Pendukung Arema menangis saat mengenang para korban Tragedi Kanjuruhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Rabu (5/10/2022). | EPA-EFE/MAST IRHAM

Kabar Utama

'Mereka Minta Pertolongan, Tapi Diabaikan'

Mahfud MD memastikan hasil tim gabungan pencari fakta tragedi Stadion Kanjuruhan dalam waktu tiga minggu.

OLEH RIZKY SURYARANDIKA

Rentetan kejadian tragedi Kanjuruhan pada Sabtu (1/10) malam masih terekam jelas di ingatan salah seorang Aremania berinisifal Fu. Kepada awak media, ia menceritakan kesaksiannya mengenai kronologi penembakan gas air mata hingga detik-detik saat para suporter meminta pertolongan kepada aparat untuk rekannya yang sedang sekarat.

Fu dihadirkan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dan Publik Virtue Research Institute (PVRI) dalam konferensi pers virtual pada Rabu (5/10). Fu yang menyaksikan pertandingan dari bangku VIP menceritakan, kepanikan di Stadion Kanjuruhan dimulai saat gas air mata menghujani para suporter. Banyak korban berjatuhan akibat sejumlah pintu keluar tribun tertutup, sementara orang-orang saling berebut untuk menyelamatkan diri.

"Saya enggak tahu kalau kabarnya gate 14,13,12,10 ada yang tutup. Akhirnya banyak korban berjatuhan," kata Fu

Lautan manusia aremania yang meminta pertolongan pun tak terbendung. Sebagian dari mereka sudah berada di ambang antara kehidupan dan kematian. Fu menyaksikan seorang korban perempuan dibopong oleh tiga orang pria. Mereka hendak membawa korban ke salah satu mobil di dalam stadion agar segera bisa dibawa ke fasilitas kesehatan.

Alih-alih mendapat pertolongan, mereka malah mendapat tindakan kasar dari aparat. Fu menduga aparat tersebut ialah personel Brimob Polri bila dilihat dari atributnya. Setidaknya dua kali upaya membawa korban ke mobil itu dimentahkan aparat.

"(Aremania) didorong pakai tameng seolah bahasanya mereka 'habis bentrok enggak usah minta tolong saya' (aparat). Ekspresinya seolah 'jangan dekati mobil saya. Saya enggak tahu akhirnya (korban perempuan) selamat apa tidak," ucap Fu.

Pada upaya ketiga, kali ini Aremania yang membawa korban tak bisa lagi menahan emosi untuk melawan aparat. Para Aremania itu, menurut kesaksian Fu, tak bisa menerima perlakuan aparat yang malah menolak menolong korban.

"Kamu tuh enggak punya hati? Ini yang saya bawa suporter wanita yang sedang sekarat," ucap Fu meniru perkataan Aremania yang membawa korban.

photo
Sejumlah penonton membawa rekannya yang pingsan akibat sesak nafas terkena gas air mata yang ditembakkan aparat keamanan dalam kericuhan usai pertandingan BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10/2022) malam. - (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/)

Setelah kejadian itu, Fu mengamati aparat mulai bertingkah arogan.  Para Aremania lantas mencari jalan keluar sebisanya. Tak ada bantuan yang didapat Aremania dalam insiden itu.  "Hanya kardus yang saya tahu, mereka (Aremania) gunakan untuk mengipasi, sementara dari yang lainnya enggak ada bantuan sama sekali,"

Fu juga masih ingat secara jelas saat menyaksikan banyak Aremania dalam posisi tergeletak tanpa alas. Ia memperkirakan ada lima sampai enam Aremania yang tak lagi bernyawa saat itu.

"Saya tahunya orang meninggal kepalanya itu ditutup kardus, mereka tidur seperti orang terbujur. Ini kok ditutupi kardus, yang lain masih dikipas. Ini (ditutup kardus) sudah enggak ada nyawanya," kata Fu menceritakan.  

 Fu dalam kesempatan itu menegaskan tak ada kerusuhan dalam laga yang dimenangkan Persebaya dengan skor 2-3 tersebut. Dia menilai, penggunaan kata kerusuhan mestinya diartikan sebagai duel antar suporter beda kubu. Sedangkan dalam laga yang berlangsung pada Sabtu (1/10) malam itu hanya dihadiri Aremania.

"Ini sebenarnya bukan kerusuhan, tapi ini insiden kelalaian kita semua, terutama dari pihak Brimob, yang saya tahu pihak Brimob yang tidak bisa menahan."

Adapun terkait tembakan gas air mata, Fu mengungkapkan, penembakan gas air mata pertama, kedua, dan ketiga awalnya ke arah lapangan bagian utara atau tidak masuk ke tribun penonton. Namun, ia heran karena Aremania tak kunjung pergi dari lapangan meski gas air mata telah dilepaskan aparat.  Lalu tembakan dari tengah lapangan mengarah ke selatan karena ada beberapa Aremania yang turun ke lapangan.

"Mungkin maksudnya bantu suporter di utara. Akhirnya tembakan diarahkan ke selatan," kata Fu.

Fu menyaksikan gas air mata ditembakkan langsung ke tribun penonton. Ia mempertanyakan tindakan itu. Sebab aremania dari selatan yang ingin turun ke lapangan sebenarnya harus melewati sentel ban atau area lintasan di pinggir lapangan terlebih dahulu.

Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan sudah mulai bekerja seusai rapat pertama di kantor Kemenko Polhukam pada Selasa (4/10) malam. Rapat dipimpin langsung dipimpin Ketua tim TGIPF, yaitu Menko Polhukam Mohammad Mahfud MD serta dihadiri semua anggota tim sebanyak 13 orang.

photo
Aparat kepolisian menangkap seorang pendukung Arema yang lemas di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (1/10/2022). - (EPA-EFE/H. PRABOWO)

Mahfud MD memastikan akan menyampaikan hasil dari tim gabungan pencari fakta tragedi Stadion Kanjuruhan dalam waktu tiga minggu. Selain itu, ia menyatakan pelaksanaan Liga 1 untuk sementara dihentikan.

Adapun tim investigasi kepolisian  pada Selasa (4/10) menyatakan, tengah mendalami enam titik CCTV di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Langkah ini bertujuan untuk mengungkap fakta dan data terbaru terkait tragedi Kanjuruhan.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, pendalaman titik-titik tersebut terutama dilakukan di pintu stadion nomor 3, 9, 10, 11, 12 dan 13. "Kenapa di enam titik ini yang didalami oleh labfor? Karena dari hasil analisa sementara, di sini titik jatuhnya korban yang cukup banyak," kata Dedi di Mapolres Malang.

Dia mengatakan, tim melakukan investigasi dengan penuh kehati-hatian dan ketelitian. Hal ini penting agar bisa menjadi alat bukti penyidik dalam proses investigasi. Selanjutnya, alat bukti tersebut bisa untuk menetapkan tersangka.

Hal yang pasti, kata Dedi, tim investigasi sterus bekerja secara maraton sesuai dengan perintah Kapolri. Tim juga harus segera mungkin mengambil langkah-langkah guna menetapkan tersangka. Namun prinsip ketelitian, kehati-hatian dan pembuktian secara ilmiah harus menjadi standar tim untuk bekerja. 

photo
Seorang pria menangis di atas tumpukan bunga di Stadion Kanjuruhan, Malang, Rabu (5/10/2022). - (EPA-EFE/MAST IRHAM)

Data Korban Jiwa Bertambah

Mabes Polri menyatakan data jumlah korban jiwa tragedi Kanjuruhan bertambah menjadi 131 orang. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, jumlah tersebut diperoleh setelah dilakukan pemverifikasian dan pengecekan bersama Dinas Kesehatan, Tim DVI, dan direktur rumah sakit.

Polri sebelumnya menyampaikan, data tim DVI menunjukkan jumlah korban jiwa sebanyak 125 orang. “Jadi, data korban meninggal 131 orang,” kata Dedi, Rabu (5/10).

Dedi menjelaskan, terjadi selisih data korban meninggal karena Tim DVI bersama Dinas Kesehatan awalnya mendata korban yang dibawa ke rumah sakit saja. Setelah dilakukan pencocokan data, diketahui ada 12 korban meninggal tidak berada di fasilitas kesehatan.

“Nonfaskes penyebab selisihnya setelah semalam dilakukan pencocokan data bersama Dinas Kesehatan, Tim DVI, dan direktur rumah sakit,” kata Dedi.

photo
Petugas medis memindahkan jenazah korban kerusuhan Stadion Kanjuruhan di RSUD Saiful Anwar, Kota Malang, Jawa Timur, Ahad (2/10/2022). - ( ANTARA FOTO/R D Putra)

Adapun perincian jumlah korban meninggal terdata sebanyak 44 orang di tiga rumah sakit pemerintah, yakni RSUD Kanjuruhan sebanyak 21 orang, RS Bhayangkara Hasta Brata Batu sebanyak dua orang, dan RSU dr Saiful Anwar Malang sebanyak 20 orang.  

Kemudian, sebanyak 75 korban meninggal dunia terdata di tujuh rumah sakit swasta, yakni RSUD Gondanglegi sebanyak empat orang, RS Wafa Husada sebanyak 53 orang, RS Teja Husada sebanyak 13 orang, RS Hasta Husada sebanyak tiga orang, RS Ben Mari sebanyak satu orang, RST Soepraoen sebanyak satu orang, dan RS Salsabila sebanyak satu orang. Lalu, sebanyak 12 orang korban meninggal dunia di luar fasilitas kesehatan.

Dari total korban tersebut, 90 laki-laki dan 41 perempuan. Kebanyakan korban remaja dan muda, usia 12-24 tahun. Sementara satu korban masih balita berusia 4 tahun.

Terkait penyidikan, Polri menyatakan telah memeriksa sebanyak 29 orang saksi terkait tragedi di Stadion Kanjuruhan. Dari 29 orang tersebut, 23 orang di antaranya anggota Polri dan enam orang lainnya merupakan saksi-saksi di lokasi kejadian.

Selain itu, Tim Labfor Polri juga masih mendalami enam titik lokasi CCTV yang tersebar di pintu 3, 9, 10, 11, 12, dan 13. Kemudian dilakukan pemeriksaan tetesan darah secara laboratoris pada pintu 11 sampai dengan 13.

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, pihaknya akan masih berfokus pada penanganan darurat insiden dan korban, baik yang luka maupun meninggal dunia.

“Yang sakit kita layani sebaik dan secepat mungkin dan gratis, sedang yang meninggal keluarganya beri santunan dari pemerintah pusat, provinsi, ataupun kabupaten/kota,” kata Muhadjir, Rabu (5/10).

Sementara itu, untuk menghindari ledakan sosial, menko PMK meminta Aremania agar dapat menahan diri.

“Saat ini saya minta Aremania untuk menahan diri. Mari kita ciptakan suasana yang kondusif. Jangan sampai ada lagi korban berjatuhan. Sudah cukup. Terlalu mahal nyawa hanya untuk sepak bola,“ kata menko PMK.

Bupati Malang M Sanusi berharap Aremania yang merasakan sakit dan masih di rumah bisa segera melaporkan diri. Mereka diminta untuk segera memeriksakan diri ke RSUD Kanjuruhan, Kabupaten Malang atau RSUD Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang.

photo
Sejumlah siswa berdoa bersama saat shalat ghaib dan istighosah di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kudus, Desa Prambatan Kidul, Kudus, Jawa Tengah, Rabu (5/10/2022). Shalat ghaib dan doa bersama itu untuk mendoakan suporter yang meninggal dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang. - (ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)

Sanusi memastikan semua biaya perawatan dan pengobatan untuk para korban gratis. "Kalau yang di kabupaten, oemkab (Pemerintah Kabupaten) yang menanggung. Kalau yang di RSSA itu gubernur (Jawa Timur)," kata Sanusi kepada wartawan di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Rabu (5/10).

Pemkab Malang juga telah menyiapkan tim trauma healing untuk para korban tragedi Kanjuruhan. Upaya pemulihan trauma nantinya juga dibantu oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur (Jatim) dan sejumlah dokter Indonesia.

Adapun mengenai jumlah korban meninggal, Sanusi mengatakan, jumlahnya masih berkisar 131 orang. Namun, pihaknya baru-baru ini mendapatkan laporan dari Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. "Tetapi datanya, masih dicocokkan terlebih dahulu," kata dia.