ILUSTRASI Orientalisme adalah cara Barat memandang Timur. | DOK WIKIPEDIA

Dunia Islam

Orientalisme, Cara Barat 'Memandang' Timur

Kehadiran orientalisme amat berkaitan dengan imperialisme dan kolonialisme.

Oleh: Hasanul Rizqa

Orient berarti Timur. Kata itu berasal dari bahasa Prancis. Orientalisme berarti ilmu ketimuran yang dalam istilah akademis digunakan untuk mengkaji beberapa disiplin, seperti sejarah, budaya, seni, kesusastraan, geografi, dan ekonomi.

Seperti tampak pada namanya, yang menjadi objek kajian adalah yang disebut sebagai dunia Timur. Istilah ini meliputi antara lain Asia barat (Timur Tengah), Afrika utara, Asia selatan, dan Asia tenggara.

Lawan dari orient ini dalam bahasa Prancis ialah occident yang berarti Barat. Karena itu, muncul pula oksidentalisme yang sering dibenturkan dengan orientalisme.

Orientalisme dimulai oleh kaum orientalis dengan mempelajari bahasa Arab dan agama Islam. Kemudian sesudah meluasnya penjajahan Barat atas Timur, mereka semakin luas lagi mempelajari semua agama Timur, adat istiadatnya, peradabannya, ilmu pengetahuannya, bahasa, dan lain-lain.

Istilah orientalisme telah ada di dunia Barat diperkirakan sebelum abad ke-17, tapi belum terlalu muncul di permukaan. Istilah orientalisme baru muncul pada abad ke-18 dan menampakkan kejayaannya pada abad ke-19. Para peneliti Barat ini telah banyak melakukan penelitian mengenai banyak hal dari dunia Timur, khususnya berkaitan dengan agama Islam dan bahasa Arab.

Menurut A J Arberry, seorang orientalis Inggris, bukti mengenai istilah orientalis ditemui pada 1638 yang dikemukakan oleh seorang anggota gereja di Yunani. Pada 1691, Anthony Wood (1632-1695) dan Samuel Clarke (1675-1729) telah menyebutkan bahwa mereka adalah orientalis karena mengetahui beberapa jenis dialek bahasa Timur.

 
Istilah orientalis muncul di Prancis pada 1799 dan digunakan di Inggris pada 1838.

Sementara itu, menurut orientalis berkebangsaan Prancis, Maxim Rodinson, istilah orientalis muncul di Prancis pada 1799 dan digunakan di Inggris pada 1838.
Abd Rahim dalam buku Sejarah Perkembangan Orientalisme, menelisik minat orang Barat meneliti masalah-masalah ketimuran sudah berlangsung sejak Abad Pertengahan. Mereka melahirkan sejumlah karya-karya yang menyangkut masalah ketimuran.

Pada Abad Pertengahan, pandangan orang Eropa tentang Islam berasal dari gagasan kitab suci dan teologis. Oleh karena itu, mitologis, teologis, dan misionerlah yang berperan memberikan rumusan untuk mengembangkan wacana resmi mengenai Islam bagi kaum gereja.

Penuntut ilmu dari Prancis, Inggris, Jerman, dan Italia datang belajar ke perguruan tinggi dan universitas yang ada di Andalusia dan Sisilia. Di antara mereka itu adalah pemuka-pemuka Kristen, misalnya Gerbert d'Aurillac yang belajar di Andalusia dan Adelard dari Bath (1107-1135) yang belajar di Andalusia dan Sisilia.

Gerbert d'Aurillac kemudian menjadi Paus di Roma dari 999-1003 dengan nama Sylverster II. Adapun Adelard, setelah kembali ke Inggris, diangkat menjadi guru Pangeran Henry yang kelak menjadi raja. Ia menjadi salah satu penerjemah buku-buku Arab ke dalam bahasa Latin.

 
Bahasa Arab mulai dipandang sebagai bahasa yang harus dipelajari dalam bidang ilmiah dan filsafat.

Dalam suasana inilah muncul orientalisme di kalangan Barat. Bahasa Arab mulai dipandang sebagai bahasa yang harus dipelajari dalam bidang ilmiah dan filsafat. Pelajaran bahasa Arab dimasukkan ke dalam kurikulum di berbagai perguruan tinggi Eropa, seperti di Bologona (Italia) pada 1076, Chartres (Prancis) 1117, Oxford (Inggris) pada 1167, dan Paris pada 1170.

Muncullah penerjemah generasi pertama, Constantinus Africanus (w 1087) dan Gerard Cremonia (w 1187). Tujuan orientalisme pada masa ini adalah memindahkan ilmu pengetahuan dan filsafat dari dunia Islam ke Eropa. Tujuan ini meningkatkan minat mereka dalam mempelajari bahasa Arab di universitas-universitas.

Di Italia, pelajaran bahasa Arab diadakan di Roma (1303), Florencia (1321), Padua (1361), dan Gregoria (1553), di Prancis pada 1217, Montipellier 1221, Bordeaux pada 1441, di Inggris dilaksanakan di Cambrige pada 1209, sedangkan di bagian Eropa dimulai pada abad ke 15.

Menurut Al Makin dalam Antara Barat dan Timur, awal mula orientalisme adalah masa romantisme era penjajahan yang diawali pertemuan antara Budaya Eropa dan budaya lain. Yang dimaksud Eropa, seperti Inggris, Portugis, Prancis, Belanda, Spanyol, dan Italia yang mendominasi abad ke-15 sampai awal abad ke-20, setelah gerakan Renaisans yang berakibat pada rasionalisasi di Eropa.

Setelah Eropa mengalami Renaisans, mendorong terjadinya rasionalisasi dan pengetahuan, terutama ukuran positivisme, lahirlah masa industrialisasi. Persaingan di Eropa menjadi ketat. Ekonomi dan kekuasaan juga bertemu.

Persaingan ketat di Eropa juga mendorong menemukan dunia baru, yaitu Timur.
Dengan begitu, penemuan dunia Timur oleh Barat didasari oleh rasionalisasi yang mengarah pada industrialisasi dan persaingan antarbangsa di Eropa, seperti Inggris, Prancis, Belanda, Portugis, dan Spanyol. Karena persaingan itu jugalah yang melahirkan para petualang dengan kapalnya melewati samudra, termasuk Indonesia.

photo
Lukisan yang menggambarkan ekspedisi Napoleon Bonaparte di Mesir. Perjalanan yang dilakukan pemimpin Prancis ini dipandang sebagai contoh orientalisme dalam praktik. - (DOK WIKIPEDIA)

Empat fase

Mengutip buku Orientalisme dan Orientalisten karya Ismail Jakub, berdasarkan rentetan sejarahnya, orientalisme melewati empat periode sejak kemunculannya. Yaitu, pertama, periode benci. Pada periode ini yang dimulai sejak kaum orientalis melaksanakan penelitian terhadap Islam sampai datang periode sesudahnya. Kaum orientalis memandang Islam dalam segala aspeknya dengan pandangan benci dan permusuhan. Hal ini dapat dipahami karena kaum orientalis awal terdiri dari kaum gereja Katolik.

Kedua, periode sangsi. Pada periode ini kaum orientalis memandang Islam dengan bimbang mengenai kebenaran yang terkandung di dalamnya. Ketiga, periode mendekati. Periode ini dapat juga dinamakan dengan periode tidak menampakkan diri, bagaimana sebenarnya hati mereka (orientalis) terhadap Islam. Mereka meneliti agama Islam dan umatnya dengan pendekatan ilmiah.

Sejak periode mendekati ini, sering kali ada penghargaan terhadap agama Islam walaupun secara tidak ikhlas. Atau mereka menggambarkan hal yang yang simpatik kepada Islam, lalu menyisipkannya hal yang negatif yang sering tidak disadari oleh para pembaca meskipun orang Islam sendiri.

Keempat, periode toleransi. Dalam masa yang disebut dengan toleransi ini adalah lebih menekankan pada penelitian yang menghasilkan sesuatu yang lebih objektif dan demi kesejahteraan umat manusia secara umum. Tidak lagi terikat oleh kelompok atau daerah tertentu secara geografis.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Mengapa Papua Masih Rawan?

Pembangunan di Tanah Papua disebut belum menyentuh penduduk asli.

SELENGKAPNYA

Riwayat Jamiat Kheir Hingga Ilhami Muhammadiyah

Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, pernah menjadi anggota Jamiat Kheir.

SELENGKAPNYA

Sejarah Gerakan Islam Jamiat Kheir

Jamiat Kheir didirikan para tokoh Islam Indonesia keturunan Arab.

SELENGKAPNYA