emilik UMKM mengemas nasi box pesanan di rumahnya di kawasan Cakung, Jakarta Timur, Selasa (20/2/2024). | Republika/Thoudy Badai

Opini

Menciptakan Supply Chain yang Sehat untuk UKM

Tahap pertama dalam menciptakan supply chain yang sehat adalah pemetaan seluruh proses bisnis.

Oleh TEGUH ANANTAWIKRAMA, Ketua Bidang UMKM Koperasi dan Kewirausahaan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI)

Dalam dunia bisnis yang semakin kompleks, membangun supply chain yang sehat menjadi keharusan bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk bertahan dan berkembang. Supply chain yang sehat tidak hanya memastikan kelancaran operasional, tetapi juga mendukung daya saing UKM di pasar global. Berdasarkan pandangan saya, beberapa tahapan strategis dapat diambil untuk menciptakan supply chain yang sehat bagi UKM, yang meliputi pemetaan supply chain, identifikasi pain point, pengoptimalan proses, pengembangan ekosistem, kolaborasi, dan peningkatan kontinu.

 

Pemetaan Supply Chain

Tahap pertama dalam menciptakan supply chain yang sehat adalah pemetaan seluruh proses bisnis. Pemetaan ini mencakup semua tahapan dari bahan baku hingga produk jadi, serta semua pihak yang terlibat di dalamnya. Proses ini memberikan gambaran menyeluruh tentang aliran barang, informasi, dan uang dalam supply chain. Menurut sebuah survei oleh Deloitte pada tahun 2023, 75 persen UKM yang melakukan pemetaan supply chain secara teratur mampu mengurangi biaya operasional hingga 15 persen. Pemetaan yang baik memungkinkan UKM untuk mengidentifikasi setiap elemen dalam supply chain dan memastikan tidak ada tahapan yang terlewatkan.

 

Identifikasi Pain Point

Setelah memetakan seluruh proses bisnis, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi pain point atau masalah yang terjadi di setiap tahapan. Pain point bisa berupa keterlambatan pengiriman, kualitas bahan baku yang tidak konsisten, atau biaya logistik yang tinggi. Data dari laporan McKinsey pada tahun 2022 menunjukkan bahwa 60 persen UKM mengalami masalah pada tahap distribusi produk, yang mengakibatkan kerugian finansial. Identifikasi pain point memungkinkan UKM untuk fokus pada area-area yang membutuhkan perbaikan segera dan berdampak signifikan terhadap efisiensi operasional.

 

Pengoptimalan Proses

Setelah mengidentifikasi masalah, langkah selanjutnya adalah melakukan pengoptimalan proses bisnis. Pengoptimalan ini bisa dilakukan dengan menerapkan teknologi, seperti sistem manajemen supply chain (SCM), otomatisasi proses, dan penggunaan data analitik. Sebagai contoh, penelitian oleh Gartner pada tahun 2023 menemukan bahwa UKM yang mengadopsi teknologi SCM mampu meningkatkan efisiensi operasional hingga 20 persen. Pengoptimalan proses tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga mengurangi biaya dan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan berbagai tahapan dalam supply chain.

Pengembangan Ekosistem

Setelah proses bisnis dioptimalkan, langkah selanjutnya adalah mengembangkan ekosistem yang lengkap untuk setiap sektor, termasuk sektor fashion, kuliner, entertainment, dan sub-sektornya. Pengembangan ekosistem melibatkan pembentukan hubungan yang erat antara semua pemain dalam supply chain, mulai dari pemasok bahan baku hingga distributor dan pengecer. Ekosistem yang kuat memastikan keberlanjutan dan ketahanan supply chain. Studi dari World Economic Forum pada tahun 2023 menunjukkan bahwa kolaborasi dalam ekosistem yang baik dapat meningkatkan pendapatan UKM hingga 30 persen.

 

Kolaborasi

Membangun kolaborasi dengan para pihak yang terlibat dalam proses bisnis adalah kunci untuk menciptakan supply chain yang sehat. Kolaborasi ini mencakup kerja sama dengan supplier, distributor, dan pelanggan. Menurut sebuah laporan dari Harvard Business Review pada tahun 2022, UKM yang aktif berkolaborasi dengan mitra bisnisnya berhasil meningkatkan kualitas produk dan layanan hingga 25 persen. Kolaborasi juga membuka peluang untuk inovasi bersama dan berbagi sumber daya yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas supply chain.

 

Peningkatan yang berkelanjutan

Langkah terakhir adalah melakukan peningkatan berkelanjutan terhadap proses bisnis dan ekosistem yang ada. Peningkatan kontinu memastikan bahwa supply chain tetap responsif terhadap perubahan pasar dan kebutuhan pelanggan. Data dari Institute for Supply Management (ISM) pada tahun 2023 menunjukkan bahwa UKM yang secara rutin melakukan evaluasi dan peningkatan supply chain mampu menjaga kepuasan pelanggan di atas 90 persen. Pendekatan ini memungkinkan UKM untuk terus berkembang dan tetap kompetitif di pasar yang dinamis.

Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, UKM dapat menciptakan supply chain yang sehat dan membangun ekosistem yang lengkap untuk setiap sektor. Pemetaan supply chain, identifikasi pain point, pengoptimalan proses, pengembangan ekosistem, kolaborasi, dan peningkatan yang berkelanjutan merupakan fondasi untuk mencapai tujuan ini.

Data dan riset terbaru mendukung pentingnya setiap langkah ini dalam meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya, dan meningkatkan daya saing UKM di pasar global. Sebagai hasilnya, UKM tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh dan berkembang di tengah persaingan yang semakin ketat.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Melihat Geliat UMKM Kopi Trawas Mojokerto

Terdapat tiga wilayah yang potensial dalam pengembangan kopi di Trawas

SELENGKAPNYA

Urgensi Ekonomi Politik Transformasi UMKM Hijau

Pemerintah dapat menyediakan regulasi dan insentif untuk UMKM yang menerapkan prinsip ramah lingkungan.

SELENGKAPNYA

Cara BUMN Mengangkat Bisnis UMKM

Sebaran vending machine UMKM diharapkan bisa makin meluas.

SELENGKAPNYA