Calon peserta didik melintas di depan mural Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara di Posko PPDB SMAN 70 Jakarta, Rabu (8/7/2020). | Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Tokoh

Derita tak Menggoyah Ki Hajar Dewantara

Begitulah Ki Hajar. Dalam keadaan serba kekurangan di pengasingan, ia tetap dapat bersikap mandiri.

OLEH AHMADUN YH

Suatu hari, Mr Abendanon -- teman dekat RA Kartini -- mengunjungi Ki Hajar Dewantara di pengasingannya di negeri Belanda. Melihat keadaan Ki Hajar yang serba kekurangan, Abendanon berniat membantunya.

Ketika hendak pulang, dia meletakkan uang sebesar 150 gulden di bawah cangkir. Namun, dengan permintaan maaf dan ucapan terima kasih, Ki Hajar mengembalikan uang itu.

Di tengah penderitaan, Ki Hajar masih tetap bersikap mandiri dan ingin hidup di atas kekuatannya sendiri. ''Prinsip itu pula yang membuatnya menolak nasihat Mr van Deventer agar mau menjadi guru HIS di Pulau Bangka,'' tulis Darsiti Suratman dalam buku Ki Hajar Dewantara.

"Tawaran itu ditolaknya, meskipun pemerintah (kolonial Belanda -- Red) akan membebaskannya jika ia menerima jabatan tersebut." Prinsip hidup mandiri itu secara konsisten dipegang oleh Ki Hajar sampai masa hukuman pengasingannya di negeri Belanda berakhir.

Ketika akan pulang ke Tanah Air, beberapa tokoh terkemuka Belanda seperti Stokvis, Van Deventer dan Jonkman, menawarkan tiket kapal kelas satu. Tapi, lagi-lagi, dengan permintaan maaf dan ucapan terima kasih Ki Hajar menolaknya. Alasannya, ia telah mendapatkan tiket kapal kelas tiga, sesuai hak yang diberikan oleh Pemerintah Belanda.

Gagal memberikan tiket, Stokvis datang lagi untuk menyerahkan uang 3.000 gulden hasil pengumpulan dari kawan-kawan dekatnya. Namun, lagi-lagi, Ki Hajar menolaknya dengan sopan. Baru ketika anaknya sakit keras, Ki Hajar menemui Stokvis untuk meminjam uang yang pernah ditawarkan padanya.

''Stokvis memberikannya, dan sama sekali tidak mengharapkan kembalinya uang itu. Tapi, ternyata setelah berada di Tanah Air, Ki Hajar mengembalikan uang tersebut secara mengangsur,'' tulis Darsiti.

photo
Siswa Tarbiyatul Athfal Asih menulis di depan patung Ki Hajar Dewantara saat mengikuti kurikulum pelajaran luar sekolah di Museum Malang Tempo Dulu, Jawa Timur. - (ANTARA FOTO)

Begitulah Ki Hajar. Dalam keadaan serba kekurangan di pengasingan, ia tetap dapat bersikap mandiri, dan tidak mau bergantung pada orang lain. Kesederhanaan benar-benar menjiwai hidupnya. Ini pula yang membuatnya tidak gampang tergoda iming-iming materi. Ia hanya mau menerima bantuan dari kawan-kawan dekat yang tidak merendahkan martabatnya.

Dari Mr Gondowinoto, misalnya, ia mendapat bantuan alat-alat rumah tangga, beras, dan pakaian. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya, Ki Hajar cukup berharap dari honor artikel-artikelnya yang dimuat oleh surat kabar atau majalah di Belanda.

Dari surat kabar Utusan Hindia yang diasuh Cokroaminoto, misalnya, ia mendapatkan honor tetap 50 gulden per bulan. Jumlah yang sangat kecil jika dibanding kebutuhan hidup saat itu di Belanda.

Namun, Nyi Hajar, yang juga siap hidup sederhana, sangat memahami sikap sang suami. Pengertian dari sang istri itu yang ikut memberi kekuatan pada Ki Hajar untuk terus berjuang bagi bangsanya.

Di pengasingan, Ki Hajar tidak hanya memperhatikan masalah politik, tapi juga masalah sosial-budaya, khususnya pendidikan. Ki Hajar bahkan tampak sangat tertarik pada masalah pendidikan.

Ia secara khusus mempelajari pemikiran-pemikiran Montessori dan Rabendranath Tagore. Keduanya dikenal sebagai tokoh pembongkar konsep pendidikan lama dan pembangun sistem pendidikan baru. Ki Hajar menganggap keduanya sebagai penunjuk jalan untuk membangun sistem pendidikan baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Dari sinilah kemudian ia, setelah kembali ke Tanah Air, membangun lembaga pendidikan Taman Siswa yang tetap eksis sampai sekarang. Lahir di Yogyakarta 2 Mei 1889, Ki Hajar -- yang punya nama asli Raden Mas Suwardi Suryaningrat -- memang mewarisi sikap keras kakek dan ayahnya terhadap Belanda.

Ayahnya, Pangeran Suryaningrat, adalah putra sulung Sri Paku Alam III. Sebagai putra sulung, ia berhak menggantikan kedudukan Sri Paku Alam, tapi digusur oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

photo
Warga mengamati koleksi Museum Pendidikan di Jalan Genteng Kali, Surabaya, Jawa Timur, Senin (25/11/2019). Museum yang berdiri di bekas bangunan Sekolah Taman Siswa dan menyimpan benda bersejarah tentang pendidikan dari masa ke masa itu diresmikan oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tepat di Hari Guru. - (Didik Suhartono/ANTARA FOTO)

Sri Paku Alam III adalah raja yang sangat keras menentang penjajah. Karena itu, pemerintah Hindia Belanda 'menjegal' Suryaningrat -- anaknya -- untuk menjadi raja, karena khawatir akan bersikap anti-Belanda seperti ayahnya.

Suryaningrat 'diasingkan' di luar istana, dan atas perkawinannya dengan seorang puteri kerabat Sultan Yogya lahirlah RM Suwardi (Ki Hajar) sebagai anak kelima dari sembilan bersaudara.

Jiwa keguruan Ki Hajar sudah tampak sejak kecil. Begitu dapat membaca dan menulis, langsung ia ajarkan keterampilan itu kepada anak-anak kampung di sekitar rumahnya. Begitu lulus Europeesche Lagere School (ELS), iapun melanjutkan ke Kweekschool -- sebuah sekolah guru -- di Yogyakarta. Namun, baru belajar setahun, anak yang cerdas ini mendapat beasiswa untuk belajar ke sekolah dokter Stovia di Jakarta.

Di Stovia, jiwa merdeka Ki Hajar makin tampak. Suatu hari, bersama kawan-kawannya, ia merencanakan perayaan Idul Fitri besar-besar. Pihak sekolah melarangnya, tapi ia tetap melaksanakannya dengan menyalakan kembang api dan petasan. "Kejadian itu cukup merasahkan pimpinan Stovia. Karena perbuatannya itu, ayahku dihukum. Ia disekap di dalam kamar selama beberapa hari," tutur Bambang Sukawati Dewantara, salah seorang anaknya.

Beasiswa dari pemerintah Belanda pun akhirnya dihentikan. Akibatnya, Ki Hajar harus drop out dari Stovia karena ayahnya tidak mampu membiayainya.

Sebagai medan perjuangan, kemudian Ki Hajar memilih bidang jurnalistik. Dimulai dari membantu harian Sedyo Tomo di Yogyakarta dan Midden Jawa di Semarang, pada tahun 1912 ia pindah ke Bandung dan bekerja sebagai redaktur harian De Express pimpinan Douwes Dekker.

Ia juga menjadi anggota redaksi dan menulis untuk beberapa penerbitan lain. Bersamaan dengan itu, Ki Hajar pun mulai terjun ke politik. Dimulai dari menjadi pengurus Boedi Oetomo, Sarekat Islam, sampai akhirnya mendirikan Indische Partij pada 6 September 1912, bersama Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkoesoemo. Mereka kemudian dikenal sebagai 'tiga serangkai' pimpinan partai revolusioner itu.

 
Sebagai medan perjuangan, kemudian Ki Hajar memilih bidang jurnalistik.
 
 

Akibat tulisannya, "Seandainya Saya Seorang Belanda" (Als ik een Nederlander was), Ki Hajar dan kedua kawan seperjuangannya itu 'dibuang' ke Belanda. Di pengasingan, mereka meneruskan perjuangan dengan menulis di berbagai surat kabar di Belanda dan Indonesia. '

"Selain itu, Ki Hajar terus belajar, dan pada tahun 1916 berhasil mendapatkan ijasah guru," tutur Bambang.

Pada tahun 1917 hukuman pembuangannya dicabut. Pada tahun 1918 ia mendirikan kantor berita Indonesische Persbureau di Nederland. Kantor ini menjadi tempat berkumpul para pemuda sekaligus pusat propaganda kemerdekaan Indonesia. Saat itu, Ki Hajar juga menjadi redaktur majalah Hindia Poetra, terbitan Indiche Vereniging yang kemudian menjadi Perhimpoenan Indonesia.

Ki Hajar kembali ke Indonesia pada 1919. Ia diangkat menjadi sekretaris, kemudian ketua Pengurus Besar Nasional Indische Partij. Pada tahan ini, Ki Hajar makin yakin bahwa pendidikan adalah satu-satunya cara untuk meningkatkan taraf hidup rakyat. Maka, sejak 1921, ia terjun penuh ke dunia pendidikan.

Bermula menjadi guru di Adhi Darmo, kemudian pada 1922 ia mendirikan sekolah sendiri dengan nama Taman Siswa. Perguruan yang dimulai dari TK ini kemudian berkembang menjadi sekolah-sekolah yang tersebar di seluruh Tanah Air.

 
Cintanya pada dunia pendidikan mengantarkan Ki Hajar menapaki karier sampai ke tingkat menteri.
 
 

Dengan sistem among, Taman Siswa dipandang sebagai perintis pendidikan nasional. Cintanya pada dunia pendidikan mengantarkan Ki Hajar menapaki karier sampai ke tingkat menteri. Tahun 1942, bersama Sukarno dan Hatta, ia memimpin Pusat Tenaga Rakyat.

Tahun 1944, ia diangkat menjadi anggota Naimuhu Bunkyokyoku Sanyo (Kantor Urusan Pengajaran dan Pendidikan). Setelah proklamasi kemerdekaan, Ki Hajar diangkat menjadi menteri pengajaran kabinet pertama Indonesia. Atas jasa-jasanya, Ki Hajar dianugerahi Bintang Mahaputera. Ia juga mendapat gelar doktor honoris causa dari UGM. Tanggal kelahirannya, 2 Mei, kemudian ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Dua hari setelah meninggal (26 April 1959), secara anumerta Ki Hajar diangkat sebagai Ketua Kehormatan PWI. Pada tahun 1976, gelar Perintis Pers Indonesia diberikan kepadanya oleh pemerintah RI.

Pengabdian, perjuangan dan ketulusan Ki Hajar, meninggalkan keharuman yang takkan terhapus perubahan zaman.

Disadur dari Harian Republika edisi 11 Mei 2002

UUS Dorong Pembatalan Wajib Spin-off

Ekonom menilai, pembatalan ketentuan spin-off juga cukup disayangkan.

SELENGKAPNYA

Nassau Boulevard, Saksi Perumusan Naskah Proklamasi

Situasi kota Jakarta sendiri menjelang 17 Agustus benar-benar sangat mencekam dan rakyat, terutama para pemudanya dalam semangat proklamasi.

SELENGKAPNYA

Berharap Ekosistem Digital Kian Imbang

Masa pandemi membuat pendapatan berkurang dan order lebih sulit didapat.

SELENGKAPNYA