Menggali Makam Tua Leluhur Condet | Rep-Achmad Syalaby Ichsan

Jakarta

Menggali Makam Tua Leluhur Condet

Tim eskavasi berhasil menemukan rangka manusia.

OLEH ACHMAD SYALABY ICHSAN

Sebuah situs makam tua di kawasan Condet, tepatnya di Jalan Sawo, RT 08/RW 01, Kelurahan Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur, dieskavasi Dinas Kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan tim arkeologi Universitas Indonesia (UI). Selain untuk membuktikan jika situs yang dikenal dengan makam Ki Lempe tersebut benar merupakan makam, eskavasi juga bertujuan untuk meneliti nisan makam tersebut.

Penggalian dilakukan pada 10-19 November 2022. Makam yang terletak di bantaran Sungai Ciliwung itu berada di antara rimbunnya pohon pisang. Setelah penggalian, Republika menyaksikan tim eskavasi berhasil menemukan rangka manusia. Meskipun tanpa tengkorak kepala, tim bisa memastikan bahwa situs tersebut memang merupakan makam manusia. “Ini makam salah satu leluhur kita,” ujar pendiri Condet Heritage Dicky Arfansuri saat berbincang dengan Republika, di Jakarta, Rabu (23/11).

Menurut Dicky, nisan yang ditemukan di makam itu merupakan hasil dari pahatan bukan cetakan. Dicky yang mengaku menginisiasi eskavasi makam Ki Lempe tersebut mengungkapkan, hasil penggalian akan dilaporkan dalam bentuk laporan pertanggungjawaban dua pekan setelah penggalian dilakukan. Menurut dia, profil Ki Lempe bisa diketahui setelah laporan selesai disusun.

 
Dia mungkin hidup semasa Datuk Ibrahim
DICKY ARFANSURI Pendiri Condet Heritage
 

Meskipun demikian, Dicky menjelaskan, dugaan sementara Ki Lempe hidup pada abad ke-17. Jika dari folklor masyarakat setempat, Ki Lempe dikenal sebagai sosok sakti yang memiliki macan.

Karena itu, kata dia, masyarakat menyebutnya sebagai macan Ki Lempe. Dicky menduga Ki Lempe adalah salah seorang ulama yang berasal dari Banten. “Dia mungkin hidup semasa Datuk Ibrahim,” ujar Dicky.

photo
Menggali Makam Tua Leluhur Condet/Nisan Makam Ki Lempe - (Ist)
SHARE    

Dicky mengungkapkan, ada dugaan Ki Lempe masih memiliki keterkaitan dengan sosok Pangeran Kuningan yang makamnya berada di Kawasan Kuningan, Jakarta. Pangeran Kuningan yang bernama asli Adipati Awangga dan beberapa panglima diutus oleh Sunan Gunung Djati untuk membebaskan Sunda Kelapa dari jajahan Portugis.

Setelah berhasil membebaskan Portugis dan mengubah namanya menjadi Jayakarta, beberapa panglima tersebut berdiam di Jayakarta untuk mendakwahkan syiar Islam. 

Menurut Dicky, Ki Lempe disebut sebagai sosok bernama Solihin atau Solihun. “Dulu mereka yang mengaku masih keluarga Pangeran Kuningan mencari salah satu keturunannya. Kemungkinan ya Ki Lempe tersebut ” ujar dia.

Keberadaan Ki Lempe juga pernah diulas dalam buku karya Iwan Mahmoed A-Fattah berjudul Wisata Ziarah di Jakarta. Jika melihat nisannya, Iwan menduga Ki Lempe hidup satu masa dengan Ki Balung Tunggal yang merupakan penasihat dari Pangeran Astawana, sosok pangeran yang makamnya berada di Kober Balekambang.

Ki Lempe juga diduga berasal dari Kuningan, Jawa Barat, yang merupakan keturunan Pangeran Aria Kemuning. Dia datang bersama para datuk dan ulama lainnya untuk melakukan dakwah Islam di Condet.  

Makam ulama

Condet memang terkenal dengan banyak makam tua. Banyak datuk dan ulama yang makamnya tersebar di beberapa lokasi. Dicky mengaku pernah mendata sebanyak 15 makam keramat yang berada di Condet dan sekitarnya. Di antara makam yang populer di kalangan masyarakat Jakarta, yakni makam Datuk Ibrahim yang letaknya persis di Jalan Raya Condet.

Dinukil dari sejarah yang ditulis oleh Datuk Ahmad, keturunan generasi ketiga dari Datuk Ibrahim, sang datuk masih merupakan keturunan Syekh Maulana Malik Ibrahim. Salah satu wali sembilan yang menyebarkan Islam di nusantara.

Maulana Malik Ibrahim yang kerap dipanggil dengan sebutan Sunan Gresik itu memiliki tiga istri, yakni Sayyidah Fatimah binti Ali Nurul Alam Khan, Sayyidah Maryam binti Syekh Muhammad al-Baqir (Syekh Subakir), dan Sayyidah Jamilah binti Ibrahim Zainal Akbar. 

Dari Sayyidah Maryam, Syekh Maulana Malik Ibrahim memiliki empat anak. Mereka adalah Syekh Abdullah Al Maghribi alias Sunan Bejagung Semanding Tuban, Syekh Ahmad al-Maghribi, Syekh Abdul Ghafur al-Maghribi dan Syekh Ibrahim al-Maghribi. Mereka dikirim ke Pasai untuk mempelajari Islam.

Sepulang dari Pasai, putra pertama, yakni Abdullah al-Maghribi kemudian berdakwah di Tuban. Dia dikenal dengan nama Sunan Bejagung. Dia memiliki putra bernama Syekh Ibrahim Hasan yang juga dikirim ke Pasai untuk belajar agama.

Kemudian, Ibrahim Hasan dikirim ke luar negeri hingga ke Irak, Mesir, dan Turki. Ibrahim lantas pulang. Di Padepokan Trengguli Wonosalam, dia punya putra Abdul Malik Amir al-Maghribi.

Saat Fatahillah berperang di Sunda Kelapa melawan Portugis, Datuk Abdul Malik Amir dan putranya bernama Datuk Husen diminta untuk jihad fisabilillah. Selepas perang, Datuk Abdul Amir kemudian berdakwah ke Pekalongan, Jawa Tengah. Sedangkan Datuk Husen, ayahanda dari Datuk Ibrahim memilih untuk tinggal di Jayakarta sambil menetap untuk berdakwah. 

photo
Peta makam datuk di Condet - (Ist)
SHARE    

 

 

Menag Dorong Perbaikan Layanan Publik

Arah pelayanan publik ke depan haruslah terdigitalisasi.

SELENGKAPNYA

Muamalat Incar Potensi Haji Khusus

Jumlah pendaftaran haji khusus kini mencapai 1.000 jamaah per tahun.

SELENGKAPNYA

Waskita Rights Issue Awal Desember 

Waskita sedang berdiskusi intensif dengan Kementerian BUMN dan JLA terkait usulan harga pelaksanaan rights issue.

SELENGKAPNYA