Karyawan beraktivitas di dekat logo-logo perusahaan asuransi di Jakarta, Senin (4/4/2022). | ANTARA FOTO/Reno Esnir/hp.

Ekonomi

Industri Asuransi Syariah Didorong Buat Produk Hijau

SDM syariah harus mampu berkompetisi di tengah kebutuhan pengembangan ekonomi syariah yang sangat tinggi.

JAKARTA -- Industri asuransi syariah didorong untuk membuat produk asuransi hijau atau produk berbasis nilai environment, social, dan governance (ESG). Ketua Islamic Insurance Society (IIS) Muhammad Zamachsyari mengatakan, hingga saat ini, Indonesia belum memiliki produk asuransi syariah hijau.

"Saat ini belum ada yang memang khusus green. Ada yang parsial dengan sebagian investasinya sudah ke sektor tersebut, tapi secara keseluruhan produk hijau itu belum ada," kata Zamachsyari dalam seminar yang digelar IIS di Jakarta, Rabu (23/11).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by KNEKS (@kneks.id)

Menurut dia, industri asuransi syariah sangat berpotensi untuk membuat produk asuransi hijau karena kesesuaian prinsip. IIS pun mendorong industri untuk mulai menginisiasi peluncurannya di tengah kebutuhan yang berpotensi semakin tinggi.

Nilai-nilai ESG terus didorong penerapannya di segala aspek dan industri, termasuk lembaga keuangan. Direktur Industri Keuangan Non-Bank Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kris Ibnu Roosmawati mengatakan, OJK telah mewajibkan lembaga keuangan untuk menerapkan konsep keuangan berkelanjutan. Dukungan tersebut dituangkan dalam bentuk peta jalan yang sudah diluncurkan dua kali, yakni periode 2015-2019 dan 2021-2025.

"Industri asuransi syariah juga bisa memainkan peran penting dalam ESG tersebut sebagai lembaga yang mengusung berbagi risiko," katanya.

Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Sutan Emir Hidayat mengatakan, pengembangan asuransi syariah untuk sektor hijau sangat potensial. Produk asuransi hijau bahkan dapat membuat asuransi syariah lebih unggul dari konvensional.

Konsep asuransi syariah dan ekonomi hijau sangat bersinggungan sehingga dapat lebih mudah dalam penerapannya. Industri dapat mengandalkan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan terkait agar bisa meningkatkan penetrasi secara lebih masif. "Proyek yang terkait hijau itu mitigasi risikonya lebih cocok menggunakan skema syariah," katanya.

 
 
Industri asuransi syariah juga bisa memainkan peran penting dalam ESG tersebut sebagai lembaga yang mengusung berbagi risiko.
 
 

Meski demikian, ia menyadari ekosistem ekonomi syariah juga belum terbangun dengan sempurna. Contohnya, produk-produk sukuk yang juga masih menggunakan asuransi konvensional atau industri produk halal yang pembiayaannya masih dari bank konvensional. Hal itu, menurut dia, merupakan potensi besar yang bisa dimanfaatkan oleh industri syariah ke depan.

Pengembangan SDM

Sumber daya manusia (SDM) industri asuransi syariah dinilai perlu terus berinovasi untuk meningkatkan pangsa pasar. Direktur Industri Keuangan Non-Bank Syariah OJK Kris Ibnu Roosmawati mengatakan, SDM adalah faktor fundamental dalam pengembangan industri keuangan syariah.

"Kita tahu saat ini masih ada keterbatasan sumber daya perasuransian, terutama syariah. Belum banyak yang memiliki pemahaman memadai," katanya.

Ia mendorong agar kompetensi SDM syariah terus ditingkatkan. Selain makin profesional, insan SDM syariah juga harus mampu berkompetisi di tengah kebutuhan pengembangan ekonomi syariah yang sangat tinggi. SDM yang berkualitas akan mampu berinovasi hingga dapat meningkatkan industri yang porsinya saat ini masih kecil.

 
 
Kita tahu saat ini masih ada keterbatasan sumber daya perasuransian, terutama syariah. Belum banyak yang memiliki pemahaman memadai.
 
 

Ketua IIS Muhammad Zamachsyari menyampaikan, pihaknya terus mendorong peningkatan kualitas SDM industri asuransi syariah. SDM dan tenaga ahli berperan penting dalam menentukan arah ekonomi dan keuangan syariah ke depan, termasuk dari sektor asuransi syariah. Menurut dia, IIS sebagai sebuah perkumpulan ahli asuransi syariah berkomitmen meningkatkan peran dalam memenuhi kebutuhan SDM. 

"Sampai saat ini, alumni IIS terdiri atas 61 orang tingkat ahli, 471 orang tingkat ajun ahli, dan 2.416 orang tingkat dasar atau non-gelar," katanya.

GoTo Masih Cetak Kerugian Rp 20 Triliun

Perseroan tetap berfokus pada optimalisasi beban usaha.

SELENGKAPNYA

Muamalat Incar Potensi Haji Khusus

Jumlah pendaftaran haji khusus kini mencapai 1.000 jamaah per tahun.

SELENGKAPNYA

Waskita Rights Issue Awal Desember 

Waskita sedang berdiskusi intensif dengan Kementerian BUMN dan JLA terkait usulan harga pelaksanaan rights issue.

SELENGKAPNYA