Fernan Rahadi | Ist

Sepak Bola

Berburu Makanan Khas Indonesia

Mama Rozie mengaku sudah rindu kampung halaman.

OLEH FERNAN RAHADI dari Doha, Qatar

Seperti perjalanan ke luar negeri pada umumnya, salah satu kekhawatiran jurnalis asal Indonesia adalah soal makanan. Maklum, lidah orang Indonesia, khususnya Jawa, biasanya agak susah untuk menelan makanan sehari-hari selain nasi. He ... he ... he ....

Beruntung, selama perhelatan Piala Dunia 2022 di Qatar, saya menginap di rumah seorang warga negara Indonesia. Sejak sebelum kedatangan saya ke Doha, Bu Aida, demikian saya memanggilnya, sudah berjanji akan sering mengajak berkeliling mencari restoran-restoran Indonesia yang ada di kota tersebut.

Pada hari kedua saya berada di Doha, Jumat (18/11), Bu Aida yang sehari-hari bekerja di Brunel, sebuah perusahaan rekrutmen global di Qatar, tersebut menepati janjinya. Ia mengajak saya dan seorang rekan jurnalis yang lain mengunjungi sebuah restoran Indonesia di daerah Al Muntazah, sebuah wilayah di pusat Kota Doha.

Restoran tersebut bernama Mama Rozie. Pemiliknya adalah seorang wanita Indonesia keturunan Malaysia bernama Rosalina Umar (59 tahun). Ia mengaku berasal dari Penang, Malaysia. Setelah menikahi seorang pria dari Aceh, Rosalina yang kemudian kami panggil Mama Rozie, kemudian pindah ke wilayah yang dijuluki Serambi Makkah tersebut.

 
Restoran tersebut bernama Mama Rozie. Pemiliknya adalah seorang wanita Indonesia keturunan Malaysia.
 
 

Pada 1996, Mama Rozie dan keluarganya pindah ke Doha. Awalnya, ia dan suaminya berstatus sama dengan mayoritas warga negara Indonesia di Doha yang bekerja di sektor migas. Namun, setelah suaminya pensiun, ia mulai berpikir untuk serius menekuni bisnis restoran. Apalagi, ia mengaku sudah pernah berbisnis restoran saat masih tinggal di Aceh, dua dekade sebelumnya.

Resep Mama Rozie pun terbukti kelezatannya. Tak hanya menu-menu asal Indonesia, seperti lontong sayur, sop iga, dan bakso, di restoran tersebut juga tersedia sejumlah menu Malaysia dan Filipina, salah satunya adalah nasi lemak. Harganya pun juga cukup ramah di kantong turis dengan menu termahal sebesar 30-35 qatari riyal (Rp 120-150 ribu).

Meskipun keberadaan restoran milik orang Indonesia di Doha sudah cukup banyak, segelintir saja yang menyajikan masakan khas Indonesia. Mama Rozie berusaha mengambil ceruk pasar tersebut. Usahanya berbuah manis. Saat ini, restoran Mama Rozie menjadi rujukan banyak orang di Doha. Tak hanya bagi orang-orang Indonesia, tetapi juga orang-orang dari berbagai negara yang tinggal di Qatar.

Saya pun melihat dengan mata kepala sendiri larisnya restoran tersebut. Saat saya datang kembali untuk kedua kalinya pada Sabtu (19/11) malam, restoran tersebut tetap penuh. Salah satu kelebihannya barangkali adalah letaknya yang berada di pusat kota.

 
Saya pun melihat dengan mata kepala sendiri larisnya restoran tersebut.
 
 

Dari restoran tersebut, kami bisa dengan mudah mengakses Stasiun Doha Metro. Ini stasiun terbesar yang menghubungkan tiga jalur rel, yakni Msheireb Metro Station. Saat ini, restoran Mama Rozie juga bisa ditemui di dua wilayah lain yang cukup padat penduduk, yakni West Bay dan Lusail. Kedua wilayah tersebut juga dilewati jalur Metro.

Meskipun usaha restorannya sudah cukup laris, Mama Rozie mengaku sudah rindu kampung halaman. Ia mengatakan, tak lama lagi dia akan kembali ke kampung halamannya. Ke depan, restorannya akan dikelola oleh ketiga anaknya yang memang sudah fokus sebagai pengelola harian restoran Mama Rozie.

Di tangan anak-anaknya itulah, restoran Mama Rozie ingin dikemas supaya lebih menarik lebih banyak kunjungan. Seperti kebiasaan tiap Senin di mana terdapat menu spesial untuk makan siang, yakni menu yang berubah-ubah tiap pekannya. Bahkan, khusus pada penyelenggaraan Piala Dunia 2022 ini terdapat potongan harga hingga 30 persen untuk pengunjung yang datang.

Bagaimana dengan diskon untuk jurnalis asal Indonesia? Ssstt ... Jangan bilang siapa-siapa karena kami mendapatkan potongan setengah harga alias 50 persen.

Meneladan Kesederhanaan dan Keteguhan KH AR Fachruddin

Dia dikenal sebagai pribadi yang ramah, mengayomi banyak pihak, bijaksana, dan zuhud.

SELENGKAPNYA

Jejak Tsunami Purba di Serambi Makkah

Temuan ahli geoteknologi dan arkeolog di Aceh menunjukkan, Aceh pernah mengalami tsunami jauh sebelum peristiwa tsunami 2004.

SELENGKAPNYA

Perjalanan Panjang ke Al Bayt

Tempat duduk para jurnalis Indonesia tidak disediakan layar monitor untuk menonton pertandingan

SELENGKAPNYA