Penggunaan chatbot dalam operasional bisnis (ilustrasi) | Pixabay/Mohammed Hassan

Inovasi

Bisnis Makin Lari Berkat AI

Bisnis dituntut untuk cepat tanggap terhadap berbagai kebutuhan konsumen.

Situasi pandemi yang berangsur membaik, membawa harapan baru ke dalam industri teknologi. Salah satunya, terkait dalam bagaimana masyarakat mengadopsi teknologi di masa peralihan menuju endemi.

Banyak rupa teknologi yang telah menjadi solusi selama masa pandemi berjalan salah satunya adalah kecerdasan artificial (AI). Menurut data internal dari Kata.ai yang dirilis pada 2022, teknologi ini, kini telah diterapkan pada 20 lebih industri yang ada di Indonesia.

Sebuah riset dari Accenture 2021 Global Consumer Pulse Study juga menemukan data, bahwa 43 persen konsumen di Asia Tenggara kini tak lagi keberatan dilayani oleh AI berbentuk chatbot.

Namun, dengan catatan, selama pertanyaan atau kebutuhannya mampu dilayani dengan baik. Hal ini kemudian, memberikan gambaran bahwa di dalam konteks sebuah bisnis, komunikasi yang efisien serta cepat jadi tuntutan utama dari keinginan konsumen.

Salah satu perusahaan teknologi yang berfokus pada layanan conversational chatbot, Kata.ai memandang perubahan strategi multiindustri akan banyak melibatkan inovasi pada infrastruktur teknologi, salah satunya lewat AI. Dalam media gathering yang bertajuk “AI For Post Pandemic: Making Sustainable Business to Thrive” yang digelar Rabu (27/7), Irzan Raditya selaku CEO & Co-Founder dari Kata.ai menyampaikan, berdasarkan riset terakhir Kata.ai, efisiensi terbukti dapat dihasilkan oleh penerapan AI.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Chatbot Solution - Kata.ai (@katadotai)

“Menurut riset kami, kebanyakan dari pelanggan yang sudah menggunakan chatbot yang dibangun bersama Kata.ai mampu menghasilkan efisiensi sampai 70 persen dari sisi biaya. Karena apabila kita lihat dalam satu industri, 80 persen pertanyaan yang masuk itu-itu saja dan pekerjaan para customer service agent di belakang layar sudah lumayan stressful,” kata Irzan.

Dengan demikian, jenis-jenis pertanyaan repetitive tersebut, dapat diambil alih oleh robot. Sehingga, lanjut dia, para agent bisa fokus untuk hal-hal yang sifatnya butuh high touch service.

Tuntutan Konsumen

Studi dari ZK Research, yang dilansir dari VentureBeat menemukan, bahwa banyak karyawan yang membuang waktunya dikarenakan harus berurusan dengan informasi yang terlalu banyak. Kemudian, masih harus pula dianalisa secara manual. Teknologi AI yang memiliki ruang untuk improvisasi secara luas, merupakan jawaban bagi bisnis untuk bisa mengotomasi secara spesifik pada problematika tersebut.

Dengan demikian, karyawan bisa menghemat waktu menjadi lebih efisien dan produktif. Menurut Founder dan CEO Qlue Rama Raditya, pemanfaatan AI bagi industri diprediksi mampu meningkatkan efisiensi operasional perusahaan hingga 30 persen.

Selain itu, penggunaan AI juga berpotensi meningkatkan produktivitas karyawan hingga 80 persen. Hal ini, sesuai prediksi dari McKinsey pada 2021 lalu.

Melalui pemanfaatan ekosistem teknologi digital berbasis AI seperti yang dikembangkan oleh Qlue, kata Rama, proses operasional akan bersifat end-to-end. Sehingga menjadi lebih efektif dan efisien ketika AI diimplementasikan di lapangan.

“Kecerdasan buatan dapat membantu kita bekerja secara efisien, dan implementasi solusi kecerdasan buatan yang berbasis deep learning bisa membantu menghasilkan analisis data lebih akurat. Optimalisasi ekosistem digital ini menjadi kunci pengembangan bisnis yang sejalan dengan pertumbuhan konektivitas di Indonesia,” ujarnya.

Senada, Chief Strategy & Technology Officer Kalla Group Achmad Soegiarto mengungkapkan, saat ini konsumen memiliki preferensi yang semakin banyak dengan berbagai macam keunggulan informasi yang berjalan serba cepat. “Dengan kondisi ini bisnis harus mampu menjadi lebih personal. Termasuk, lebih dekat dengan konsumen sehingga strategi bisnis yang diterapkan menjadi tepat guna dan menggunakan teknologi yang tepat pula,” ujar Achmad.

Tingkat konsumsi akan kebutuhan teknologi AI pun kian meningkat berkat beragamnya perusahaan yang menawarkan produk atau jasa ke end-customer. Sejalan dengan tren tersebut, kata Achmad, partisipasi dari enabler seperti usaha rintisan, akan sangat dibutuhkan untuk menjawab adaptasi teknologi baru ini.

Teknologi praktis dari AI yang berbentuk chatbot atau voicebot perlahan mulai banyak diimplementasikan oleh berbagai jenis industri untuk merespon dinamika pasar yang terus bergerak cepat. Kalla Group, Achmad menyampaikan, melalui program Startup Hunt saat ini tengah berusaha mempertemukan ekosistem di lintas industri dengan para usaha rintisan penyedia jasa kecerdasan buatan.

“Dengan membaca serta mengerti dari data-data yang dikoleksi oleh bisnis, kita mampu menganalisa bagaimana perilaku konsumen sampai produk yang paling laku,” ujar Achmad. Dengan demikian, bisnis pun akan mampu melihat peluang yang ada dari hasil analisa data yang tepat. Sehingga bisnis yang memiliki sumber daya yang terbatas akan tetap tetap dapat maksimal dalam meningkatkan produktivitasnya.

 
Bisnis kini harus mampu menjadi lebih personal. 
ACHMAD SOEGIARTO, Chief Strategy & Technology Officer Kalla Group
 
 

15 Game Online Fasilitasi Perjudian Telah Diblokir

Meski 15 game online telah diblokir, diyakini masih ada aplikasi lain yang digunakan sebagai sarana berjudi.

SELENGKAPNYA

Drone Akhiri Perjalanan Pak Dokter Alqaidah, Al-Zawahiri

CIA melakukan serangan drone di ibu kota Afghanistan yang menewaskan Al-Zawahiri.

SELENGKAPNYA

Jangan Biarkan Judi Daring Beroperasi

Muhammadiyah dan NU meminta agar pemerintah segera membasmi judi-judi daring.

SELENGKAPNYA