Petugas Kepolisian memberhentikan pengendara saat peringatan detik-detik Proklamasi di jalan Thamrin, Jakarta, Rabu (17/8/2022). | Republika/Thoudy Badai

Opini

Sambo, Polri, dan Proklamasi

Drama polisi ini menjadi menarik karena melibatkan Irjen Ferdy Sambo.

ZAIM UCHROWI, Pendiri Yayasan Karakter Pancasila

Bulan proklamasi Agustus ini, diramaikan oleh berita tidak biasa. Bukan oleh berita kemeriahan perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia di kampung-kampung. Bukan pula oleh diskusi soal resesi yang mengancam dunia saat ini.

Yang meramaikannya, drama di lingkungan polisi. Sebuah drama berlakon polisi tembak polisi. Seorang polisi bawahan menjadi korbannya. Lalu polisi atasannya, seorang jenderal, menjadi tersangka utamanya.

Sebagai kasus kriminal, kejadian ini biasa saja. Banyak peristiwa lain yang lebih dramatis. Seperti pembunuhan siswa SD oleh pamannya di Deli Serdang, Sumatra Utara, di dalam kelas. Disaksikan oleh teman-teman dan gurunya.

Drama polisi ini menjadi menarik karena melibatkan Irjen Ferdy Sambo. Ia adalah kepala Divisi Propam atau polisinya polisi. Selain itu, ia juga salah seorang sosok yang dianggap berkarier sangat cemerlang di kepolisian.

 

 
Drama polisi ini menjadi menarik karena melibatkan Irjen Ferdy Sambo. Ia adalah kepala Divisi Propam atau polisinya polisi. Selain itu, ia juga salah seorang sosok yang dianggap berkarier sangat cemerlang di kepolisian.
 
 

 

Maka itu, berita tentang kasusnya muncul saban hari. Berbagai spekulasi menjadi perbincangan dan perdebatan di publik. Hingga Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengumumkan Irjen Sambo menjadi tersangka pada Rabu, 10 Agustus 2022.

Penetapan tersangka itu tidak menghentikan perbincangan umum. Banyak hal yang masih akan dipertanyakan. Termasuk mengenai hal mendasar. Mengapa jenderal sepenting dia dapat terseret kriminal seperti itu?

Para pegiat literasi mengenal Teori Gunung Es. Ernest Hemingway (1899-1961) yang mengenalkannya. Pada gunung es, yang tampak hanya pucuknya. Bagian besar gunung es justru tak terlihat. Tersembunyi di bawah permukaan.

Kalau mengacu teori ini, kasus Sambo bisa jadi memang hanya puncak gunung es persoalan. Masalahnya yang lebih besar justru di bawahnya. Tak tampak karena memang berada di bawah permukaan.

 

 
Kalau mengacu teori ini, kasus Sambo bisa jadi memang hanya puncak gunung es persoalan. Masalahnya yang lebih besar justru di bawahnya. Tak tampak karena memang berada di bawah permukaan.
 
 

Adanya masalah yang mendasar tecermin pada beberapa kasus sebelumnya. Seperti pada kasus Pauline Limowa, Djoko Tjandra, hingga kasus pengadaan alat simulasi SIM. Nama-nama jenderal polisi terseret di sana.

Kasus-kasus itu menyingkap keadaan di lingkungan kepolisian atau Polri. Bahwa Polri bukan sedang dalam keadaan baik-baik saja. Ada hal yang perlu dibenahi secara mendasar agar menjadi Polri yang semestinya.

Kondisi Polri itu juga tergambar pada pandangan publik kepada polisi. Bahwa polisi bukan lagi dipandang sebagai pengayom. Polisi lebih dipandang sebagai profesi yang gampang menjadi kaya raya.

Gaya hidup mewah sejumlah perwira polisi dan keluarganya membenarkan anggapan itu. Tak sedikit dari mereka yang tidak malu memamerkan kemewahannya. Seolah itu merupakan hal wajar bagi polisi.

 
Gaya hidup mewah sejumlah perwira polisi dan keluarganya membenarkan anggapan itu. Tak sedikit dari mereka yang tidak malu memamerkan kemewahannya. Seolah itu merupakan hal wajar bagi polisi.
 
 

Potret polisi seperti itu mengundang tanda tanya. Bisakah penghasilan resmi polisi menopang gaya hidup mewahnya? Kalau tidak, lalu apa yang bisa menopangnya kalau bukan dunia abu-abu serta remang-remang?

Dalam dua dasawarsa terakhir, wajah polisi memang berubah banyak. Terutama setelah Polri terpisah dari TNI pada 1 April 1999. Dengan hukum dan senjata di tangan, posisinya dalam kehidupan bernegara pun menguat.

Kuatnya posisi polisi bukan tanpa ujian. Dari ujian yang bersifat profesional hingga yang bersifat naluriah hewaniah. Termasuk ujian yang biasa diistilahkan sebagai tiga ‘ta’. Takhta, harta, dan wanita.

Drama yang terjadi dapat terkait dengan hal itu pula. Kejadiannya menjelang hari proklamasi mungkin memang kehendak Tuhan. Untuk mengingatkan, kini saatnya Polri menjunjung kembali nilai proklamasi berupa Pancasila.

 
Kenyataannya, pesan itu sering diabaikan. Ketuhanan jarang dijadikan pertimbangan pertama dalam mengelola negara. Kejujuran dan integritas tidak dianggap penting. Itu yang terjadi saat ini, termasuk di lingkungan Polri.
 
 

Pancasila menempatkan ketuhanan sebagai nilai pertamanya. Berarti nilai ketuhanan harus dijadikan pertimbangan pertama dalam setiap langkah. Baik langkah-langkah pribadi, apalagi langkah mengelola negara.

Kenyataannya, pesan itu sering diabaikan. Ketuhanan jarang dijadikan pertimbangan pertama dalam mengelola negara. Kejujuran dan integritas tidak dianggap penting. Itu yang terjadi saat ini, termasuk di lingkungan Polri.

Drama polisi tembak polisi telah menyingkap fenomena gunung es masalah Polri. Menjadi penanda inilah saatnya Polri harus bertransformasi untuk menjadi lebih berintegritas, profesional, serta benar-benar mengayomi.

Sudah 77 tahun Indonesia merdeka. Namun, masih berputar-putar sebagai bangsa dan negara semenjana. Belum kunjung melangkah menjadi bangsa dan negara maju. Krisis integritas menjadi salah satu penyebab utamanya.

Saatnya integritas ditegakkan. Saatnya Indonesia melangkah menjadi bangsa maju. Polri perlu berada di barisan terdepan dalam integritas dan kemajuan bangsa. Caranya, apalagi kalau bukan dengan bertransformasi itu. 

17 Agustus Hari Kesyukuran Akbar

17 Agustus menjadi momentum kesyukuran akbar bagi semua rakyat Indonesia. Kesyukuran bagi semua untuk kebahagiaan semua.

SELENGKAPNYA

Bagaimana Suasana Proklamasi pada 1945?

Ada sepasukan Barisan Pelopor dari Panjaringan yang datang terlambat dan meminta agar pembacaan proklamasi diulangi kembali.

SELENGKAPNYA

Saat Liga Arab Perjuangkan Kemerdekaan RI

Ada peranan diplomat Mesir dalam peristiwa bersejarah itu.

SELENGKAPNYA