Petugas Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri mengambil sampel dari rumah lokasi pembunuhan di Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (16/1). | ANTARA/Fakhri Hermansyah

Nasional

Pembunuhan Berantai di Bekasi dan Memori Jagal Ryan Jombang

Ryan terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap 11 orang dan dihukum mati.

JAKARTA -- Kasus pembunuhan berantai di Bekasi, Jawa Barat, mengingatkan kita pada peristiwa menggegerkan yang terjadi pada medio 2008 atau 15 tahun silam. Saat itu, pusat perhatian publik tertuju pada sosok Verry Idham Henyansyah alias Ryan, orang yang kelak terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap 11 orang dan 10 di antaranya dikubur di pekarangan belakang rumah ibunya di Jombang, Jawa Timur.

Pada awal 2023, polisi mengungkap tabir misteri keluarga keracunan di sebuah rumah kontrakan Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Penyidik menemukan fakta, keluarga tersebut diduga dibunuh menggunakan racun. Ada tiga tersangka yang telah ditetapkan, yaitu Wowon Erawan alias Aki (60 tahun), Solihin alias Duloh, dan M Dese Solehudin. Adapun jumlah korban secara keseluruhan hingga saat ini tercatat sebanyak sembilan orang dari berbagai usia. Bahkan, salah satu korban masih balita.

Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran mengatakan, kasus pembunuhan berantai ini terungkap pada saat penyelidikan kasus yang awalnya diduga sekeluarga keracunan. Ketika penyidik bersama sejumlah tim ahli melakukan penyelidikan mendalam di tempat kejadian perkara (TKP), Bantar Gebang, ada fakta baru yang terungkap. Para korban di Bantar Gebang ini diketahui ditemukan pertama kali oleh saksi pada Kamis (12/1).

Pada saat itu, penyidik menemukan adanya sisa pembakaran sampah di belakang rumah lokasi pembunuhan tersebut. Setelah diperiksa, penyidik menemukan adanya plastik diduga bekas bungkus racun. Kemudian, di TKP juga ditemukan lubang galian yang juga berada di belakang rumah. “Ada bakaran sampah, bekas galian, ada plastik diduga bekas racun,” kata Fadil.

Temuan itu kemudian diperkuat dengan adanya bercak muntahan-muntahan di kamar depan dan belakang di lokasi kontrakan tersebut. Dari pemeriksaan laboratorium, bercak muntahan tersebut identik dengan bungkus racun plastik tersebut. Sehingga ada dugaan para korban dibunuh dengan diracun oleh pelaku.

“Hasil labfor mengatakan bahwa muntahan tersebut mengandung pestisida yang sangat beracun. Larutan pestisida yang sangat berbahaya yang apabila dikonsumsi manusia dapat sebabkan kematian,” kata Fadil.

Menurut Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Hengki Haryadi, racun itu terdiri atas racun tikus dan racun pestisida yang dituang ke dalam kopi yang sudah diseduh di ruang belakang dekat sumur. Namun, selain diracun, para korban juga dicekik untuk mempercepat proses kematian oleh pelaku.

 
Jumlah korban secara keseluruhan hingga saat ini tercatat sebanyak sembilan orang dari berbagai usia. Bahkan, salah satu korban masih balita.
 

“Petugas menemukan bahan sisa makanan mengandung dua jenis racun, racun tikus dan racun hama pestisida. Juga ditemukan luka di sekitar wajah, ternyata selain diracun, menurut pengakuan tersangka, korban ini dicekik agar cepat meninggal dunia,” ujar Hengki.

Selanjutnya berdasarkan hasil penyelidikan, polisi menetapkan tiga tersangka. Ternyata ketiga tersangka adalah keluarga korban. Wowon adalah suami Maemunah (40) dan ayah kandung dari NR (5). Dua korban lainnya, Ridwan Abdul Muiz (23) dan Muhammad Riswandi (17), merupakan anak dari Maemunah dengan mantan suaminya.

Sementara korban selamat berinisial NR (5) hanya menenggak sedikit kopi. Kemudian satu korban selamat lainnya, Dede Solehudin (34), adalah adik Wowon dan ternyata dia termasuk pelaku. Diduga Dede sengaja menenggak sedikit kopi beracun itu agar dianggap juga sebagai korban.

Dari pemeriksaan para tersangka itulah diketahui motifnya dan menyingkap tabir pembunuhan berantai yang dilakukan para tersangka. Pelaku sengaja menghabisi nyawa keluarga dekatnya karena dianggap membahayakan. Sebab, korban mengetahui tindak kejahatan lain yang dilakukan para tersangka.

 
Wowon alias Aki dianggap oleh para korbannya memiliki kemampuan spiritual atau dukun.
 

Adapun tindak kejahatan lain yang dilakukan oleh tersangka yang diketahui oleh korban adalah penipuan dengan modus dapat memberikan kekayaan atau pesugihan. Karena Wowon alias Aki dianggap oleh para korbannya memiliki kemampuan spiritual atau dukun. Tidak hanya sekadar melakukan penipuan, dalam aksinya tersangka juga membunuh para korbannya.

Sementara untuk total korban sejauh ini ada sembilan orang. Jasad maupun kerangka korban masing-masing ditemukan di lokasi yang berbeda. Di TKP Bekasi, ditemukan tiga orang meninggal dan satu orang selamat. Di TKP Cianjur ditemukan empat kerangka manusia dan satu kerangka dalam pencarian dan di TKP Garut satu orang dikuburkan, setelah sebelumnya dibuang di laut.

Motif pembunuhan yang diduga dilakukan Wowon berbeda jika dibandingkan dengan Ryan Jombang. Ryan diketahui membunuh para korbannya berlatar kecemburuan. Dia diketahui memiliki orientasi seksual menyimpang. Ia penyuka sesama jenis. Kasusnya pun terungkap sekaligus terhenti ketika pembunuhan terhadap korban ke-11 berhasil dibongkar polisi.

 
Ryan hingga kini mendekam di penjara untuk menunggu eksekusi.
 

Sepuluh korban Ryan di Jatim diketahui adalah Aril Somba Sitanggang (Malang, Jatim), Vincentius Yudhi Priono (Wonogiri, Jateng), dan Guruh Setio Pramono (Nganjuk, Jatim). Ketiganya sudah diserahkan ke keluarga masing-masing. Selain itu, Graddy (Jakarta-marga Tambunan, Manado), Agustinus alias Wawan (28), Muhammad Akhsoni alias Soni (29), Zainal Abidin alias Zaki (21), Nanik Hidayati (23) dengan anaknya Silvia Ramadani Putri (3), dan Mr X yang dibunuh Ryan pada akhir 2006, tapi dia lupa jati diri korban.

Sementara, korban kesebelas yang menjadi awal terungkapnya pembunuhan berantai, yaitu Heri Susanto, dibunuh di sebuah apartemen di Depok, Jawa Barat. Mayatnya yang sudah dipotong-potong (mutilasi) dibuang di kawasan Jalan Kebagusan, Ragunan, Jakarta Selatan, 12 Juli lalu. Ryan kemudian divonis mati atas perbuatannya. Ia hingga kini mendekam di penjara untuk menunggu eksekusi.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Jejak Para Pembunuh Berantai di Tanah Air

Kasus pembunuhan berantai di Indonesia dimulai kasus Robot Gedek.

SELENGKAPNYA

Beragam Alasan Smartphone Jadi Lemot

Tak perlu buru-buru mengganti ponsel ketika lemot, karena hal ini ada banyak sebabnya.

SELENGKAPNYA

AS Diminta Serius Soal Solusi Israel-Palestina

Senat dan penasihat keamanan Gedung Putih menemui kedua sisi pada Kamis.

SELENGKAPNYA