Perkembangan IoT di Indonesia (Ilustrasi) | Pixabay/Planet_Fox

Inovasi

Perbesar Ruang Tumbuh Talenta Digital

Berbagai solusi IoT kini hadir dari madrasah dan sekolah menengah.

Pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) bisa diterapkan dalam berbagai bidang. Tak terbatas pada mengejar efisiensi di industri besar seperti manufaktur, tapi juga industri menengah atau kecil.

Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada 2022 menunjukkan, saat ini terdapat 400 juta perangkat IoT di Indonesia. Jumlah ini, akan menjadi 678 juta perangkat pada 2025 yang didorong oleh teknologi 5G.

Senada, laporan World Economic Forum (WEF) bertajuk The Future of Jobs Report 2020 menyebutkan, sebanyak sembilan persen perusahaan pada 2025 diperkirakan sudah memanfaatkan teknologi IoT.

PT XL Axiata Tbk pun terus mengembangkan solusi IoT untuk mendukung digitalisasi bisnis kecil menengah. Salah satunya, melalui solusi IoT yang diberi nama “Mushtech”.

Sesuai namanya, solusi ini dibangun untuk membantu para petani pembudidaya jamur tiram di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Ide yang mendasarinya, datang dari program inkubasi Akademi Madrasah Digital (AMD) yang diprakarsai XL Axiata dan Kementerian Agama RI.

Direktur & Chief Technology Officer XL Axiata, I Gede Darmayusa menjelaskan, Mushtech dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas hasil panen jamur tiram. “Pada kumbung (tempat untuk menumbuhkan jamur tradisional-Red), pemantauan kondisi lingkungan di dalam kumbung dan penyiraman biasanya dilakukan secara manual. Baik melalui metode pengamatan secara langsung, maupun berdasarkan kebiasaan pola pemeliharaan yang dilakukan oleh petani,” ujarnya, dalam keterangan pers yang diterima Republika, pekan lalu.

Mushtech, lanjut Gede, merupakan solusi yang hadir dengan latar belakang masalah yang dihadapi petani atau pembudidaya jamur tiram dalam mengelola dan memantau kumbung jamur. Dengan solusi digital ini, kondisi lingkungan kumbung bisa dijaga seperti kondisi suhu dan kelembaban udara dalam kondisi yang optimal untuk proses penumbuhkembangan jamur tiram.

Dengan kemampuan yang dimiliki Mushtech, petani kini tidak perlu lagi melakukan pengondisian lingkungan di dalam kumbung jamur secara manual. “Di dalam kumbung, kini ditempatkan berbagai jenis sensor dan aktuator yang dapat menjaga kondisi lingkungan, seperti kelembaban, suhu udara dan intensitas cahaya yang optimal untuk pertumbuhan jamur tiram,” ujar Gede.

Proyek pengembangan solusi IoT ini pun secara langsung melibatkan Madrasah Aliyah Negeri 2 Majalengka, dan para peserta AMD asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, yang mencetuskan ide ini pertama kali. Dalam proses pengembangannya, para siswa secara langsung mengumpulkan problem statement dari pembudidaya jamur tiram.

Data dan informasi yang mereka dapatkan, kemudian menjadi rujukan dalam proses inkubasi di lab pengembangan IoT milik XL, X-Camp. Mulai dari prototyping produk hingga menjadi solusi yang bisa diterapkan oleh para petani hingga industri terkait.

Direktur Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Prof Dr Moh Isom, MAg menjelaskan, Indonesia membutuhkan talenta-talenta muda madrasah yang mampu mewujudkan transformasi digital di tengah-tengah pusaran bisnis IoT dan Industri 4.0. “Kolaborasi antara dunia usaha dengan dunia pendidikan khususnya madrasah menjadi segitiga emas pendidikan yang berkesinambungan,” ujarnya.

Saat ini, Mushtech sudah digunakan oleh petani jamur di Majalengka, Jawa Barat. Selama lebih kurang tiga bulan, hasil dari penerapan teknologi IoT ini mendapat apresiasi positif dari para petani yang menggunakan.

Bantu Tuna Netra

photo
Glasstic, salah satu desain project IoT yang dirancang oleh para siswa dari SMK Al Huda, Kota Kediri Jawa Timur pada program SIC Batch 3 2021/2022 yang saat ini telah memasuki tahap pelatihan IoT Product Development Bootcamp. Glasstic adalah kacamata yang dilengkapi sensor ultrasonic, GPS, kamera, dan speaker yang bisa memberikan perintah untuk berbelok kepada tunanetra berdasarkan data dari sensor. - (Dok Samsung indonesia )

Kegiatan menggandeng dunia pendidikan untuk mengembangkan solusi IoT juga dilakukan Samsung melalui program Samsung Innovation Campus (SIC) yang telah memasuki tahap ketiga, yaitu IoT Product Development Bootcamp. Head of Corporate Citizenship Samsung Electronics Indonesia, Ennita Pramono mengatakan, program ini sejalan dengan upaya pemerintah mendorong peningkatan kapasitas guru dalam bidang TIK dan mencetak siswa Indonesia sebagai generasi yang menguasai teknologi digital.

Ia menjelaskan, pada tahap bootcamp ini, para siswa diajarkan beberapa materi, di antaranya Foundation & Hardware (IoT), Networking & Communication Basics (Raspberry Pi), Software & Platform (MongoDB, PyMongo, UBIDOTS).

Daffa Eka Sujianto dari SMK Al Huda, Kediri, Jawa Timur, mewakili kelompoknya mengatakan materi yang diajarkan di tingkat bootcamp adalah materi-materi baru. Misalnya, seperti cara menjalankan sensor dengan program python, mengirim data sensor ke data IoT, cara menjadikan ide menjadi produk melalui tahap perakitan hardware dan pembuatan program.

Desain proyek IoT tim Daffa adalah kacamata yang dilengkapi sensor ultrasonic, GPS, kamera, dan pelantang yang bisa memberikan perintah berbelok kepada tunanetra berdasarkan data dari sensor. Kacamata itu diciptakan untuk membantu tuna netra untuk lebih mudah beraktivitas.

Menurut Daffa, tantangan yang dihadapi saat mengerjakan proyek ini, terjadi pada tahap merakit perangkat kerasnya. Ternyata ada beberapa perangkat yang tidak mendukung atau malah tidak tersedia. Selain itu, ada beberapa sensor yang tidak bisa menangkap sinyal, contohnya sensor GPS, sehingga harus membeli perangkat baru.

Meski begitu, Ardika mengakui pelatihan ini banyak manfaatnya, terutama dalam hal problem solving. Sehingga jika ada masalah, bisa diselesaikan dengan tepat.

Perbanyak Profesional Perempuan

photo
Diskusi mendorong peningkatan perempuan di industri teknologi. - (Dok Huawei Indonesia)

Saat ini, kesenjangan gender digital, makin diperlebar oleh minimnya akses dan literasi digital perempuan. Selain itu, perempuan juga lebih terbatas perannya di industri TIK.

Berkolaborasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KPPPA), Badan Siber dan Sandi Negara Republik Indonesia (BSSN), dan Telkom University, Huawei Indonesia, pekan lalu, menggelar seminar bertajuk Women in Tech: Tech for Her, Tech with Her, Tech by Her.

Deputi Bidang Kesetaraan Gender KPPA Lenny N Rosalin menegaskan pentingnya kolaborasi antarpara pemangku kepentingan dalam mewujudkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Hal ini juga menjadi isu sentral yang diusung dalam Presidensi Indonesia pada G20 Ministerial Conference on Women’s Empowerment, yakni “care economy” pascapandemi.

“Inisiatif gerakan Women in Tech ini merupakan kolaborasi penting dan nyata bagaimana Pemerintah Indonesia mendapatkan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, untuk bersama mendorong perempuan Indonesia agar meningkatkan kapasitas dan partisipasinya di berbagai aspek kehidupan dan kerja,” ujar Rosalin.

Saat ini, menurut data Pemerintah Indonesia, perempuan turut peran menopang ekonomi Indonesia melalui kewirausahaan. Lebih dari 50 persen pemilik kewirausahaan adalah perempuan. Sedangkan, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah saat ini berkontribusi hingga 60 persen bagi Produk Domestik Bruto di Indonesia.

Yenty Joman selaku director of government affairs, Huawei Indonesia, menyatakan, Huawei percaya, di era digital, wanita akan menjadi landasan industri teknologi. “Peningkatan partisipasi dan pemberdayaan perempuan akan membuka seluruh dunia kemungkinan baru dan membawa kemajuan teknologi serta berbagai bisnis baru,” ujarnya.

Huawei, Yenty menyampaikan, berkomitmen untuk membantu wanita berbakat untuk terlibat dalam teknologi serta memberikan lebih banyak peluang dan platform bagi wanita untuk mengeluarkan potensi mereka.  Huawei Indonesia juga ingin berperan aktif mendorong percepatan 100 ribu Indonesia Digital Talent untuk mempersiapkan Indonesia Emas 2045. 

 

 
Data dari Cybersecurity Ventures menunjukkan, adanya peluang besar bagi para perempuan untuk terjun di bidang ICT, khususnya keamanan siber.
 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Eropa Kian Suram

Inflasi di Eropa meningkat signifikan menjadi 9,1 persen pada Agustus 2022.

SELENGKAPNYA

Sukarno: Ini Gerakan Keblinger!

Setelah mendengar laporan itu, Presiden Sukarno memerintahkan agar gerakan G-30-S dihentikan.

SELENGKAPNYA

Xi Hilang dari Publik karena Isolasi Mandiri

Xi kali ini menghilang dari publik beberapa pekan sebelum kongres Partai Komunis Cina digelar.

SELENGKAPNYA