah Ki Hajar. Dalam keadaan serba kekurangan di pengasingan, ia tetap dapat bersikap mandiri.

SELENGKAPNYA

Tuanku Imam Bonjol, Pejuang dan Pembaru Islam

Ia juga dikenal sebagai pencetus lahirnya falsafah hidup orang Minang.

SELENGKAPNYA

Sambo, Polri, dan Proklamasi

Drama polisi ini menjadi menarik karena melibatkan Irjen Ferdy Sambo.

SELENGKAPNYA