Presiden Sukarno bersama Ketua Partai Komunis Indonesia DN Aidit pada Perayaan ulang tahun Partai Komunis Indonesia pada 23 Mei 1965. | wikimedia commons

Kronik

Tragedi 30 September 1965, Sejumlah Versi

Tak lama setelah peristiwa G-30-S/PKI, bermunculan berbagai analisis soal pemicunya.

G-30-S/PKI adalah episode sejarah politik Indonesia yang sangat kontroversial. Di luar versi resmi pemerintah sebagaimana yang tertuang dalam buku G30S PKI: Latar Belakang, Aksi dan Penumpasannya (Setneg RI, 1994), berbagai literatur selama 30 tahun ini telah berusaha memotret peristiwa tersebut dalam gambar yang beragam.

Yang menjadi titik utama pertanyaan adalah: Siapakah yang berada di belakang kudeta tersebut? Staf Litbang Republika, R Eep Saefulloh Fatah, melacak kembali berbagai literatur utama yang terlibat dalam perdebatan tentang episode tersebut.

Berikut adalah rangkuman dari perdebatan itu (Sebuah tulisan lain, tentang perdebatan peran Soekarno).

Artikel Hall dan Cornell Paper

Tak lama setelah peristiwa G-30-S/PKI, setidaknya ada dua analisis yang muncul dari pengamat asing yang, menariknya, keduanya bertentangan. Dalam Reader's Digest edisi November 1966, Clerence W Hall menggambarkan G-30-S/PKI sebagai manuver PKI dan Soekarno untuk melanjutkan skenario politik yang telah mereka susun selama Demokrasi Terpimpin. Dalam versi Hall, PKI dan Soekarno adalah dalang di belakang peristiwa berdarah itu.

Nyaris bersamaan dengan publikasi tulisan Hall, muncul Cornell Paper; makalah Benedict ROG. Anderson dan Ruth McVey berjudul A Preliminary Analysis of The October 1, 1965, Coup in Indonesia (1966). Anderson dan McVey menyimpulkan bahwa G-30-S/PKI adalah persoalan intern Angkatan Darat.

photo
DN Aidit sedang berpidato. - (istimewa)

PKI bukanlah dalang. Menurut versi ini keterlibatan PKI terjadi dalam saat-saat akhir, itu pun karena PKI ''dipancing untuk masuk'' dan akhirnya benar-benar terseret masuk. Keterlibatan PKI, menurut Cornell Paper, hanya bersifat insidental belaka.

Banyak yang meragukan kesahihan artikel Hall maupun Cornell Paper. Kedua analisis ini dibuat pada saat Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) masih menyidangkan para pelaku G-30-S/PKI dan banyak dokumen belum terungkap. Wajar jika Cornell Paper -- yang memang lebih terkenal ketimbang artikel Hall -- pun mendapatkan reaksi dari pelbagai penjuru.

Bantahan terhadap Cornell Paper

Dari dalam negeri, dua tahun setelah publikasi Cornell Paper, muncul bantahan dari Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh melalui buku The Coup Attempt of The September Movement in Indonesia (1968). Ismail Saleh dan Notosusanto membantah versi Anderson dan McVey dengan menunjukkan bahwa PKI lah yang mendalangi kup yang gagal di penghujung September itu.

Menurut versi ini, Angkatan Darat sama sekali tidak menduga akan terjadi peristiwa berdarah itu. Dengan begitu, versi ini membantah analisis Anderson dan McVey bahwa peristiwa itu adalah ekspresi persoalan intern di dalam tubuh Angkatan Darat.

photo
Letnan Kolonel Soeharto dalam operasi pemberantasan PKI pada 1965. - (Istimewa)

Pada tahun yang sama (1968) terbit pula buku John Hughes berjudul The End of Soekarno. A Coup that Misfired: A Purge that Ran Wild. Buku ini menunjukkan G-30-S/PKI lebih sebagai kup PKI daripada persoalan intern Angkatan Darat. Hughes -- sebagaimana Ismail Saleh dan Notosusanto -- melihat militer sebagai penyelamat keadaan, bukan dalang di belakang tragedi besar itu.

Bantahan terhadap Cornell Paper juga datang dari Anthonie CA Dake melalui dua karyanya: In The Spirit of Red Banteng dan The Deviuos Dalang: Sukarno and the So-Called Untung Putch. Eyewitness Report by Bambang S. Widjanarko. Dake menilai bahwa Soekarno lah dalang G-30-S/PKI. Soekarno -- menurut Dake -- tidak sabar menghadapi tokoh-tokoh Angkatan Darat yang tidak suka program revolusinya.

Melalui konspirasinya dengan kekuatan komunis -- "musuh" Angkatan Darat sepanjang Demokrasi Terpimpin -- Soekarno merasa perlu untuk melakukan "pembersihan".

Versi Dake tersebut memperoleh dukungan antara lain dari David Lowenthal seorang profesor ahli Soviet-Jerman. Dengan mendasarkan diri pada dokumen-dokumen otentik pemeriksaan Widjanarko, Lowenthal menunjukkan secara eksplisit keterlibatan Soekarno dalam G-30-S/PKI.

Menurut Lowenthal -- sebagaimana dikutip Soerojo (1989; xxvii) -- Soekarno mengkreasi peristiwa itu untuk menghilangkan kerikil-kerikil yang mengganjal jalannya "revolusi yang belum selesai".

Keterlibatan Amerika

Versi lain mengungkapkan CIA sebagai dalang di belakang peristiwa G-30-S/PKI. Versi ini antara lain diungkapkan melalui sebuah tulisan Peter Dale Scott -- guru besar Universitas California, Berkeley -- yang termuat dalam Pacific Affairs (1984).

photo
Duta Besar AS Marshal Green (kiri) dipaksa makan durian oleh Presiden Soekarno (kanan) dalam sebuah cara, dua hari sebelum peristiwa G30S/PKI. - (AP Photo)

Setelah publikasi versi Dale, pada Juli 1990, kontroversi soal keterlibatan CIA kembali diungkap oleh Kathy Kadane, wartawati kantor berita States News Service Amerika Serikat. Kadane menyatakan bahwa CIA lah yang memberikan daftar 5.000 nama tokoh PKI kepada TNI Angkatan Darat pada 1965. Tokoh-tokoh yang ada dalam daftar itulah yang kemudian dihabisi seusai kegagalan G-30-S/PKI.

Sebelum muncul artikel Kadane, ada bahan lain yang mengungkapkan keterlibatan CIA, yakni buku CIA-KGB yang ditulis oleh Celina Beldowska dan Jonathan Bloch (1987). Dalam buku ini tertulis tegas: "Pada 1965, CIA dengan sukses mengorganisir kampanye propaganda untuk menggulingkan Soekarno".

Dua belas tahun sebelum terbitnya buku Beldowska dan Bloch -- tepatnya April 1975 -- dalam Konferensi "CIA dan Perdamaian Dunia", Winslow Peck (analis intelijen Dinas Keamanan AU Amerika) secara gamblang juga mengungkap keterlibatan CIA. Peck menyebut penggulingan Soekarno di akhir 1960-an adalah sukses CIA yang disokong oleh pelbagai pihak pro-Barat di Asia, terutama Asian Regional Organization.

Versi keterlibatan Amerika -- terutama melalui CIA -- tersebut ditentang oleh sejumlah kalangan. Dari kalangan resmi pemerintah AS, Marshall Green -- duta besar Amerika di Jakarta yang menyaksikan sendiri perpindahan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto -- mengajukan bantahan melalui bukunya Dari Sukarno ke Soeharto: G 30 S - PKI dari Kacamata Seorang Duta Besar (1992).

photo
Duta Besar AS Marshal Green (kiri) menemui penjabat presiden Indonesia Letkol Soeharto pada 1967. - (LIFE)

Dalam ulasannya -- dengan bahasa diplomasi yang kental -- Green menilai G-30-S/PKI memiliki kaitan dengan gerakan komunis internasional yang saat itu memang sedang menggencarkan perluasan ideologi komunis di Asia tenggara, terutama melalui Vietnam dan Indonesia. Green bahkan menunjuk adanya sejumlah indikasi keterlibatan RRC di belakang manuver PKI yang gagal itu.

Howard Palfrey Jones, mantan dubes Amerika untuk Indonesia sebelum Green, juga memaparkan versi yang serupa. Dalam bukunya Indonesia: The Possible Dream (1971), Jones menggambarkan G-30-S/PKI sebagai kudeta abortif kekuatan komunis di Indonesia untuk melenyapkan pimpinan teras Angkatan Darat serta lebih lanjut membangun pemerintahan kiri.

Amerika, di mata Jones, tidak ikut serta mengkreasi kudeta itu atas nama kepentingan politik apa pun.

Dari kalangan akademisi, bantahan semacam itu pernah datang dari HW Brands, asisten profesor pada sebuah universitas di Texas. Melalui artikelnya, "The Limits of Manipulation: How the United States Didn't Topple Sukarno" (termuat di Journal of American History edisi Desember 1989), Brands membantah keterlibatan Washington dalam penumbangan Soekarno.

Dengan menggunakan bahan yang sebagian besar diperoleh dari perpustakaan Lyndon B Johnson, Brands menyimpulkan adalah tak mungkin Amerika ada di belakang penggulingan Soekarno di penghujung 1960-an itu.

Berita ini disadur dari Harian Republika edisi 30 September 1995