Warga berziarah pada hari raya Idul Adha 1443 Hijriah di kuburan massal korban tsunami Siron, Aceh Besar, Aceh, Sabtu (9/7/2022). | ANTARA FOTO / Irwansyah Putra/aww.

Kronik

Jejak Tsunami Purba di Serambi Makkah

Temuan ahli geoteknologi dan arkeolog di Aceh menunjukkan, Aceh pernah mengalami tsunami jauh sebelum peristiwa tsunami 2004.

OLEH ANDI NUR AMINAH

Disadur dari Harian Republika edisi 26 Desember 2011

Artefak kuno yang terhampar di atas sebuah lokasi di kawasan Lhok Cut dan Lhok Lubhok, di wilayah Aceh Utara, ditemukan adanya banyak tembikar gaya Asia Selatan maupun keramik kuno dari masa Yuan. Pada 2010 hingga awal 2011 lalu, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bersama Singapore Earth Observatory (SEO) melakukan penggalian secara periodik di pinggiran pantai tersebut.

Di kawasan pantai itu, mereka menemukan sisasisa lapisan karang dalam tebing pantai yang telah hancur kecil-kecil bagaikan kerikil. Karang tersebut kemudian dianalisis di laboratorium dan diperoleh bukti jika telah terjadi hantaman tsunami kuno di pantai tersebut sekitar abad 15.

Penggalian yang lebih intensif dilakukan arkeolog independen Aceh Deddy Satria bersama tim peneliti dari SEO, di antaranya, Eduard McKinnon. Mereka pun menemukan banyak pecahan beling kuno dari tanah galian sekitar kawasan itu. Temuan tersebut, menurut McKinnon, menunjukkan di lokasi tersebut pernah ada pemukiman yang cukup ramai sekitar 600 hingga 700 tahun yang lalu.

Di lokasi lain, McKinnon yang sudah meneliti Aceh sejak 1975 mengatakan, ia pernah mendatangi Gampong Lambaro Neujid di Kecamatan Lamba deuk, Aceh Besar. McKinnon mengatakan, berdasarkan penuturan masyarakat setempat, di situ pernah ada bangunan masjid kuno yang konon sudah menghilang ditelan laut beberapa tahun silam.

photo
Sejumlah pengunjung berada di kawasan objek wisata situs tsunami kapal PLTD Apung Desa Punge Blang Cut, Banda Aceh, Aceh, Ahad (19/12/2021). - (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

Cerita-cerita tersebut memang masih memerlukan penelitian lebih mendalam dan berkelanjutan untuk menulusuri jejak-jejak situs purba yang tersisa. Setidaknya, hasil temuan tentang situs yang diistilahkan McKinnon sebagai ‘kampung yang hilang’, bisa terungkap.

Ditemukannya situs-situs kuno yang ditaksir usianya bahkan lebih tua dari usia Kesultanan Aceh Darussalam itu, jika dikaitkan dengan hasil penelusuran tim ahli Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), tentang jejak tsunami kuno di Aceh, tampaknya bisa disandingkan.

Seorang ahli Geoteknologi yang meneliti tentang paleotsunami di Aceh, Eko Yulianto, menyatakan peristiwa tsunami 26 Desember 2004 yang meluluhlantahkan Aceh, sebetulnya pernah terjadi di Aceh ratusan tahun silam. Berdasarkan riset yang dilakukan LIPI, endapan paleotsunami di daerah Meulaboh, Aceh, menunjukkan jika di lokasi itu pernah terjadi tsunami besar sekitar 600 tahun silam. Hal ini diungkapkan Eko pertengahan 2011 lalu.

Temuan tersebut menepis anggapan jika Aceh belum pernah dilanda gempa Bumi di atas 9 SR yang mengakibatkan munculnya gelombang tsunami sebelum 2004. Para arkeolog menyatakan ada jejak tsunami kuno yang sisanya tersimpan di bebatuan dan pasir pantai.

Para ahli geoteknologi pun berpendapat serupa. Meskipun titik yang dimaksud lokasinya sedikit berbeda, namun boleh jadi, peristiwa tsunami yang dimaksud adalah tsunami yang sama.

Menurut Eko, sayangnya, penemuan LIPI itu baru diperoleh hasilnya setelah musibah tsunami 2004 terjadi di Aceh. Padahal jika ditemukan lebih cepat, kemungkinan jumlah korban gempa dan tsunami Aceh pada 2004 lalu bisa diminimalisasi.

Mengapa demikian? Kepala Pusat Geoteknologi LIPI, Bandung, Hery Haryono mengatakan, jika sebuah daerah pernah memiliki memori bahwa wilayahnya itu pernah terkena gempa, akan membuat penduduknya lebih berhati-hati. Selain itu, untuk menghindari jatuhnya korban lebih banyak, pembangunan ruang-ruang publik yang permanen tidak ditempatkan di wilayah yang rawan.

Hery mengatakan, pemahaman tentang sejarah kegempaan sebuah wilayah bisa disandingkan dengan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Dia mencontohkan, fasilitas-fasilitas seperti rumah sakit, sebaiknya tidak dibangun di lokasi-lokasi yang rawan seperti di daerah pantai. “Bagaimana bisa mengevakuasi orang-orang ke rumah sakit misalnya, jika nanti rumah sakitnya sendiri hancur,” ujarnya.

Lokasi-lokasi rawan bisa dirancang untuk pembangunan pasar, lapangan olahraga, dan semacamnya yang dilengkap fasilitas jalur-jalur evakuasi yang mudah diakses.

photo
Sejumlah wisatawan mengunjungi objek wisata Museum Tsunami di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (7/5/2022). - (ANTARA FOTO/Ampelsa)

Menurut Hery, daerah yang pernah memiliki sejarah kegempaan, baik menimbulkan tsunami maupun tidak, berpeluang untuk terjadi lagi. Namun untuk tingkat yang berat, kemungkinannya akan berulang lagi juga cukup lama. “Bisa ratusan tahun kemudian baru terjadi. Karena, untuk mengisi kembali energi yang sudah dimuntahkan atau dikeluarkan, butuh waktu lama hingga ratusan tahun,” ujarnya.

Namun saking lamanya, bisa membuat seseorang lupa. Karena itulah, penting membuat catatan sejarah kegempaan ataupun semacam monumen atau museum untuk mengenang peristiwa bencana itu. Karena itu, menurutnya, generasi muda saat ini perlu memiliki dan mengetahui jika daerahnya memiliki sejarah kegempaan.

Khusus di Sumatra, tim Geoteknologi LIPI sebetulnya sudah lama melakukan pengkajian. Bahkan sebelum tahun 2000, para peneliti ini sudah mengetahui jika Pulau Sumatra menyimpan energi besar terkait gempa. Namun, ketika itu fokusnya bukan di Aceh melainkan di depan pulau Sumatra, salah satunya Mentawai.

Penelitian di Sumatra umumnya dilakukan melihat sejarah gempa di Sumatra cukup banyak. Menurutnya, terkait masalah gempa, peneliti LIPI yang didukung peralatan yang kian canggih, sebetulnya bisa memperkirakan berapa besar potensi gempa yang akan terjadi di suatu daerah. Namun, kapan waktunya itu yang belum bisa diprediksi.

photo
Gempa Bumi di Indonesia (1902-2019) - (Wikimedia Commons)

Pulau Sumatra menurutnya, cukup mudah diprediksi. Mengapa Sumatra jauh lebih mudah terpantau dari pulau-pulau lainnya? Jawabnya karena di sekitar pulau Sumatra banyak pulau-pulau kecil lainnya, seperti Mentawai, Nias, Semeule yang bisa merekam jejak sejarah kegempaan masa lalu.

“Kalau tsunami pernah terjadi, endapan-endapannya bisa tersimpan di sisi-sisi pulau itu. Makin tebal endapan pasirnya, berarti energinya pun makin besar. Kekuatannya itu bisa kita lacak, di sisi barat Sumatra, ini sudah kita lacak,” ujar Hery.

Berbeda dengan pulau Jawa yang tak banyak memiliki pulau-pulau kecil di sekitarnya, maka peristiwa tsunami cukup sulit mencatatnya. Menurutnya, gempa-gempa di daratan Jawa sudah tercatat dalam sejarah yang dikumpulkan sejak zaman Belanda. Namun, gempa-gempa yang berpotensi tsunami belum dicatatkan.

Pentingnya catatan atau memori sejarah kegempaan suatu daerah itu, menurut Hery, akan sangat bermanfaat bagi generasi kita ke depan, lima bahkan enam generasi berikutnya. Dia mencontohkan peristiwa stunami Aceh di Pulau Semeuleu. Hery mengatakan, wilayah Semeuleu, pusat gempa hanya berjarak sekitar delapan menit. Namun, korban yang jatuh di daerah ini tidak lebih dari sepuluh orang.

Menurut Hery, boleh jadi karena masyarakat Semeuleu memiliki memori tentang tsunami yang pernah melanda daerah tersebut pada 1907. Mungkin generasi yang mengalami gempa tersebut sudah habis. Namun, masyarakat Semeule memiliki tradisi bertutur lisan yang disebut smong. Smong dilakukan dengan cara didendangkan di surau-surau atau di rumah oleh para orang tua kepada anak-anaknya.

 
Tradisi ini mengajarkan kepada masyarakat setempat untuk segera lari ke bukit atau tempat yang lebih tinggi jika melihat air di pantai tiba-tiba surut.
 
 

Inilah salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Semeule. Tradisi ini mengajarkan kepada masyarakat setempat untuk segera lari ke bukit atau tempat yang lebih tinggi jika melihat air di pantai tiba-tiba surut. Tradisi leluhur yang masih tersisa seperti ini juga dikenali oleh masyarakat Jawa, khususnya yang bermukim di kawasan gunung berapi. Misalnya, jika melihat kera-kera turun gunung dan hewan-hewan bertingkah laku di luar kebiasaan, maka akan terjadi petaka yang bersumber dari gunung berapi.

Persoalan gempa, para ahli memang sudah bisa memprediksi berapa besar skalanya pada waktu mendatang. Namun, kapan datangnya, itulah faktor X yang di luar batas kemampuan manusia untuk menebaknya.

Sebuah pelajaran mahal, menurut Hery, terjadi saat gempa yang meluluhkan Jepang. Menurutnya, kecanggihan teknologi dan kepiawaian para ahli gempa Jepang sudah mengantisipasi kemungkinan gempa tersebut. Namun, kesalah prediksi terjadi pada angkanya.

Menurutnya, kasus di Jepang, para ahli memprediksi gempa berkekuatan 7,8 SR akan terjadi. Namun, yang muncul ternyata di luar dugaan yakni 9,0 SR. Sebetulnya, angka itu pun sudah diduga pula, hanya tidak diperkirakan jika kejadiannya muncul bersamaan.

Meneladan Kesederhanaan dan Keteguhan KH AR Fachruddin

Dia dikenal sebagai pribadi yang ramah, mengayomi banyak pihak, bijaksana, dan zuhud.

SELENGKAPNYA

Perjalanan Panjang ke Al Bayt

Tempat duduk para jurnalis Indonesia tidak disediakan layar monitor untuk menonton pertandingan

SELENGKAPNYA

Menanti Tarian Messi di Lusail

Arab Saudi menjadi ujian perdana Messi untuk merengkuh trofi juara Piala Dunia.

SELENGKAPNYA