Sejumlah orang berfoto bersama dengan latar Masjid Raya Darussalam, Palangka Raya. Masjid yang indah di Kalteng ini kerap menjadi destinasi wisata. | DOK ANTARA MAKNA ZAEZAR

Khazanah

Dorong Hadirnya Masjid Pemberdaya

Masjid perlu memiliki manajemen yang rapi, baik dalam program ibadah maupun ekonomi

JAKARTA – Lembaga filantropi Islam Dompet Dhuafa (DD) bekerja sama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) menginisiasi hadirnya Kolaborasi Masjid Pemberdaya (KMP). Dalam kolaborasi ini, KMP berfokus memberdayakan potensi masjid untuk mengentaskan kemiskinan dan meluaskan kebermanfaatan untuk umat.

Ketua Presidium Nasional KMP Andi Juliandi mengatakan, KMP hadir dengan memaksimalkan dan memfokuskan lima pilar fungsi masjid. Fokus tersebut, yakni fungsi baitullah, baitul maal, baitul dakwah, baitul tarbiyah, dan baitul muamalah.

“Harapannya masjid tidak hanya sebagai tempat beribadah, namun dapat menjadi lembaga yang memegang amanah dari umat, khusunya zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf),” katanya melalui keterangan pers yang diterima Republika, Selasa (4/10).

 

 

Harapannya masjid tidak hanya sebagai tempat beribadah, namun dapat menjadi lembaga yang memegang amanah dari umat

 

ANDI JULIANDI Ketua Presidium KMP
 

 

Melalui KMP, umat diharapkan bisa bangkit, berdaya, dan keluar dari kemiskinan yang kini dirasa semakin menjerat masyarakat. "Tidak hanya negara, kita jadikan masjid sebagai solusi untuk umat. Harapannya setelah ini akan ada kebermanfaatan yang dibawa oleh para takmir untuk memajukan masjidnya sesuai lima pilar masjid tersebut," kata Andi

Saat ini, kata dia, masjid-masjid yang ada di tengah masyarakat Indonesia pada umumnya hadir untuk memberikan pelayanan ritual ibadah shalat rutin lima waktu. Begitu waktu shalat berjamaah selesai, masjid kembali ditutup bahkan dikunci pintunya.

Menurut dia, sangat sedikit masjid yang menyediakan layanan pendidikan Alquran bagi anak-anak dan jamaah dewasa. Lebih sedikit lagi masjid yang bisa memberikan ruang untuk insan-insan muda bisa merasa berarti dan berguna di hadapan masyarakat dan jamaah.

Hal itu, kata dia, karena pada umumnya para pengurus dan pengelola masjid bekerja untuk mengabdi dan memakmurkan masjid secara sukarela dan kurang profesional, sehingga hasilnya juga tidak optimal dalam menghadirkan layanan yang prima bagi jamaah dan masyarakat di sekeliling masjid.

Untuk bisa mewujudkan para pengurus masjid yang profesional, menurut dia, dibutuhkan masjid yang memiliki manajemen yang rapi, baik dari sisi tata kelola program ibadah maupun program ekonomi. Dengan begitu, masjid memiliki kemampuan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

photo
Lampu lampion terpasang menghiasi jalanan di depan Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Kamis (24/3/2022). Masjid Jogokariyan mulai bersiap menyambut Ramadhan, salah satunya adanya Kampung Ramadhan Jogokariyan (KRJ). Pasar sore bagi warga masyarakat yang menjual aneka makanan takjil untuk berbuka puasa. Selain KRJ di Masjid Jogokariyan juga diadakan berbuka puasa bersama selama Ramadhan. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Andi mengatakan, seluruh anggota KMP memiliki visi-misi yang sama sebagai pengentas kemiskinan dan pemberdaya umat. Dia mengungkapkan, terdapat enam misi dari KMP di antaranya, meningkatkan peran masjid, menyiapkan kepemimpinan, mengoptimalkan SDM bagi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat, menjadikan masjid sebagai pusat pergerakan dakwah, dan pengelolaan ziswaf.

Saat ini, anggota KMP di Jabodetabek mencapai 80 masjid. Sementara itu, di daerah baru hadir di Yogyakarta dengan 51 anggota yang diresmikan pada Sabtu (1/10) lalu.

"Harapannya seluruh masjid di Indonesia yang menurut DMI (Dewan Masjid Indonesia) ada 800 ribu menjadi masjid pemberdaya, agar masyarakat berdaya, tadinya mustahik menjadi muzaki," ujar Andi.

 

 

Harapannya seluruh masjid di Indonesia yang menurut DMI (Dewan Masjid Indonesia) ada 800 ribu menjadi masjid pemberdaya

 

ANDI JULIANDI Ketua Presidium Nasional KMP
 

 

Terkait hal ini, Sekretaris Jenderal DMI Imam Addaruquthni menilai, program KMP itu bagus. Sebab, masjid adalah tempat paling akomodatif di kalangan umat. Masjid juga menjadi tempat untuk semua orang tanpa diskriminatif.

"Karena kondisi umat Islam ini dari berbagai latar belakang dan budaya, organisasi dan lain-lain, maka upaya apapun yang terkait dengan masjid dan berbasis masjid yang bersifat kolaboratif itu bagus," kata Imam kepada Republika, Selasa (4/10).

Ia pun berharap kolaborasi ini bisa menjawab apa yang ingin diwujudkan untuk umat. Namun, ia mengingatkan, yang lebih penting sekarang, apa pun kolaborasinya, yang mesti diwujudkan adalah kepentingan masjid dan umat. Jadi, bukan mewujudkan keinginan organisasi, tapi mewujudkan yang diinginkan atau dibutuhkan masjid dan umat.

"Apa yang bisa diwujudkan untuk umat, kalau itu orientasinya, itu akan lebih bagus, jadi kita membuat organisasi bukan untuk organisasi, tapi kita dedikasikan untuk umat dan masyarakat," ujar Imam. n umar mukhtar ed: wachidah handasah

Masjid Agung al-Falah, Seribu Tiang di Jambi

Masjid Agung al-Falah ini terbuka, dalam arti tidak bertembok ataupun pintu.

SELENGKAPNYA

Masjid Sultan Ismail Petra, Nuansa Beijing di Kelantan

Bangunan legasi sultan Kelantan ini menyerupai masjid tertua di ibu kota Negeri Tirai Bambu.

SELENGKAPNYA

Masjid Bisa Tumbuhkan Kesadaran Lingkungan

Peran institusi keagamaan penting dalam mengembangkan wawasan dan perilaku ramah lingkungan.

SELENGKAPNYA