vp,,rm
Foto pendirian Jamiatul Kheir. | istimewa

Kronik

Jamiatul Kheir, Cikal Bakal Nasionalisme Islam

Jamiatul Kheir melahirkan tokoh dan pemimpin pergerakan Islam yang terkenal.

OLEH ALWI SHAHAB

Mendatangi Pekojan berdekatan dengan China Town di Glodok, Jakarta Barat, saya mendapati makin menciutnya jumlah keturunan Arab di kampung ini. Padahal, sejak abad ke-19, pemerintah kolonial menjadikan Pekojan sebagai kampung Arab.

Bila pada awal 1950-an sekitar 90 persen penghuninya adalah warga Arab, keadaannya kini berbalik. Mereka tinggal sekitar 10 persen bahkan kemuingkinan terus berkurang. Selebihnya, sebagian besar warga Cina.

Meski begitu, peninggalan-peninggalannya masih bisa kita jumpai seperti masjid dan gedung-gedung tua bergaya Moor. Kita juga masih mendapati rumah bekas tempat tinggal Kapiten Arab. 

Sejarawan Sagimun MD dalam buku Jakarta dari Tepian Air ke Kota Proklamasi menyebutkan, di Pekojan pada 1901 berdiri organisasi dan perkumpulan Jamiatul Kheir. Perkumpulan ini kemudian melahirkan tokoh-tokoh dan pemimpin pergerakan Islam yang terkenal seperti KH Ahmad Dachlan, HOS. Tjokroaminoto, dan H Agus Salim.

Melalui Jamiatul Kheir, para pemimpin gerakan Islam ini punya hubungan yang luas dengan negara-negara Islam terkenal maju seperti Mesir dan Turki. Mereka membaca majalah-majalah dan surat kabar yang membangkitkan semangat kebangsaan dan kemerdekaan pada rakyat Indonesia.

 
Melalui Jamiatul Kheir, para pemimpin gerakan Islam ini punya hubungan yang luas dengan negara-negara Islam terkenal maju seperti Mesir dan Turki.
 
 

Dalam buku yang diterbitkan Dinas Museum dan Sejarah Pemda DKI terbitan 1988, Sagimun MD menyebutkan, Jamiatul Kheir dianggap berbahaya oleh pemerintah kolonial Belanda karena pengaruhnya dapat membangkitkan semangat kebangsaan dan semangat jihad fisabilillah di kalangan kaum Muslimin Indonesia. Tak heran kalau pemerintah kolonial mengawasi dengan ketat perkumpulan ini.

Sengaja menunda-nunda permohonan pengesahannya dan baru diberikan pada 1905 dengan catatan: "Tidak boleh membuka cabang di luar kota Batavia’. Meski kenyataannya perkumpulan ini membuka pendidikan di berbagai daerah dengan nama lain. Keberadaan Jamiatul Kheir merupakan wujud perlawanan terhadap pendidikan di sekolah-sekolah Belanda yang tidak dapat dipisahkan dengan Kristenisasi."

Pendiri Jamiatul Kheir

Keberadaan Jamiatul Kheir tidak dapat dipisahkan dari pendirinya seorang wartawan Sayid Ali bin Ahmad Shahab kelahiran Pekojan pada 1282 Hijriyah. Dalam usia 29 tahun, dia mengadakan lawatan ke Turki dan Mesir, diteruskan ibadah haji.

Di kedua negara Islam ini, terutama ketika berada di Turki, hatinya tergerak melihat sistem pendidikan di Kerajaan Ottoman. Para murid sudah duduk di bangku dan mereka memakai celana. Padahal kala itu, siswa-siswa di  sekolah Islam duduk di lantai dan masih memakai kain.

Ketika 1905 (1323 H) Belanda memberikan izin berdirinya Jamiatul Kheir, maka pada 17 Juli 1905 Sayid Ali bin Ahmad Shahab menjadi ketua umumnya. Sebagai perlawanan terhadap penjajah, salah satu kurikulum di Jamiatul Kheir tidak diajarkan bahasa Belanda, tapi Inggris.

 
Keberadaan Jamiatul Kheir tidak dapat dipisahkan dari pendirinya seorang wartawan Sayid Ali bin Ahmad Shahab kelahiran Pekojan pada 1282 Hijriyah.
 
 

Pada 1912, Jamiatul  Kheir turut ambil bagian dalam membantu para pejuang Libya melawan penjajah Italia di bawah pimpinan Omar Mochtar. Jamiat Kheir turut aktif dalam aksi boikot produk Italia di Indonesia.

Solichin Salam, penulis Ali Ahmad Shahab Pejuang yang Terlupakan, menuturkan Sayid Ali Ahmad Shahab pernah mengusahakan melalui Sultan Abdul Hamid dari Turki dan Imam Yahya dari Yaman untuk memasukkan senjata ke Indonesia, guna membantu perjuangan rakyat melawan Belanda.

Dia juga ikut memberi dukungan bagi diadakannya pemberontakan di Hadramaut (kini bagian dari Yaman) melawan Inggris. Di samping menjadi koresponden Al Muayyad di Kairo, Mesir dan koresponden Samarat al Funun di kota yang sama, tulisannya juga sering dimuat dalam surat kabar Utusan Hindia.

Pan Islamisme

Keberadaan Jamiatul Kheir tentu saja membuat Belanda geram. Dengan terang-terangan orientalis Belanda, Snouck Horgronye, menurut Mr Hamid Algadri, meminta agar pemerintah waspada terhadap Ali bin Ahmad Shahab, yang dituduh sebagai salah satu tokoh penggeraknya.

Sedangkan, menurut Solichin Salam, karena tulisan-tulisannya di berbagai suratkabar dan hubungannya dengan Konsul Turki dan Jepang di Jakarta, dia pun dicurigai dan dituduh terlibat dalam pemberontakan melawan Belanda.

 
Dengan terang-terangan orientalis Belanda, Snouck Horgronye, menurut Mr Hamid Algadri, meminta agar pemerintah waspada terhadap Ali bin Ahmad Shahab, yang dituduh sebagai salah satu tokoh penggeraknya.
 
 

Alhasil, ia sering diinterogasi dan ditahan. Itulah sebabnya pemerintah kolonial bertindak dan mengadakan konspirasi, sehingga seluruh harta bendanya berupa tanah maupun gedung di daerah Jakarta (seperti di kawasan Imam Bonjol, Menteng sampai Setiabudi dan Kebon Melati seluas 2.000 hektare) diambil dengan jual paksa melalui kasirnya seorang Armenia, yang menjadi kaki tangan Belanda.

Robert van Niel dalam The Emergence of the Modern Indonesian Elite berpendapat bahwa Jamiatul Kheir adalah organisasi politik yang berjubah pendidikan dan sosial keagamaan. Banyak anggota Syarikat Islam pada saat itu menjadi anggotanya.

Dalam hubungannya untuk mengadakan pembaharuan dan reformasi terutama dalam bidang pendidikan, Ali Ahmad Shahab telah memasukkan guru-guru modernis pengikut Sayid Jamaluddin al-Afghani ke Indonesia. Di antaranya Al Hasyimi yang didatangkan dari Tunisia, Syekh Ahmad Syurkati dari Sudan. Pendiri Jamiatul Kheir yang meninggal di Jakarta Juli 1945 itu boleh dikata berhasil dalam mendiidik putra putrinya.

Seperti Muhammad Anis menjadi redaktur surat kabar berbahasa Arab Hadramaut di Surabaya; M Dzya Shahab, Kepala Jamiat Kheir (1935-1945), wartawan Ar-Rafik di Timur Tengah (1947), Kepala Bagian Kebudayaan Rabitah Alam Islami (Kongres Islam Sedunia) di Makkah; dan bersama KH Abdullah Bin Nuh, pengarang Masuknya Islam di Indonesia.

Adiknya, M Asad Shahab, pada masa revolusi mendirikan Arabian Press Board dan menyiarkan berita-berita revolusi Indonesia di Timur Tengah. Putranya AH Shahab menjadi kolumnis di berbagai media di Tanah Air dan Timur Tengah.

 Disadur dari Harian Republika edisi 05 September 2010. Alwi Shahab adalah wartawan Republika sepanjang zaman yang wafat pada 2020.

Saat Indonesia Menggugat

Sebagai imbalan penyerahan kedaulatan, Belanda mendapat bayaran 4,5 miliar gulden dari Indonesia.

SELENGKAPNYA

Hoegeng, Jenderal Polisi yang Menyejukkan

Hoegeng berani menolak sogokan dan membongkar ketidakbenaran.

SELENGKAPNYA

Ada Harapan Ekonomi Indonesia di Zona Hijau

Banyak negara gagal menjaga fundamental ekonomi mereka.

SELENGKAPNYA