Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Motivasi Alquran

Ancaman Bagi Pendurhaka

Lalu, para pendurhaka itu ditantang, di manakah pasukanmu yang bisa membelamu?

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Surah al-Mulk tersusun menggunakan redaksi yang menggugah jiwa. Kadang berupa penegasan dan kadang berbentuk pertanyaan. Tujuannya, untuk menghentak jiwa agar jangan terlena dengan dunia dan bangkit menyadari kebesaran Allah SWT. Bahwa semua wujud di alam semesta ini adalah milik-Nya.

Siapa pun yang melawan-Nya pasti akan dilempar ke neraka: “Wa lilladziina kafaruu ‘adzaabu jahannam wa bi’sal mashiir.” (QS 67: 6). Lalu, digambarkan betapa buruknya siksa neraka. Para penghuninya berhadapan langsung dengan suasana yang mengerikan: “Idzaa ulquu fiihaa sami’uu lahaa syahiiqaw wahiya tafuur.” (QS 67: 7).

Digambarkan juga betapa menyesalnya mereka setelah masuk neraka. Mereka mengakui bahwa selama di dunia tidak pernah menggunakan pendengaran dan akal secara benar untuk menyimak wahyu yang Allah turunkan: “Wa qaaluu law kunnaa nasma’u aw na’qilu maa kunnaa fii ash haabis sa’iir.” (QS 67: 11).

Akibatnya, mereka harus menerima bencana kekafirannya, yaitu mendekam dalam neraka. Ternyata penyesalan yang mereka alami di akhirat tidak ada gunanya. Sebab, ketetapan Allah berlaku “ad dunya daaru amal wa laa jazaa’, wal aakhiratu daaru jazaain wa laa amal” (dunia tempat beramal tanpa balasan, sementara akhirat tempat balasan tanpa amal).

Lalu digugah lagi, jiwa-jiwa pendurhaka, mengapa mereka memilih jalan ke neraka? Bukankah Allah telah memudahkan mereka hidup di muka bumi dengan fasilitas rezeki yang lengkap? “Huwal ladzii ja’ala lakumul ardha dzalullan famsyuu fii manakibihaa wa kuluu mir rizqihii.” (QS 67: 15).

Apakah mereka tidak sadar bahwa Allah bisa menggoncang bumi (ay yakhsifa bikumul ardha) dan mengirimkan angin kencang (ay yursila alaikum haashibaa), jika mereka masih berbuat durhaka di dalamnya? (QS 67: 16-17).

Bukankah turunnya azab itu sudah pernah Allah buktikan kepada umat terdahulu, masihkah mereka akan mengulangi kekafiran yang sama, “Wa laqad kazzaballadziina min qablihim fakaifa kaana nakiir.” (QS 67: 18).

Benar, ayat-ayat dalam surah al-Mulk adalah sentuhan tajam yang sangat menusuk dalam dada. Artinya, para pembaca surah al-Mulk hendaklah benar-benar menjiwai sentuhan-sentuhan tersebut agar menjadi semangat bertauhid yang menginspirasi orang lain.

Lalu, para pendurhaka itu ditantang, di manakah pasukanmu yang bisa membelamu? (QS 67: 20). Dari manakah kamu akan mendapatkan rezeki jika Allah menahannya? (QS 67: 21). Tidakkah kamu menggunakan akalmu bahwa orang yang berjalan tegak lurus lebih selamat daripada orang yang berjalan menekukkan lehernya sehingga tidak bisa melihat ke depan? (QS 67: 22).

Penutup surah al-Mulk kembali menggugah lagi, masihkan kamu tidak menggunakan pendengaran, pandangan, dan hatimu agar kamu bersyukur? “Wa ja’ala lakumus sam’a wal abshaa ra wal afidah, qalillan maa tasykuruun.” (QS 67: 23).

Masihkah kamu tidak yakin dengan hari kiamat yang pasti terjadi? Masihkan kamu tidak percaya dengan kekuasaan-Nya untuk menghidupkan manusia sesudah mati?

Bukankah air yang kamu minum adalah bukti kekuasan-Nya? Ke manakah kamu akan mencari air jika semua pesediaan air dicabut oleh-Nya dari dataran bumi? (QS 67: 30).

Jejak Sesar Cimandiri di Situs Gunung Padang Cianjur

Gunung Padang terletak di daerah rawan bencana karena berada pada sesar Cimandiri.

SELENGKAPNYA

Meneladan Kesederhanaan dan Keteguhan KH AR Fachruddin

Dia dikenal sebagai pribadi yang ramah, mengayomi banyak pihak, bijaksana, dan zuhud.

SELENGKAPNYA

Jejak Tsunami Purba di Serambi Makkah

Temuan ahli geoteknologi dan arkeolog di Aceh menunjukkan, Aceh pernah mengalami tsunami jauh sebelum peristiwa tsunami 2004.

SELENGKAPNYA