Queen Nail Henna | IG Queen Nail Henna

Bodetabek

Kuteks Halal Tangerang Rambah Dunia

Pada 2017, dia menginvestasikan dananya Rp 6 juta untuk belajar seputar hena

OLEH EVA RIANTI

Bisnis kuteks halal yang dimulai sejak lima tahun yang lalu membawa Dewi Susilawati (32 tahun), warga Ciledug, Kota Tangerang, merambah ke berbagai negara di dunia. Dorongan ekonomi disertai hobi dalam bidang sains menuntunnya menggeluti bisnis bidang perhenaan hingga dapat menghasilkan cuan yang fantastis.  

Usaha itu berawal dari masalah faktor ekonomi keluarganya yang terbilang kekurangan. Dewi punya mimpi untuk memperbaiki ekonomi keluarganya dengan memanfaatkan potensi yang ia miliki, yakni di bidang sains. 

Pada 2017, dia menginvestasikan dananya Rp 6 juta untuk belajar seputar hena, selama satu jam. Dewi kemudian berani membanting setir membuka bisnis kuteks halal. Hasilnya, kini dia menghasilkan omzet ratusan juta rupiah per bulannya.

Usaha kuteks halal dengan nama Queen Nail Henna produksi Dewi terbilang cukup melesat dengan potensi sumber daya manusia (SDM) yang terbatas. Mulanya, awal membangun bisnis hena, dia menjalankan hanya berdua dengan suaminya. Setelah berjalan bertahun-tahun, baru-baru ini, dia merekrut karyawan berjumlah empat orang. Dua tenaga produksi dan dua tenaga administrasi.

“Kami awal produksi pada 2017 itu melihat dari faktor ekonomi utamanya, kemudian kami riset apa sih produk yang nggak ada masanya, yang pasarnya terus ada. Ternyata kebanyakan wanita memakai kuteks. Akhirnya kami berpikir bagaimana cara agar kaum wanita, terutama Muslimah yang ingin kukunya berwarna, tapi tetap bisa shalat. Saya cari guru, saking pengennya belajar lalu alhamdulillah bikin produk sendiri,” kata Dewi. 

 

 

Akhirnya kami berpikir bagaimana cara agar kaum wanita, terutama Muslimah yang ingin kukunya berwarna, tapi tetap bisa shalat

 

DEWI SUSILAWATI, Pemilik Queen Nail Henna
 

 

Di rumah produksinya di kawasan Pondok Kacang Barat, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten, Dewi terus melakukan pengembangan bisnis untuk bisa menggaet banyak konsumen. Sasarannya baik di Indonesia maupun mancanegara. 

Ibu beranak tujuh itu mengaku ingin menghasilkan produk yang berbeda dibandingkan dengan produk-produk lainnya. Dia mengandalkan racikan bahan-bahan utama pembuatan hena dari tangannya sendiri. 

Dengan riset yang dilakukannya, Dewi kerapkali menemukan formula-formula anyar yang membuat produknya terus terinovasi. Inovasi itu terbukti dari beragam warga kuteks yang diproduksinya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by (queennailhenna.official)

“Awal kami launching ada enam warna. Lalu, saya lihat kompetitor bikin warna lagi, kami pun terus berinovasi hingga lengkap menjadi 16 warna. Itu warna terbanyak di Indonesia dan mungkin dunia. Jumlah produksinya 500 sampai 1.000 botol per hari,” kata dia.

Ke-16 warna kuteks tersebut di antaranya warna terang, seperti sweet green, lavender, dan pink rose hingga warna gelap, seperti maroon, choco brown, dan black.

Bahan utama pembuatan kuteks tersebut, yakni bubuk daun pacar atau hena yang diimpor dari India. Kemudian dia olah dengan bahan-bahan lainnya, seperti cajuput oil, lavender oil, dan ekstrak buah.

Cara produksinya terbilang sederhana. Seusai dilakukan peracikan, bahan-bahan diolah menggunakan alat, seperti mixer hingga menghasilkan warna tertentu. selanjutnya, dimasukkan secara manual ke dalam botol. 

Ada tiga jenis ukuran yang diproduksinya. Ukuran 15 mililiter (ml) dibanderol seharga Rp 50 ribu, 10 ml seharga Rp 45 ribu, dan 5 ml seharga Rp 25 ribu. Produk kuteksnya sudah dilengkapi dengan label halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sedangkan label dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) masih dalam proses.

 
Produk kami sampai ke Cina, Afrika Selatan, Inggris, Singapura, Jerman, dan Kanada.
 
 

“Produk kami sampai ke Cina, Afrika Selatan, Inggris, Singapura, Jerman, dan Kanada. Di Indonesia kami ke mana-mana, seperti Makassar, Sulawesi, Jakarta, Tangerang, Lampung, dan Palembang," ujarnya. 

Hingga saat ini, dari Indonesia maupun mancanegara dia telah memiliki 75 agen. Omzetnya pun bisa mencapai Rp 500 juta per bulan.

Dewi menyebut, pemasaran produk dilakukan melalui media sosial Instagram dan satu marketplace. Produknya pun sudah mendapatkan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) yang dibantu oleh Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) Kota Tangerang. 

Dewi berharap bisnis yang dibangunnya itu bisa terus berkembang dengan ragam inovasi dan menyentuh banyak orang di berbagai belahan dunia. “Saya berencana lima tahun ke depan ingin membuka salon hena khusus Muslimah. Bagi muslimah yang ingin mewarnai rambut bisa kami sediakan bahan yang alami, karena kita punya produk mewarnai rambut juga, tapi perlu diracik lagi, riset lagi,” kata dia. 

Prasangka yang Diperbolehkan

Seseorang yang hatinya diliputi prasangka, hanya akan melihat orang lain serbanegatif.

SELENGKAPNYA

'Mereka Minta Pertolongan, Tapi Diabaikan'

Mahfud MD memastikan hasil tim gabungan pencari fakta tragedi Stadion Kanjuruhan dalam waktu tiga minggu.

SELENGKAPNYA

Presiden: Audit Semua Stadion

Aremania meminta aparat dan pihak terkait tidak menyembunyikan fakta-fakta yang ada.

SELENGKAPNYA