Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

Hakikat Sujud dan Kehambaan

Betapa indahnya hidup mereka yang berada dalam keteduhan sujud kepada Allah.

 

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Surah as-Sajdah mengandung ajakan bersujud kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW suka membaca surah ini setiap hari Jumat, pada saat mengimami shalat Subuh. Seakan-akan, Rasulullah SAW berpesan kepada umat beliau agar mengisi hari tersebut dengan memperbanyak ibadah, termasuk sujud kepada-Nya.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah menjelaskan dalam Zaadul Maad mengenai keutamaan hari Jumat. Memang, inilah hari yang di dalamnya zikir dan ibadah-ibadah lainnya diperbanyak. Di antara sunah Nabi SAW yang paling popular adalah membaca surah al-Kahfi setiap Jumat. Begitu pula dengan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW.

As-Sajdah dibuka dengan huruf-huruf terpotong, al-huruf al-muqathaah, yakni Alif laam miim. Dengan itu, surah tersebut sejatinya hendak menggugah hati manusia agar mengakui kebesaran Allah Ta’ala. Pada bagian awal surah ini, ada penegasan tentang Alquran sebagai kitab yang sangat agung. Inilah kitab yang datang dari Allah, Pemilik alam semesta. Tiada keraguan di dalamnya.

Tanziilul kitaabi laa raiba fiihi mir rabbil ‘aalamiin.” Ayat itu dilanjutkan dengan firman Allah yang menunjukkan, Dialah Pencipta langit dan bumi, termasuk segala isinya. “Allahul ladzii khalaqas samaawaati wal ‘ardhi wa maa bainahumaa.”

Kemudian, ditegaskan bahwa Allah juga menjaga, mengatur, dan mengurus semua ciptaan-Nya. “Yudabbirul amra minas samaa i-ilal ‘ardhi.” Ditambah lagi dengan penegasan bahwa Allah Maha Mengetahui. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya. “Dzaalika ‘aalimul ghaibi wasy syahaadatil ‘aziizul hakiim.”

Ayat itu bermaksud bahwa tidak ada pilihan bagi seorang hamba dalam bersujud kecuali ikhlas sepenuh hati. Sujud itu pun merupakan bukti kehambaan kepada-Nya. “Wa maa umiruu illaa liya’budullaha mukhlishiin lahud diin.” (QS al-Bayyinah: 5).

Puncaknya, surah as-Sajdah ini menunjukkan bahwa Allah SWT bangga akan hamba-hamba-Nya yang jujur bersujud kepada-Nya. “Innamaa yu’minu biaayaatinal ladziina idzaa dzukkiruu bihaa kharruu sujjadaa.”

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat Allah mereka menyungkur (bersujud).” 

Ayat yang diakhiri dengan kharruu sujjadaa itu termasuk kelompok ayat sajadah. Saat membaca atau mendengarkan ayat tersebut dibacakan, hendaknya setiap kita melakukan sujud tilawah, baik dalam keadaan di dalam maupun luar shalat.

Ciri hamba yang jujur bersujud kepada-Nya itu disebutkan pada ayat berikutnya. Misalnya, lambung mereka tidak sempat berbaring di tempat peristirahatannya. Sebab, mereka lebih mengutamakan Allah dengan cara banyak beribadah, berdoa, dan berinfak.

Tatajaafaa junuubuhum ‘anil madhaaji’i yad’uuna rabbahum khaufaw wa thama’aw wa mimmaa razaqnaahum yunfiquun.”

Betapa indahnya hidup mereka yang berada dalam keteduhan sujud kepada Allah. Perhatikan, bagaimana Allah memuliakan mereka dengan kemenangan dan menjadikan mereka sebagai pemimipin di muka bumi. “Wa ja’alnaa minhum aimmatay yahduuna bi amrinaa lammaa shabaruu wa kaanuu bi ayaatinaa yuuqinuun.” (QS as-Sajdah: 24).

Penindakan Judi Gencar di Berbagai Daerah

Penjualan chip sebagai sarana permainan judi sangat mudah ditemukan.

SELENGKAPNYA

Saat Ikan-Ikan Mati Kekeringan di Lux

Periode kering Eropa tahun ini diperkirakan para ahli bisa menjadi kekeringan terburuk dalam 500 tahun.

SELENGKAPNYA