Pengunjung membaca buku koleksi Perpustakaan . | ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Opini

Statistik dan Literasi Informasi

Buruknya kualitas statistik akan mendegradasikan kemampuan seseorang dalam mengolah informasi.

SRI HARTONO, Pustakawan Ahli Muda Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

Setidaknya, ada dua kesamaan antara Hari Statistik Nasional dan Hari Literasi Internasional. Sama-sama diperingati pada September dan kurang mendapat perhatian masyarakat. Namun, statistik berperan besar dalam pengembangan literasi informasi.

Konsep literasi informasi pertama kali diperkenalkan Paul G Zurkowski, president of the International Industry Association pada 1974. Intisari istilah ini, kemampuan seseorang membaca, mengolah, dan menggunakan informasi secara efektif guna memecahkan masalah.

Informasi, menurut definisi R Kelly Rainer, adalah data yang telah diolah menjadi bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau mendatang. Berpijak pada definisi ini, literasi informasi membutuhkan dukungan statistik berkualitas.

Buruknya kualitas statistik akan mendegradasikan kemampuan seseorang dalam mengolah informasi. Sebagaimana diuraikan Dr Suhariyanto, kepala Badan Pusat Statistik (BPS) periode 2016 – 2021, statistik berkualitas harus memenuhi sekurang-kurangnya tiga hal.

 

 
Buruknya kualitas statistik akan mendegradasikan kemampuan seseorang dalam mengolah informasi.
 
 

Pertama, data statistik yang dikumpulkan harus relevan dengan masalah yang dihadapi. Kedua, harus akurat atau memiliki kesesuaian dengan kenyataan di lapangan. Akurasi data statistik penentu tingkat kredibilitasnya.

 

Ketiga, harus mudah diinterpretasikan sehingga penggunanya bisa menghasilkan kesimpulan yang tepat. Data statistik berkualitas memberi banyak manfaat untuk pihak-pihak berkepentingan.

Data kredibel menjadi dasar kuat dalam analisis ilmiah sehingga membuahkan kesimpulan logis dan faktual. Selanjutnya, menjadi acuan pengambilan keputusan, sekaligus dasar membuat prediksi berbagai kemungkinan pada masa mendatang.

Dalam kacamata praktis, bukan hanya akademisi dan peneliti yang membutuhkan statistik berkualitas. Banyak institusi membutuhkannya untuk membuat peta masalah dan merumuskan langkah strategisnya.

Tak terkecuali Perpustakaan Nasional dan Daerah, yang menggunakan statistik dari sumber data primer ataupun sekunder, untuk mengetahui tingkat kunjungan dan persepsi publik terhadap perpustakaan.

 
Dalam kacamata praktis, bukan hanya akademisi dan peneliti yang membutuhkan statistik berkualitas.
 
 

Salah satu sumber data sekunder yang bisa digunakan pustakawan adalah Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS 2019. Menurut hasil survei tersebut, hanya sekitar 13,02 persen penduduk usia lima tahun ke atas yang datang ke perpustakaan.

Terkait statistik kunjungan ke perpustakaan, bisa dikorelasikan dengan data persepsi publik terhadap perpustakaan.

Sebuah riset berjudul “From Awareness to Funding: A Study of Library Support in America”, yang dilakukan Online Computer Library Center melaporkan, perpustakaan dalam persepsi masyarakat adalah sumber informasi tradisional.

Dari hasil riset ini bisa ditarik hipotesis, citra perpustakaan itulah yang berdampak pada rendahnya tingkat kunjungan ke perpustakaan. Statistik lain yang patut diperhatikan adalah data kemiskinan BPS.

Pada 2020, jumlah penduduk miskin 26,42 juta jiwa atau sekitar 9,78 persen.

Pandemi Covid-19 yang membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar menimbulkan efek domino, berupa peningkatan angka kemiskinan sehingga pada 2021 jumlah penduduk miskin melonjak menjadi 27,54 juta jiwa atau sekitar 10,14 persen.

 
Pandemi Covid-19 yang membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar menimbulkan efek domino.
 
 

Bagi Perpustakaan Nasional ataupun Daerah, kesadaran atas hubungan kuat antara literasi infomasi berbasis data statistik berkualitas dan kesejahteraan, sudah tumbuh sebelum peringatan Hari Statistik Nasional 2022.

Semua data yang diuraikan di atas, dihubungkan dengan teori literasi dan doktrin agama yang mengatakan ilmu dari kecakapan membaca adalah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat. Hasil analisis ini berupa program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Konsep perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah jawaban atas kritik sebagian masyarakat yang cenderung pragmatis. Melalui gagasan ini, perpustakaan dengan segala koleksi bahan pustakanya bisa diakses sebagai solusi atas kebutuhan masyarakat akan kesejahteraan.

Masyarakat petani bisa mengakses buku-buku teknik pertanian. Pelaku UMKM pada era digitalisasi bisa mengakses buku bertema online marketing. Begitu pula, masyarakat lainnya.

Agar efektif, implementasi program perpustakaan berbasis inklusi sosial perlu ditopang data statistik terkait kondisi demografi masyarakat sekitar perpustakaan, terutama latar belakang pendidikan dan pekerjaannya.

 
Pelaku UMKM pada era digitalisasi bisa mengakses buku bertema online marketing. Begitu pula, masyarakat lainnya.
 
 

Data itulah yang akan menjadi acuan pustakawan menyesuaikan koleksi bahan pustakanya dengan kebutuhan masyarakat. Diharapkan, konsep perpustakaan berbasis inklusi sosial untuk kesejahteraan masyarakat bermanfaat, baik buat pustakawan maupun pemustaka.

Bagi pustakawan, transformasi mengubah citra mereka sebagai petugas perpustakaan yang pasif menunggu kunjungan pemustaka. Pustakawan lebih pro aktif menjadikan literasi sebagai solusi atas masalah riil di masyarakat sekitarnya.

Bagi masyarakat, khususnya pemustaka, program inklusi sosial meningkatkan literasi informasi untuk peningkatan kualitas hidup mereka, baik secara spiritual maupun finansial.

Harga Ayam Hidup Masih di Bawah Biaya Produksi

Kejatuhan harga ayam potong akibat pasokan yang masih menumpuk di kandang peternakan.

SELENGKAPNYA

LPS Waspadai Perlambatan Pertumbuhan DPK

Kenaikan suku bunga deposito akan terbatas karena kondisi likuiditas relatif baik.

SELENGKAPNYA