ILUSTRASI Baitullah di Makkah al-Mukarramah. Dahulu, dikisahkan seorang ulama tabiin Urwah bin Zubair bermunajat di sana, memohon kepada Allah dalam perkara ilmu agama | DOK WIKIPEDIA

Kisah

Doanya Ahli Ilmu

Doanya saat menunaikan ibadah haji itu berisi harapan, kiranya Allah menetapkannya sebagai seorang alim.

OLEH HASANUL RIZQA

Pada zaman dahulu, terdapat seorang tabiin yang bernama Urwah bin Zubair. Ia dikenal sebagai pribadi yang zuhud, tidak terbelenggu nafsu-nafsu duniawi. Lelaki yang menjalani kehidupan dengan sangat bersahaja itu juga sangat gemar menuntut ilmu-ilmu agama.

Seperti dinukil dari buku Mereka Adalah Tabiin, pada suatu ketika ketiga remaja yang saling bersahabat itu menunaikan ibadah haji. Dari daerah masing-masing, mereka bertemu di dekat pintu perbatasan Makkah al-Mukarramah. Para pemuda itu adalah Abdullah bin Zubair, Mush’ab bin Zubair, dan Urwah sendiri. Ketiganya disertai seorang kawannya, yakni Abdul Malik bin Marwan.

Dengan hati yang lapang dan gembira, mereka bergabung dengan seluruh jamaah yang berarak menuju Baitullah. Sesampainya di Masjidil Haram, keempat orang tabiin itu dengan khusyuk melaksanakan rukun-rukun haji. Lantunan tahlil dan takbir bergema, menambah syahdu suasana.

Usai tuntas mengerjakan seluruh rangkaian haji, keempatnya membentuk halakah di dekat Rukun Yamani. Mereka memanjakan pandangan matanya dengan menyaksikan orang-orang beribadah di Masjidil Haram. Kemudian, para tabiin ini saling berbagi cerita, tanpa senda gurau yang mengandung dosa.

Abdullah menuturkan tentang kenikmatan berzikir. Salah seorang dari mereka lantas mengusulkan agar masing-masing mengungkapkan, apa saja harapan yang dipanjatkan saat berdoa di dekat Ka’bah.

 
Salah seorang dari mereka lantas mengusulkan agar masing-masing mengungkapkan, apa saja harapan yang dipanjatkan saat berdoa di dekat Ka’bah.
 
 

Abdullah mengawalinya dengan berkata, “Ketika aku bermunajat setelah tawaf tadi, aku berharap kiranya Allah menjadikanku penguasa atas seluruh Hijaz.”

“Kalau aku, keinginanku adalah menjadi penguasa wilayah Irak. Semoga tidak ada yang merongrong kekuasaanku kelak,” ujar Mush’ab menimpali Abdullah.

Kemudian, giliran Abdul Malik bin Marwan yang menyampaikan isi munajatnya. “Bila kalian berdua sudah merasa cukup dengan itu, aku tidak akan puas sebelum bisa menguasai seluruh dunia. Aku berdoa semoga diriku menjadi khalifah sesudah Mu’awiyah bin Abi Sufyan,” jelas seorang keturunan Bani Umayyah itu.

Sementara itu, Urwah tampak masih tenggelam dalam kekhusyukan membaca shalawat Nabi SAW. Melihatnya, ketiga remaja itu kemudian mendekati dan bertanya kepadanya.

“Wahai Urwah, bagaimana dengan keadaanmu? Apa cita-citamu kelak yang engkau sisipkan dalam doamu?” tanya seorang dari mereka.

“Semoga Allah Ta’ala memberkahi semua cita-cita dan urusan dunia kalian. Aku ingin menjadi seorang yang berilmu dan beramal sehingga orang-orang dapat mengambil dariku ilmu tentang Tuhan mereka, sunah Nabi-Nya, dan hukum-hukum syariat. Semoga Allah memudahkan jalanku hingga memasuki surga dengan ridha-Nya,” kata Urwah. Berbeda dengan mereka, doanya adalah munajat seorang penuntut ilmu.

Menjadi nyata

Hari-hari berganti. Pada akhirnya, munajat yang keempat tabiin itu panjatkan menjadi kenyataan. Setelah Yazid bin Mu’awiyah wafat, Abdullah bin Zubair menjadi penguasa atas Hijaz, Mesir, Yaman, Khurasan, dan Irak.

Namun, pergolakan politik terjadi sehingga menyebabkan dirinya berkonflik dengan lawan yang juga berhasrat kekuasaan. Abdullah kemudian terkepung dan dibunuh di Makkah, tidak begitu jauh dari titik tempatnya dahulu berdoa.

Adapun Mush’ab bin Zubair juga menguasai Irak setelah saudaranya, Abdullah. Akan tetapi, ia pun bernasib tragis. Saat sedang mempertahankan wilayahnya, ia terbunuh oleh musuh.

Sementara itu, Abdul Malik bin Marwan naik menjadi khalifah usai ayahnya, Marwan bin Hakam, meninggal dunia. Walaupun sempat melalui berbagai turbulensi politik, pada akhir masa pemerintahannya stabilitas nasional dan kemakmuran umum relatif terwujud di tengah masyarakat.

Maka, bagaimana halnya dengan Urwah bin Zubair? Apabila ketiga kawannya itu sibuk dengan urusan politik, ia konsisten di jalan ilmu. Dan, itulah yang memang menjadi cita-citanya. Doanya saat menunaikan ibadah haji itu berisi harapan, kiranya Allah menetapkannya sebagai seorang alim.

Urwah amat gigih dalam usahanya mencari ilmu kepada para sahabat Rasulullah SAW yang masih tersisa. Ia pun meriwayatkan hadis dari sejumlah tokoh yang masyhur. Di antaranya adalah Ummul Mu'minin ‘Aisyah, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub al-Anshari, Usamah bin Zaid, Sa'id bin Zaid, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, dan Nu'man bin Basyir.

 
Sejarah mencatat namanya sebagai salah seorang dari tujuh ahli fikih Madinah. Kepakarannya dalam syariat menjadi rujukan banyak orang.
 
 

Sejarah mencatat namanya sebagai salah seorang dari tujuh ahli fikih Madinah. Kepakarannya dalam syariat menjadi rujukan banyak orang. Bahkan, ketika Madinah al-Munawwarah dipimpin Umar bin Abdul Aziz dirinya termasuk golongan yang diminta untuk menjadi penasihat resmi pemerintah.

Sosok yang berjulukan “Umar bin Khattab II” itu menjadi gubernur Kota Nabi. Usai shalat zuhur, Umar bin Abdul Aziz mengundang 10 ahli fikih Madinah yang dipimpin Urwah bin Zubair.

Allah mengabulkan doa yang dipanjatkannya di dekat Ka’bah. Hingga akhir hayatnya, sang tabiin dikenal sebagai seorang ahli ilmu yang fakih. Kepakarannya dalam syariat pun diamalkannya sehingga menjadi maslahat bagi Muslimin seluruhnya.

Jaga Hati dan Lisan

Sekurang-kurangnya, seorang Mukmin harus menginsafi dirinya. Jangan sampai hati dan lisannya menjadi alat keburukan.

SELENGKAPNYA

Kilas Sejarah Terjemah Alquran

Penerjemahan Alquran ke dalam bahasa lain telah dilakukan pada era Rasulullah

SELENGKAPNYA

Bagaimana Cara Shalat Dokter yang Melakukan Operasi?

Dokter yang tidak bisa meninggalkan proses mengoperasi pasien karena keadaan darurat bisa mendapatkan keringanan

SELENGKAPNYA