Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob (duduk, kiri) bersama sejumlah wartawan asal Indonesia sedang menikmati durian di Putrajaya, Malaysia, Senin (30/5). | Nur Hasan Murtiaji/Republika

Wawasan

Berbincang Soal TKI Hingga Tari Kuda Kepang

Banyak perkara yang tak perlu timbul, tapi timbul karena kurang informasi dan kurang pemahaman.

Sejumlah wartawan Indonesia, termasuk Nur Hasan Murtiaji dari Republika, berkesempatan berbincang eksklusif dengan Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Ismail Sabri Yaakob, Senin (30/5). Suguhan durian beragam varian menemani bincang santai di sela jamuan "Majlis Makan Tengah Hari YAB Perdana Menteri Bersama Pimpinan Media Indonesia".

Pertemuan yang diinisiasi Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia Indonesia (Iswami) dengan PM Ismail Sabri ini seusai menghadiri peringatan Hari Wartawan Malaysia (Hawana) 2022, Ahad (29/5) lalu. Berikut petikan perbincangan tersebut.

Malaysia menjadi tujuan utama tenaga kerja Indonesia (TKI). Setelah pandemi Covid-19 turun, berapa banyak tenaga kerja Indonesia yang diharapkan?

Kalau pembantu rumah itu memang kita membutuhkan, sebab kita (mayoritas) Muslim. Pembantu rumah akan lebih memaklumi (kalau juga seorang Muslim). Makanan halal-haram akan bisa memilih. Itu menjadi sesuatu keutamaan. Mungkin bagi yang bukan Muslim, bisa mendapatkan pembantu rumah dari Filipina. Tapi, bagi orang Melayu, kita mau mengambil dari Indonesia karena kesamaan agama. Memberikan makan kepada anak kita, pasti mau yang halal. Itu (makanan halal) kan memang hal yang sensitif bagi orang Islam.

Pandemi mengganggu ekonomi Malaysia-Indonesia. Setelah pandemi mereda, apa yang dilakukan kedua negara?

Kita sedang proses untuk bangkit, pemulihan ekonomi nasional. Kalau dulu, ekonomi kita dibuka seluruhnya, tapi semasa pandemi ditutup. Rakyat harus di rumah, tak boleh keluar rumah. Tapi, kini dibuka. Dan yang terakhir, kini adalah sektor pelancongan, wisata. Itu yang paling akhir. Hotel, semua yang mendatangkan wisata, penerbangan, semua tidak bergerak selama hampir dua tahun. Dan juga restoran-restoran, hotel, tempat wisata.

photo
Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob (duduk, kiri) bersama wartawan Republika Nur Hasan Murtiaji dan sejumlah wartawan lain asal Indonesia sedang menikmati durian di Putrajaya, Malaysia, Senin (30/5). - (Nur Hasan Murtiaji/Republika)

Yang baru, Malaysia dibuka 1 April (kunjungan wisatawan luar negeri). Walaupun 1 April, tidak semua orang datang (ke Malaysia) karena tak semua negara membenarkan. Negara-negara ada yang belum dibuka. Kita sedang pulihkan.

Soal kerja sama illegal worker kedua negara, bagaimana mengatasi gelombang illegal worker ini?

Ada perundingan perbatasan. Di Selat Malaka itu ada ronda bersama. TNI dengan tentara Malaysia. Semua perbatasan kita ada kerja sama, dengan Thailand, Filipina. Tapi, laut kita ini luas dan panjang perbatasan. Mereka lebih tahu jalur-jalurnya. Demikian juga dengan di pulau-pulau. Ada ronda bersama.

Kita ini dekat sekali, tapi sering bergesekan. Soal sepak bola, budaya, dan hal lain. Bagaimana upaya mengatasi ini secara formal dan informal?

Iswami (Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia Indonesia) adalah badan yang terbaik. Peranan media ini bisa memburukkan keadaan atau membaikkan. Kalau peranan media dipecahkan, akan lebih baik. Kalau media membawa perpecahan, akan terjadi perpecahan. Kalau media membawa perkara penyatuan, kita bersatu.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by ismailsabri60 (ismailsabri60)

Sebagai contoh, isu tarian, makanan. Isu tarian tidak melibatkan negara, tapi dia melibatkan etnik itu sendiri. Kalau tarian Jawa, dia kepunyaan orang Jawa. Jawa di Malaysia itu juga berasal dari Jawa. Jadi, itu hak tarian Jawa, bukan tarian Malaysia, walaupun sudah berbahasa Malaysia. Orang Jawa di Selangor, Johor, itu banyak, tapi mereka menari tarian Jawa juga.

Malaysia disebutkan mencuri tarian Indonesia, itu menjadi tidak enak satu sama lain. Tapi, kalau sudah bisa dipahami satu sama lain, media mengatakan tarian Jawa itu oleh etnis Jawa di Malaysia, tidak ada isu. Jadi, bagi saya, banyak perkara yang tak perlu timbul, tapi timbul. Itu karena kurang informasi dan kurang pemahaman. Jadi, peranan medialah yang perlu memahamkan. Itu boleh saya harapkan Iswami, yaitu media dua negara ini boleh menyatukan.

photo
Perdana Menteri Dato Sri Ismail Sabri Yaakob berpose bersama 15 pimpinan media asal Indonesia di pelataran Kantor Perdana Menteri di Putrajaya, Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (31/5/2022). - (Republika/nur hasan murtiaji)

 Kalau ada masalah seperti itu, apakah PM bertelepon dengan Pak Jokowi?

Boleh, waktu pertama kali saya bertemu dengan Pak Presiden, kita setuju supaya isu kebudayaan dan sebagainya perlu diselesaikan. Jadi, saya berbicara dengan Presiden, mesti ada senarai atau list. Ini list Indonesia, hak Indonesia yang tidak ada Malaysia. Ini list Malaysia yang tak ada hubungan dengan Indonesia. Lalu, ada list bersama, concurrent list. Indonesia ada dalam senarai, Malaysia pun juga ada. Contoh tadi, tarian Jawa, tarian kuda kepang, Malaysia pun ada senarai ini. Kalau ada kesempatan, insya Allah, saya berhubungan dengan Pak Jokowi. 

Bagaimana Malaysia menganggap Indonesia? Sebagai tetangga terdekat atau pesaing?

Saudara. Saya sendiri, cucu saya separuh Indonesia, separuh Malaysia, karena menantu saya orang Indonesia. Manado campur Jawa. Bapak dia Manado, mak dia Jawa, jadi cucu saya separuh Malaysia, separuh Indonesia. Tentu saja hubungan Malaysia Indonesia ini lebih dari sekadar jiran. Ini sudah masalah biasa. Konflik politik di sini pun ramai, di sana juga ramai. Itu bukan perkara baru. Sejarah kita panjang, tapi hubungan itu lebih kepada kekeluargaan.

 
Saya sendiri, cucu saya separuh Indonesia, separuh Malaysia, karena menantu saya orang Indonesia.
 
 

Bagaimana pendapat PM mengenai media sosial yang sering kali memunculkan ketegangan?

Saya percaya Indonesia dan Malaysia menghadapi masalah yang sama berkaitan dengan media sosial. Karena itu, waktu di Hawana saya sebutkan bahwa sekarang satu lagi yang sukar kita kawal adalah media sosial. Kalau media arus utama, ada persatuan yang boleh dirujuk, etika itu boleh dibentangkan. Do and dont's dalam kesatuan. Tapi, media sosial di luar kesatuan ini.

Karena itu, waktu di Hawana saya sampaikan mesti diwujudkan itu Persatuan Wartawan Malaysia yang bukan saja di media cetak, elektronik, tapi juga di media sosial. Sebab, undang-undang yang khusus tidak ada di Malaysia. Dulu ada Akta Antiberita Tidak Benar, tapi itu sudah dihapus.

photo
Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob (duduk, kiri) bersama sejumlah wartawan asal Indonesia sedang menikmati durian di Putrajaya, Malaysia, Senin (30/5). - (Nur Hasan Murtiaji/Republika)

Media sosial tidak didaftarkan. Mereka boleh daftar di dua negara, buka dan tutup dalam waktu satu hari. Kecam kita, fitnah kita. Kita cari, dia sudah tutup. Jadi, memang tidak mudah. Bagi Iswami, saya harapkan bisa perhatikan hal ini dengan lebih mendalam untuk dicarikan solusi. 

Tentang narkoba dan terorisme, bagaimana mengatasi hal ini?

Kita melalui kerja sama antara polisi Malaysia, Indonesia, Thailand. Dari segi hukuman, di Malaysia paling berat karena hukuman mati. Tujuannya untuk memberantas narkoba. Bahwa nyawa tidak bisa diganti dengan keuntungan.

Walaupun hukuman mati itu sudah ada sejak lama, tapi masih ada di dalam (kasus narkoba). Yang kita tekankan sekarang adalah edukasi, pengajaran, pendidikan. Edukasi dan kampanye bahwa itu najis narkoba. Biar timbul kesadaran sendiri. Kerja sama (pemberantasan narkoba) kita lakukan bersama Malaysia, Indonesia, Thailand.

Rusia Kembali Tutup Pasokan Gas ke Eropa

Uni Eropa sepakat melakukan embargo parsial terhadap komoditas minyak Rusia.

SELENGKAPNYA

Australia Miliki Dua Menteri Muslim

Anne Aly menjadi menteri pemuda dan Ed Husic menduduki kursi menteri perindustrian.

SELENGKAPNYA

Diplomasi Durian Ala PM Malaysia Ismail Sabri

Kewartawanan yang amanah dan bertanggung jawab merupakan aset penting dalam pembangunan negara dan bangsa.

SELENGKAPNYA