Siaran langsung dari Istana Merdeka, pengumuman nama nama yang terpilih menduduki jabatan di Kabinet pembangunan VI oleh Presiden Soeharto di Jakarta 17 Maret 1993. Ali Said/Republika | DOKREP

Nostalgia

Jumatan di Cendana, Khatibnya Pernah Jadi Tahanan Orba

Meskipun ia pernah 'disakiti' penguasa Orde Baru itu, namun ia tak pernah dendam kepada Soeharto

Disadur dari Harian Republika Edisi 9 September 2000

Begitu usai wiridan dan berdoa setelah shalat Jumat, para jamaah langsung berdiri dan mendekati mantan Presiden Soeharto. Mereka lalu antre untuk menyalami jenderal besar berusia 79 tahun itu.

Sambil berdiri, Pak Harto membiarkan tangannya disalami atau dicium oleh jamaah. Pak Harto yang mengenakan sarung, baju takwa, dan peci haji putih, lebih banyak terdiam. Hanya mulutnya saja yang komat-kamit. Tak jelas apa yang ia katakan. Namun, sayup-sayup beberapa kali terdengar ucapan alhamdulillah dari mulutnya.

Itulah suasana shalat Jumat di sebuah rumah di Jalan Cendana No 8, Jakarta Pusat, kemarin. Rumah itu adalah kediaman mantan Presiden Soeharto yang sudah ia diami puluhan tahun lalu.

Saat ia masih berkuasa, rumah itu sangat berwibawa. Penjagaan sangat ketat. Di rumah ini pulalah Pak Harto menemui menteri-menteri dan tamu-tamu lainnya selepas jam kerja -- biasanya setelah Maghrib. Konon, pada pertemuan malam hari itulah berbagai keputusan diambil.

photo
Sejumlah jamaah beserta tamu undangan saat menghadiri acara peringatan 100 tahun kelahiran Presiden RI kedua Soeharto di Masjid At-Tin, Jakarta, Selasa (8/6). Acara peringatan tersebut dilakukan untuk memanjatkan doa bersama untuk almarhum Soeharto yang dilakukan secara offline dan online di seratus masjid di sejumlah wilayah Indonesia. Republika/Putra M. Akbar - (Republika/Putra M. Akbar)

Sejak beberapa bulan lalu, rumah besar keluarga Soeharto itu digunakan untuk ibadah shalat Jumat. Sebelumnya, setelah tak menjabat presiden, Pak Harto melaksanakan shalat Jumat di masjid kompleks kelompok usaha Bimantara di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, dan kemudian di Masjid At-Tin di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

Menurut kerabat dekat keluarga Cendana, sejak kesehatan Pak Harto menurun drastis beberapa bulan lalu, keluarganya lalu berinisiatif menyelenggarakan shalat Jumat di rumah di Jalan Cendana No 8 itu. Hampir seluruh anggota keluarga besar Pak Harto yang laki-laki selalu shalat Jumat di sana.

 

 

Hampir seluruh anggota keluarga besar Pak Harto yang laki-laki selalu shalat Jumat di sana

 

 
 

 

Pada shalat Jumat kemarin, ketika Republika tiba pukul 11.30 -- 27 menit sebelum waktu shalat Jumat -- di kediaman Soeharto, tak tampak penjagaan yang ketat. Setelah melapor di pos keamanan, para jamaah dipersilakan menuju ruang shalat yang sudah disediakan.

Tempat shalat itu pada hari-hari biasa merupakan ruang tamu dan tempat keluarga berkumpul. Untuk menghindari pemandangan bagian belakang rumah itu yang berupa taman hingga tidak mengganggu kekhusyukan jamaah saat shalat, dinding kaca di ruang itu dilapisi papan tripleks.

Di shaf paling depan sudah tampak mantan Menteri Koperasi/Kabulog Bustanil Arifin, mantan Menpangan/Kabulog Ibrahim Hasan, serta sejumlah mantan pejabat Kepresidenan/Sekretariat Negara. Di sebelah kiri mimbar khutbah terpampang foto almarhumah Ibu Tien Soeharto berukuran satu kali satu meter.

Mendekat shalat Jumat, jumlah jamaah semakin banyak. Hingga hampir seluruh ruangan terpenuhi. Terlihat para putra dan cucu Pak Harto. Sigit, putra tertua memakai baju koko warna putih dengan peci hitam. Bambang Trihatmodjo mengenakan peci putih, sedangkan Tommy Mandala Putra memakai baju batik warna abu-abu tanpa kopiah. Juga tampak cucu tertua, Ary Sigit dan anaknya yang berumur enam tahun.

Sekitar pukul 11.50, Pak Harto dengan diikuti sekretarisnya Anton Tabah, Haryono Suyono, Probosutedjo, Sri Edi Swasono, dan Kardono memasuki ruangan shalat. Mereka duduk di barisan paling depan. Sekalipun tidak bisa berkomunikasi, tapi fisiknya masih tampak baik. Hanya jalannya saja agak sempoyongan.

Pak Harto shalat secara normal, berdiri, rukuk, dan sujud. Mekipun sejak lengser Mei 1998, jenderal besar ini hampir tiap hari dihujat dan kini dalam proses pengadilan, tapi wibawanya masih tampak.

Hal itu terlihat ketika penguasa Orde Baru itu memasuki tempat shalat, hampir seluruh jamaah berdiri guna menghormatinya. Penghormatan ini kembali terlihat, ketika shalat Jumat usai.

Bahkan para jamaah saling rebut menyalami dan mencium tangan Pak Harto. Yang juga tampak tak berubah dalam usia Pak Harto menjelang 80 tahun ini adalah semyumnya yang khas, yang menyebabkan dia digelari The Smiling General.

H Abdullah Masfa'id Harahap selaku khatib, antara lain, meminta kepada bangsa Indonesia agar berlaku adil terhadap mantan presidennya. Jangan hanya karena adanya dakwaan, hingga jasa-jasanya selama memimpin bangsa dilupakan.

"Kami tidak mengatakan bahwa Haji Muhammad Soeharto tidak bersalah. Karena sebagai manusia tentu saja ia mempunyai kesalahan-kesalahan. Tetapi, harus juga diingat bahwa ia juga berjasa terhadap bangsa dan negara," ujar khatib.

 

 

Harus juga diingat bahwa ia juga berjasa terhadap bangsa dan negara

 

H ABDULLAH MASFA'ID HARAHAP
 

 

Selanjutnya, khatib mengingatkan jamaah untuk selalu hormat kepada orang tua dan menaruh cinta kasih kepada mereka. Ia juga meminta agar dalam situasi ekonomi yang sulit sekarang ini, yang berpunya bisa membantu yang tidak berpunya.

Khatib juga menganjurkan agar seluruh bangsa Indonesia memegang teguh prinsip persaudaraan di antara mereka, tanpa membedakan agama dan status sosialnya.

photo
Kegiatan Presiden Soeharto - Lebaran 1408 Hijriah 1988. Sekretariat Negara - (DOKREP)

Kepada Republika, H Harahap mengatakan, sebagai khatib ia tidak ingin 'menjilat' kepada Pak Harto. Ia hanya mengemukakan yang sebenarnya menurut Islam.

"Saya sendiri pernah menjadi korban pada masa Soeharto. Pernah dipenjara selama satu tahun dua bulan (1968) karena dituduh hendak membakar gereja. Pada tahun 1977 dan 1978 pernah dipenjara di Medan dituduh agen DI/TII," ujarnya sembari menambahkan bahwa ia juga pernah dituduh terlibat peristiwa Priok dan divonis tujuh bulan penjara.

 

 

Saya sendiri pernah menjadi korban pada masa Soeharto. Pernah dipenjara selama satu tahun dua bulan (1968) karena dituduh hendak membakar gereja.

 

H ABDULLAH MASFA'ID HARAHAP
 

Abdullah Mafa'id menambahkan, meskipun ia pernah 'disakiti' penguasa Orde Baru itu, tapi ia tak pernah dendam kepada Soeharto, apalagi yang bersangkutan kini dalam keadaan sakit-sakitan. "Untuk mempersilakan para tamunya makan saja, Pak Harto sangat sulit berbicara, hingga terpaksa dibantu orang lain."

Setelah shalat Jumat, Pak Harto memang mengundang sejumlah tamunya untuk makan bersama di sebuah ruangan berjarak sekitar lima meter dari ruang yang digunakan untuk shalat. Di ruang itu tampak gambar berukuran besar Pak Harto sedang shalat.

Mereka yang diundang makan siang kemarin, antara lain, mantan Menteri Koperasi/Kabulog Bustanil Arifin, mantan Menpangan/Ka Bulog Ibrahim Hasan, mantan Menko Kesrataskin/Ketua BKKBN Haryono Suyono, Probosutedjo (adik Pak Harto), mantan Ketua Dekopin Sri Edi Swasono, dan mantan Sekretaris Militer Presiden Kardono.

Berjamaah Memperkuat Ekosistem Halal

Pentingnya mengakselerasi penguatan ekosistem Global Halal Hub.

SELENGKAPNYA

SVR: Anti-Muslim dan Anti-Semit Tersebar Luas di Jerman

Studi SVR juga menganalisis sikap anti-Semit di Jerman.

SELENGKAPNYA

OPEC+ Pangkas Produksi Minyak

Keputusan OPEC+ dinilai berdampak negatif pada negara berpenghasilan rendah dan menengah.

SELENGKAPNYA