Luis Suarez. | EPA-EFE/Gaston Britos

Piala Dunia

Raksasa Tertidur Vs Macan Asia

Uruguay dan Korsel sama-sama memiliki sejumlah pemain top yang merumput di Eropa.

AR RAYYAN -- Uruguay salah satu dari delapan negara yang sudah merasakan nikmatnya menjadi juara dunia sepak bola putra. La Celeste berada di singgasana pada edisi 1930 dan 1950.

Puluhan tahun yang lalu. Di kawasannya sendiri, tim tersebut mengoleksi 15 gelar Copa America. Mereka sangat layak disebut raksasa.

Berjalannya waktu, the Sky Blue bak raksasa tertidur. Uruguay sulit menandingi keperkasaan para tetangga, seperti Argentina dan Brasil. Di panggung yang lebih luas, skuad yang kini dilatih Diego Alonso itu keteteran mengikuti perkembangan para elite Eropa pada era modern.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by AUF | Selección Uruguaya (@aufoficial)

Meski demikian, tak bisa dimungkiri, Uruguay tetap diperhitungkan ketika tampil di turnamen bergengsi. Sepak bola masih menjadi magnet dari negara berpenduduk 3,5 juta jiwa itu.

Dalam buku berjudul From Beauty to Duty, penulis Martin da Cruz menjelaskan peran sepak bola dalam pembangunan bangsa di Uruguay. Ia memerinci dari berbagai fase. Salah satunya ketika perang saudara berlangsung, surat kabar milik pemerintah tidak dapat menulis tentang revolusi. "Sepak bola mengisi kekosongan," kata Martin, dikutip dari Sky Sports, Rabu (23/11).

Olahraga itu berkembang pesat di sana. Medali emas Olimpiade 1924 dan 1928 memicu kebanggaan nasional. Ditambah lagi dengan keberhasilan meraih trofi Piala Dunia beberapa tahun kemudian.

Pencapaian tersebut bergema selama berabad-abad. Mendefinisikan Le Celeste yang dulu, sekarang, dan pada masa depan. Kini, Luis Suarez dkk siap bertualang di Qatar.

Jutaan penduduknya tetap berharap banyak. Seperti kata penulis dan penyair Eduardo Galeano, setiap kali timnas Uruguay bermain, tidak peduli melawan siapa, negara menahan napas. Politisi, penyanyi, pedagang kaki lima, berhenti berbicara. Kekasih menangguhkan belaiannya, hingga lalat pun seakan berhenti terbang.

 
 
Itu pengalaman yang sangat hebat bagi orang-orang, tetapi bagi para pemain, saya merasa pencapaian itu selalu memberikan tekanan.
 
 

Artinya, status uruguay sebagai kekuatan super di jagat lapangan hijau masih terasa. "Ini kisah sepak bola yang luar biasa, tetapi seharusnya tidak mengejutkan. Meski kecil, Uruguay negara Amerika Selatan pertama yang menanamkan sepak bola ke dalam kebiasaan nasional dan menghasilkan budaya yang tepat," ujar Da Cruz.

Berjalannya waktu, Le Celeste memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Ini agar tidak sekadar berbicara tentang sejarah masa lalu. Di dalam negeri sendiri, uang dan infrastruktur sepak bola Uruguay tertinggal dari para tetangga di level elite lainnya.

Namun, ada satu hal yang konsisten dipertahankan. Uruguay selalu menghasilkan bakat hebat yang piawai berlaga di level tertinggi.

Nama-nama seperti Diego Forlan, Luis Suarez, serta Edinson Cavani benderang di Eropa. Belakangan ada sosok baru seperti Martin Satriano hingga Darwin Nunez. Sosok yang disebut terakhir siap menjadi andalan timnasnya di Piala Dunia 2022 Qatar.

Pasukan Diego Alonso bertemu Korea Selatan (Korsel) pada laga perdana Grup H. Duel tersebut berlangsung di Education City Stadium, Doha, Kamis (24/11) malam WIB. Nunez paham apa arti laga pertama di kompetisi seperti ini.

 
 
Meski kecil, Uruguay negara Amerika Selatan pertama yang menanamkan sepak bola ke dalam kebiasaan nasional dan menghasilkan budaya yang tepat.
 
 

"Kami tahu kami bukan favorit (juara), tapi kami akan berjuang. Kami ingin melangkah jauh meski melawan tim kuat. Target kami adalah memenangkan Piala Dunia," ujar bomber klub Liverpool itu, dikutip dari mirror.co.uk.

Tepat seperti yang digambarkan Nunez. Korsel bukan lawan sembarangan. Sang raksasa tertidur bakal meladeni ketangguhan Macan Asia.

Nama besar Ksatria Taegeuk di Benua Kuning tak perlu diragukan lagi. Kini, negara peringkat ke-28 FIFA itu konsisten melahirkan sederet bakat berkelas yang berkarier di Eropa. Fakta demikian otomatis memengaruhi mentalitas Korsel ketika tampil di level atas.

Khusus di Piala Dunia, Korsel pernah membuat sejarah. Pada 2002 lalu, Ksatria Taegeuk melaju hingga semifinal. Namun, menjelang agenda di Qatar, legenda Korsel Koo Ja-cheol meminta generasi terbaru melupakan kenangan itu. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by 대한민국 축구 국가대표팀 (@thekfa)

"Saya tidak suka berbicara tentang sejarah Piala Dunia 2002. Itu pengalaman yang sangat hebat bagi orang-orang, tetapi bagi para pemain, saya merasa pencapaian itu selalu memberikan tekanan," ujar tokoh yang kini menjadi komentator televisi di negaranya tersebut.

Ja-cheol meminta para juniornya menikmati tantangan di depan mata. Menurut dia, target realistis Son Heung-min dkk adalah melewati penyisihan grup. Namun, sebelum memikirkan tujuan itu, anak asuh Paulo Bento perlu meredam Uruguay.

 

Prediksi Starting XI: 

Uruguay (4-3-3)

  • Kiper: Sergio Rochet
  • Bek kiri, kanan: Mathias Olivera, Guillermo Varela
  • Bek tengah kiri, kanan: Jose Gimenez, Diego Godin
  • Gelandang kiri, tengah, kanan: Rodrigo Bentancur, Lucas Torreira, Fede Valverde
  • Penyerang kiri, tengah, kanan: Luis Suarez, Darwin Nunez, Facundo Pellistri
  • Pelatih: Diego Alonso

 

Korea Selatan (4-3-3)

  • Kiper: Kim Seung-Gyu
  • Bek kiri, kanan: Kim Jin-Su, Yoon Jong-Gyu
  • Bek tengah kiri, kanan: Kim Young-Gwon, Kim Min-Jae
  • Gelandang kiri, tengah, kanan: Kwon Chang-Hoon, Hwang In-Beom, Jung Woo-Young
  • Penyerang kiri, tengah, kanan: Son Heung-Min, Hwang Ui-Jo, Hwang Hee-Chan
  • Pelatih: Paulo Bento

  

Fakta Jelang Laga:

  • Education City Stadium berkapasitas 40 ribuan kursi. Ini salah satu stadion paling ramah lingkungan di dunia menurut doha.directory.
  • Meski memulai musim perdananya di Liverpool dengan sulit, striker Uruguay Darwin Nunez masih mampu mencetak sembilan gol dari 18 laga.
  • Korea Selatan sudah 10 kali tampil di Piala Dunia.
  • Pada Piala Dunia 2018, Korsel menekuk Jerman, 2-0. Itu pertama kalinya Jerman gagal lolos dari fase grup Piala Dunia sejak edisi 1950.
  • Son Heung-min sudah mencetak 35 gol dalam 104 pertandingan bersama timnas Korsel di berbagai ajang.

  

Jadwal Siaran Langsung:

(SCTV, Vidio, Mentari TV, NEX Parabola)

Kamis, 24 November 2022

  • Pukul 17.00 WIB: Swiss vs Kamerun (Grup G)
  • Pukul 20.00 WIB: Uruguay vs Korea Selatan (Grup H)
  • Pukul 23.00 WIB: Portugal vs Ghana (Grup H)

Jumat, 25 November 2022

  • Pukul 02.00 WIB: Brasil vs Serbia (Grup G)

Berburu Makanan Khas Indonesia

Mama Rozie mengaku sudah rindu kampung halaman.

SELENGKAPNYA

Serasa Derbi di Khalifa

Delapan pemain timnas Jerman berkarier di Bundesliga Jerman.

SELENGKAPNYA

'Mereka Harus Menghargai Kami'

Sebelum perhelatan Piala Dunia dimulai, Qatar menghadapi banyak kritikan.

SELENGKAPNYA