ILUSTRASI Diskusi tentang orientalisme kini tak terlepas dari kritik terhadap praktik kolonialisme | DOK WIKIPEDIA

Dunia Islam

Orientalisme Perspektif Edward Said

Edward Said menyuguhkan kritik atas wacana orientalisme.

Oleh: Hasanul Rizqa

Dalam upaya mengenal bangsa-bangsa lain, seorang terpelajar harus bisa membedakan dua jenis kehendak. Pertama, ada kehendak yang bertujuan koeksistensi.

Semakin mengetahui seluk-beluk sebuah bangsa, maka ia akan tertarik untuk hidup damai dan berdampingan dengan bangsa tersebut. Dengan kata lain, terjadi dialog antarperadaban.

Adapun kehendak yang kedua berwatak sebaliknya. Ia ingin mendominasi bangsa-bangsa lain. Biasanya, kehendak ini dimotori retorika “pengetahuan adalah kekuatan” (knowledge is power).

Pemilahan dua kehendak itu disampaikan Edward Wadie Said, seorang profesor ilmu humaniora Columbia University dalam pembuka karya pamuncaknya, Orientalism. Pakar kajian poskolonial yang wafat pada 2003 itu menjelaskan, orientalisme sebagai sebuah konsep merupakan gaya berpikir yang membedakan Barat dari Timur, baik secara ontologis maupun epistemologis.

Barat memandang Timur sebagai sang lain (the other) dalam relasi kuasa. Lebih jauh, Barat secara leluasa mendefinsikan Timur—tetapi tidak berlaku sebaliknya. Meminjam teori Michel Foucault tentang pengetahuan, Said membagi empat jenis hubungan kekuasaan dalam wacana orientalisme.

Pertama, kekuasaan politik yang melahirkan kolonialisme Barat atas Timur. Kedua, kekuasaan intelektual yang berupaya “memberadabkan” Timur melalui sains atau konsep-konsep pengetahuan yang telah dirancang Barat sebelumnya.

Ketiga, kekuasaan budaya, misalnya, melalui politik bahasa atau sentimen rasialis. Keempat, kekuasaan moral. Seluruh bentuk-bentuk relasi tersebut hadir secara tumpang-tindih dalam penjajahan kultural maupun fisik. Jejak-jejaknya pun masih terasa sampai sekarang.

Rendah diri

Orientalisme dalam praktik kolonial mungkin telah lama usai. Sesudah Perang Dunia II, satu per satu negeri di Asia maupun Afrika bebas dari cengkeraman kolonialisme. Bagaimanapun, hal itu tidak berarti bahwa mental bangsa terjajah otomatis tergantikan menjadi mental merdeka.

photo
Mural bergambar wajah Edward Said di tembok yang didirikan Israel di daerah pendudukan, Tepi Barat. Tulisan berbahasa Arab berarti, Kami akan terus merawat jalanmu, pemikiranmu akan selalu abadi. - (DOK WIKIPEDIA)

Di sinilah jejak-jejak orientalisme mengemuka. Hal itu tampak dari masih menguatnya anggapan bahwa apa-apa yang berasal atau tampil sebagai Barat lebih baik daripada Timur. Misalnya, anggapan bahwa kriteria cantik harus mendekati ciri-ciri fisik orang Eropa: berkulit putih, berhidung mancung, bertubuh tinggi, dan sebagainya.

Menurut Edward Said, orientalisme dalam praktik adalah proses “pemberadaban” yang sekurang-kurangnya hadir melalui bahasa. Rakyat jajahan Prancis atau Inggris, umpamanya, diajarkan bahasa Prancis atau Inggris. Sebab, kedua bangsa itu mendaku diri sebagai “tuan” yang membawa “misi suci”, yakni memberadabkan Timur—yang dianggap masih barbar.

Para orientalis berusaha menyebarkan kesadaran geopolitis ke dalam berbagai macam teks, termasuk yang berkaitan dengan Dunia Islam atau kaum Muslim. Bahkan, menurut Said, mereka membuat abstraksi-abstraksi yang menyudutkan Islam.

Para orientalis menulis dalam jurnal-jurnal akademis atau di lingkungan universitas. Karena itu, sering kali gagasan-gagasan dari mereka diterima secara begitu saja sebagai sesuatu yang ilmiah atau bahkan berlaku universal. Jadi, tidak mengherankan, lanjut Said, bila ada dari masyarakat Islam sendiri yang cenderung membela abstraksi-abstraksi demikian. Pada akhirnya, rasa rendah diri atau inferior membuat (kaum terpelajar) Muslim merasa perlu validasi dari para orientalis untuk mendefinisikan tempat dan budaya—atau bahkan diri—mereka sendiri.

Tidak selalu sinis

Bagaimanapun, cermin orientalisme tidak selalu muram. Said menjelaskan, sedikit kecenderungan yang lebih manusiawi mulai muncul ketika Perang Dunia II berakhir. Akibat peperangan akbar tersebut, Barat mengalami krisis kebudayaan yang tak tepermanai. Sejak saat itu, para orientalis asal Eropa mulai memperbanyak fokus pada kajian kebudayaan terhadap Timur dengan metode yang lebih intuitif atau malah simpatik, alih-alih positivistik yang “dingin.”

Di antara para orientalis yang unggul dalam konteks ini adalah Louis Massignon dan HAR Gibb. Yang satu merupakan kelahiran Prancis, sedangkan yang kedua lahir di Mesir. Said mengakui, kedua sosok ini merupakan orientalis yang sangat “religius.”

photo
Louis Massignon - (DOK WIKIPEDIA)

Massignon, umpamanya, berusaha menghidupkan kembali filologi ketimuran. Dia bahkan menerbitkan kamus mistikus atau tasawuf Islam. Karya-karya sufi Mansur al-Hallaj merupakan passion seumur hidupnya sebagai seorang pengkaji. Selain itu, Massignon juga menelaah bidang-bidang lain, mulai dari simbolisme seni dan struktur logika Islam, hingga seluk-beluk keuangan Islam abad pertengahan.

Massignon juga menyumbang dalam kajian sufi. Seperti dijelaskan oleh Edward Said, orientalis tersebut berkeyakinan adanya beda antara sufi Persia dan sufi Arab. Misal, para sufi Persia pada umumnya melanjutkan tradisi pencarian akan Yang Maha Sempurna. Ini mengingatkan kita pada para magi yang datang kepada bayi Isa lantaran melihat tanda bintang di langit Yerusalem. Sementara itu, sufi Arab cenderung menganut monisme testimonial (wahdat as-shuhud).

Massignon menegaskan, Barat harus bertanggung jawab terhadap Timur yang dianggapnya mengalami keterbelakangan dalam segala bidang. Sebab, lanjut dia, Barat telah melakukan kolonialisme atas Timur. Semangat anti-kolonial inilah yang melatari dukungan sang orientalis terhadap Palestina. Ia pun menentang Zionisme, seperti tecermin dalam esai-esai yang ditulisnya sesudah 1948—tahun lahirnya “negara” Israel. Massignon memandang, apa yang dinamakan eksodus Israel ke “Tanah yang Dijanjikan” tak ubahnya kolonialisme sehingga wajib dilawan.

Adapun Hamilton Alexander Rosskeen (HAR) Gibb merupakan figur Skotlandia kelahiran Alexandria, Mesir. Selama pecah Perang Dunia I, Gibb menjeda kuliahnya di University of Edinburgh untuk ikut pasukan Inggris di medan perang.

Usai itu, ia mendalami bahasa Arab di SOAS London hingga menjadi profesor pada 1930. Gibb juga mengajar dan bekerja di kampus-kampus mapan lainnya, yakni Oxford University dan Harvard University.

photo
HAR Gibb - (DOK WIKIPEDIA)

Sebagai peneliti, Gibb meyakini bahwa Islam merupakan sistem kehidupan yang koheren. Agama ini adalah faktor pemersatu dari keanekaragaman masyarakat di banyak negeri Asia dan Afrika. Dengan begitu, ia mengakui bahwa Timur tidak dapat direduksi menjadi eksistensi yang monolitis atau digeneralisasi secara berlebihan (over-generalisation).

Said menyebutkan, Gibb memiliki pandangan yang cenderung ramah dan simpatik terhadap toleransi Islam. Orientalis ini juga mengkritik Westernisasi. Namun, di sisi lain Gibb menuding kaum Muslim sebagai pihak yang ikut membuat Islam tampak keropos.

Bagi dia, Islam pada hakikatnya merupakan agama yang hidup dan vital. Islam memikat hati, pikiran, dan kesadaran ratusan juta orang lantaran memberikan patokan bagi mereka hidup secara lebih terarah. Yang membeku, lanjut Gibb, justru rumusan-rumusan sosial yang banyak dipraktikkan kaum Muslimin. Dengan demikian, ada jurang antara Islam serta daya tarik agama ini di satu sisi dan daya tangkap para penganutnya di sisi lain.

Sampai di sini, Said mengkritik Gibb sebagai orientalis yang hendak tampil sebagai “penyelamat” Islam sambil menganggap bisu umat Islam. Lebih lanjut, Said memandang Gibb terlalu membesar-besarkan kelemahan kaum Muslim. Hal ini terjadi lantaran egosentrisme Eropa yang diidap Gibb serta banyak kalangan orientalis lainnya.

“Ironisnya, penjelasan para cendekiawan Barat ini selalu menampilkan Islam sebagai sesuatu yang tak bisa dijamah,” demikian kata Edward Said. “Sejak inilah kemudian muncul beragam spekulasi bahwa hanya Barat-lah yang mampu menjangkau Islam itu sendiri.”

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Orientalisme, Cara Barat 'Memandang' Timur

Kehadiran orientalisme amat berkaitan dengan imperialisme dan kolonialisme.

SELENGKAPNYA

Mengapa Papua Masih Rawan?

Pembangunan di Tanah Papua disebut belum menyentuh penduduk asli.

SELENGKAPNYA

Persiapkan dengan Matang Rencana Nonton Konser di Luar Negeri

Mumpung ke luar negeri, Anda bisa juga sekaligus mengunjungi tempat dan atraksi lain yang sudah lama diincar.

SELENGKAPNYA