Pekerja memeriksa ketebalan huruf Alquran di percetakan Syaamil Quran, Jalan Babakan Sari, Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa (12/4/2022). Pada bulan suci Ramadhan, permintaan Alquran di percetakan tersebut meningkat hingga 50 persen atau 180 ribu eksempl | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Khazanah

Kilas Sejarah Terjemah Alquran

Penerjemahan Alquran ke dalam bahasa lain telah dilakukan pada era Rasulullah

Wajib hukumnya bagi umat Islam untuk membaca dan memahami Alquran. Dari Alquran-lah, kita harus menyandarkan sikap dan perilaku dalam menjalani kehidupan di dunia. ''Kitab Alquran ini tak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.'' (QS al-Baqarah: 2).

Meski demikian, karena Alquran ditulis dalam bahasa Arab, banyak Muslim dari negara di luar Timur Tengah yang gagal memahami isi Alquran. Atas alasan inilah, kemudian proyek penerjemahan Alquran banyak dilakukan di sejumlah negara. Penerjemahan Alquran ke dalam bahasa lain mulai dilakukan pertama kali pada era Rasulullah.

Suatu hari, Nabi Muhammad SAW pernah berkirim surat kepada dua penguasa, yakni Kaisar Negus dari Abysssinia dan Kaisar Heraclius dari Bizantium. Dalam surat itu, Rasulullah mencantumkan ayat-ayat dari Alquran.

Dalam sarasehan ilmiah bertajuk ''Melacak Sejarah Penerjemahan Alquran'' yang diselenggarakan Universitas Islam Madinah Al Munawwarah pada akhir 2007 lalu, terungkap bahwa penerjemahan Alquran pertama kali dilakukan ke dalam bahasa Persia.

Guru Besar Sastra Arab Universitas Islam Madinah Al Munawwarah, Syekh Tamir Salum, mengungkapkan, kala itu umat Islam Persia memohon kepada Salman al-Farisi untuk menerjemahkan beberapa ayat Alquran. Salman merupakan salah seorang sahabat Nabi SAW yang berasal dari Desa Ji di Isfahan, Persia. Atas permintaan Muslim Persia, Salman kemudian menerjemahkan Surah al-Fatihah.

Penerjemahan Alquran secara lengkap pertama kali dilakukan pada 884 M di Alwar, Pakistan. Terjemahan Alquran tersebut dibuat atas perintah Khalifah Abdullah bin Umar bin Abdul Aziz. Saat itu, penguasa Hindu, Raja Mehruk, memohon agar kitab suci umat Islam itu diterjemahkan.

Pada 1936, penerjemahan Alquran telah dilakukan ke dalam 102 bahasa di dunia. Lantas, bagaimana dengan upaya pembukuan karya terjemahan Alquran? Hal itu telah dilakukan pada abad ke-12 M oleh orang-orang Eropa.

Menurut el-Hurr dalam tulisannya, "Barat dan Alquran: Antara Ilmu dan Tendensi'', langkah ini diinisiasi oleh Kepala Biara Gereja Cluny, Petrus Agung atau Peter The Venerable, asal Prancis pada 1143 M.

Penerjemahan dan pembukuan Alquran tersebut dilakukan untuk tujuan pembelajaran mengingat Islam saat itu berkembang pesat di Andalusia. Salinan terjemahan tersebut hanya dimiliki oleh pihak gereja untuk dipelajari dan tidak diizinkan dicetak di luar gereja selama empat abad lamanya. Itu bertujuan agar umat Kristen tidak memiliki kesempatan mempelajari Alquran terjemahan sehingga tidak akan ada penganut Kristen yang murtad dari agamanya.

Pada pertengahan abad ke-16, tepatnya pada 1543, di bawah pengawasan seorang berkebangsaan Swiss bernama Theodor Bibliander, terjemahan Alquran itu kemudian dicetak ulang untuk pertama kalinya.

Pada 1550, untuk kedua kalinya terjemahan Alquran ini dicetak ke dalam tiga jilid meski terdapat banyak kesalahan dan kekeliruan dalam terjemahan karya Petrus tersebut. Meski demikian, terjemahan Alquran karya Petrus dapat diterima oleh bangsa Eropa dan dalam waktu singkat menyebar luas ke tengah masyarakat non-Muslim.

Tak Cukup Hanya Bahasa Indonesia

Alquran telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu sejak pertengahan abad ke-17. Upaya ini dilakukan oleh seorang ulama dari Singkil, Aceh, bernama Abdul Ra'uf Fansuri. Meski terjemahannya kurang sempurna dari tinjauan ilmu bahasa Indonesia modern, Abdul Ra'uf Fansuri bisa dikatakan sebagai tokoh perintis penerjemahan Alquran berbahasa Indonesia. Sejak saat itu, semakin banyak Alquran terjemahan yang diterbitkan di Indonesia.

Meski demikian, keberadaan terjemahan Alquran dalam bahasa Indonesia saja dirasa tidak cukup. Itu karena banyak penduduk Indonesia yang juga tidak mengerti bahasa Indonesia. Jumlah penutur bahasa daerah dan mereka yang tidak mengerti bahasa Indonesia hingga kini masih cukup banyak.

Jumlah penutur bahasa Jawa, misalnya, mencapai 75,6 juta orang. Sementara, bahasa Sunda digunakan oleh 27 juta orang, bahasa Madura 13,7 juta orang, bahasa Minang sebanyak 6,5 juta orang, dan bahasa Batak sekitar 6,2 juta orang.

Fakta lain, sekitar 1,7 juta penduduk Bengkulu tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Begitu juga di sejumlah daerah lain di Indonesia. Penyebabnya, antara lain, masih banyak desa yang terisolasi. Selain itu, banyak penduduk yang tidak sekolah.

Kebanyakan mereka adalah penduduk yang sudah berusia lanjut. Atas alasan inilah, kemudian banyak pihak yang berusaha menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa daerah. Langkah ini tak hanya dilakukan untuk membantu umat Islam, tetapi juga melestarikan bahasa daerah di Indonesia yang sudah mulai punah.

Kemenag: Tahun Depan, Biaya Haji akan Disesuaikan

Hilman menyinggung pentingnya jamaah memahami konsep istitha'ah yang menjadi syarat haji

SELENGKAPNYA

Paradoks Dunia Damai

Dunia damai sering dihadapkan pada paradoks.

SELENGKAPNYA

KPK Tahan Hakim Agung Sudrajad Dimyati

KPK resmi menahan hakim Sudrajad Dimyati setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap.

SELENGKAPNYA