Proses pembuatan kain sutera di Rumah Sutera Alam, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. | Shabrina Zakaria/Republika

Bodetabek

Menelusuri Pembuatan Kain Sutra di Rumah Sutera

Harga kain sutra bergantung kerumitan pembuatan kain yang dijual.

 

 

OLEH SHABRINA ZAKARIA

Di dalam sebuah rumah kayu kecil, Mamad tengah menyiangi pucuk daun murbey, memisahkan dari ranting dan batangnya. Daun-daun tersebut akan diberikan kepada puluhan ribu ekor ulat sutra yang baru berusia 10 hari.

Ulat-ulat sutra tersebut dipelihara dan dibesarkan di sebuah rumah di Jalan Ciapus Raya Nomor 100, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor. Rumah Sutera Alam namanya.

Rumah Sutera itu diprakarsai oleh Almarhum Tatang Rojali sejak 2001. Namun, karena Tatang telah meninggal dunia, saat ini Rumah Sutera dikelola oleh generasi keduanya. Tak hanya menjadi petani ulat sutra, Rumah Sutera pun dijadikan rumah eduwisata sejak 2006.

photo
Proses pembuatan kain sutera di Rumah Sutera Alam, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. - (Shabrina Zakaria/Republika)

Dari luar, Rumah Sutera tampak seperti rumah pada umumnya. Namun, ketika pagar kayu rumah tersebut dibuka, terlihat hamparan luas yang terdiri atas galeri kain sutra, rumah pemeliharaan ulat sutra, rumah pemintal benang, rumah penenunan kain sutra, dan hamparan kebun murbey. Selain itu, ada vila dan ruang pertemuan yang dapat disewa.

Pengurus Rumah Sutera, Yan Kusmayandi, mengajak Republika berkeliling di Rumah Sutera. Dari galeri kain sutra, Yan berjalan sejauh sekitar 100 meter menuju sebuah gerbang kayu besar. Ketika dibuka, puluhan ribu pohon murbey terhampar di lahan seluas sekitar 2 hektare.

Setiap hari, pucuk-pucuk daun murbey diambil untuk pakan ulat sutra. Ulat-ulat tersebut diletakkan di rak-rak kayu, dan terletak di dalam sebuah rumah kayu terpencil. Tidak jauh dari kebun murbey.

Yan mengatakan, ulat sutra termasuk hewan yang sensitif sehingga harus diletakkan di tempat yang suhu dan kondisinya aman. “Jangan di pinggir jalan, jangan kena bau menyengat, jangan dirawat sama orang sakit karena nanti ulatnya yang bisa sakit. Bukan kitanya yang sakit terkena ulat,” kata Yan di dalam rumah pemeliharaan ulat.

photo
Proses pembuatan kain sutera di Rumah Sutera Alam, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. - (Shabrina Zakaria/Republika)

Bibit ulat sutra tersebut dibeli dalam bentuk ulat dari Perhutani Sulawesi Selatan. Setiap pengiriman, Rumah Sutera biasa memesan beberapa boks yang setiap boksnya berisi sekitar 25 ribu bibit.

Selain rumah pemeliharaan ulat, ada rumah atau kandang ulat besar. Di sana, ulat besar diletakkan di rak berisi jaring-jaring yang akan membentuk mereka menjadi kepompong berwarna putih. Kepompong inilah yang akan dijadikan benang.

Menurut Yan, rata-rata bibit ulat berubah menjadi kepompong sekitar 28-30 hari, bergantung musim dan suhu di sekitar kandang.

“Kalau musim hujan bisa lebih panjang karena dia dingin makan terus. Kalau kemarau kepompong kecil jadi kecil karena daun kurang dan jadinya cepat. Kadang 26 hari sudah jadi kepompong. Faktor suhu dan musim pengaruh banget,” katanya.

photo
Proses pembuatan kain sutera di Rumah Sutera Alam, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. - (Shabrina Zakaria/Republika)

Tak butuh waktu lama, kepompong akan masuk ke ruang pemintalan benang untuk direbus agar kepompong tak lagi hidup menjadi kupu-kupu. Setelah itu, benang ditarik dan dipintal menjadi benang tebal.

Di ruangan itu, terdapat dua perempuan bertopi dan mengenakan masker dengan telaten memintal benang yang akan dijadikan kain sutra yang lembut. Satu perempuan mengenakan pakaian merah muda terlihat mondar mandir, memeriksa apakah benang terpintal dengan rapi. Sementara yang satunya sibuk dengan benang yang sudah dipintal.

Setelah benang jadi, baru kemudian benang dibawa ke ruangan penenun yang dikerjakan seorang diri oleh Irwan. Pria asal Jawa Tengah itu mahir teknik pembuatan kain sutra baik kain polos maupun bermotif.

Di galeri sutra, terdapat kain-kain yang sudah diproses sedemikian rupa menjadi kain siap pakai, syal, selendang, batik, kain ecoprint, bahkan gelang. Selain itu, Rumah Sutera juga memproduksi teh murbey dari kebun sendiri.

“Dulu kami sempat menjual kain batik tulis seharga Rp 10 juta per 2 meter. Tapi karena sulit laku, akhirnya kami jual kain batik sutra medium seharga Rp 2 juta. Pasarnya di sini saja,” ujarnya.

Yan mengatakan, kain-kain sutra yang dijual di galeri sutra dibanderol seharga Rp 200 ribu hingga Rp 2 juta. Harganya bergantung kerumitan pembuatan kain yang dijual. Kain batik dan ecoprint memiliki harga termahal.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Rumah Sutera Alam (@rumahsuteraalam_bogor)

Diskon Tiket Pemilu Ala MK, untuk Sembilan Partai Parlemen

Dulu, Mahkamah mengabulkan permohonan Rhoma Irama dan menghapus diskriminasi.

SELENGKAPNYA

Jamiatul Kheir, Cikal Bakal Nasionalisme Islam

Jamiatul Kheir melahirkan tokoh dan pemimpin pergerakan Islam yang terkenal.

SELENGKAPNYA

Demi Masa

Hidup di dunia hanya menetap seperti di waktu sore atau waktu dhuha.

SELENGKAPNYA