Tentara Ukraina memeriksa persediaan makanan yang ditinggalkan pasukan Rusia di wilayah Kupiansk di Kharkiv yang baru direbut kembali pada Rabu (14/9/2022). | AP/Kostiantyn Liberov

Internasional

Putin Mobilisasi Sebagian Pasukan Cadangan

Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan mobilisasi sebagian pasukan cadangan.

MOSKOW -- Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan mobilisasi sebagian pasukan cadangan, Rabu (21/9). Sementara penerbangan warga Rusia yang ingin meninggalkan negeri itu dilaporkan meningkat.

"Ini tentang mobilisasi sebagian, berlaku untuk warga negara yang menjadi pasukan cadangan akan dipanggil menjalani wajib militer, dan tentu saja orang yang bertugas di angkatan bersenjata dengan keterampilan khusus serta memiliki pengalaman terkait," kata Putin dalam pidato tujuh menit yang disiarkan televisi, dikutip Aljazirah.  

Ini adalah mobilisasi pertama bagi Rusia sejak Perang Dunia II. Pengumuman ini dilakukan bersamaan digelarnya sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat. 

Putin juga memperingatkan Barat bahwa ia tidak hanya menggertak saat mengatakan akan menggunakan segala cara untuk melindungi wilayah Rusia. Pernyataan ini diyakini memiliki makna terselubung yang mengacu pada kemampuan nuklir Rusia.

photo
Penerjun payung Ukraina Andrii Bashtovyi bersuka cita selepas melihat rekan-rekannya mengambil alih wilayah Izium, Ukraina, pada Rabu (14/9/2022). - (AP/Evgeniy Maloletka)

Sumber yang dikutip Associated Press menyebutkan, jumlah personel pasukan cadangan yang dikerahkan dapat mencapai 300 ribu orang. Meski ini mobilisasi sebagian, tapi langkah ini diyakini akan meningkatkan kecemasan dan menuai keraguan pada rakyat Rusia akan perang di Ukraina.

Sementara Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan, mobilisasi hanya akan berlaku pada personel yang memiliki pengalaman tempur relevan. Menurutnya, ada sekitar 25 juta orang yang memenuhi kriteria ini, tapi hanya 1 orang yang akan dimobilisasi.

Usai pengumuman ini, media Rusia melaporkan pembelian tiket pesawat keluar Rusia menunjukkan peningkatan tajam. Warga diperkirakan ingin buru-buru meninggalkan Rusia, meski tiket dijual dengan harga mahal yang tak masuk akal.

Hukuman untuk tentara

Majelis Rendah Parlemen Rusia atau Duma pada Selasa (20/9) menyetujui rancangan undang-undang (RUU) untuk memperketat hukuman bagi tentara yang melanggar tugas. Langkah ini merupakan upaya untuk meningkatkan kedisiplinan jajaran militer Rusia di tengah pertempuran di Ukraina.

photo
Yevdokia (65 tahun) memeluk anaknya Alexander didepan rumah mereka yang dihancurkan militer Rusia di wilayah Izium yang baru direbut kembali pada Rabu (14/9/2022). - (AP/Evgeniy Maloletka)

Serangkaian amendemen UU Rusia dengan cepat disahkan oleh Duma. Rancangan undang-undang tersebut menetapkan hukuman berat untuk setiap anggota militer yang tidak mengikuti perintah, desersi, atau menyerah kepada musuh.

Di bawah undang-undang baru, meninggalkan unit militer selama periode mobilisasi atau darurat militer akan dihukum hingga 10 tahun penjara. Sementara pada undang-undang yang lama, hukumannya lima tahun penjara.

Selain itu, anggota militer yang secara sukarela menyerah kepada musuh juga akan menghadapi hukuman penjara hingga 10 tahun. Sementara mereka yang terbukti melakukan penjarahan dapat dijatuhi hukuman 15 tahun.

Amendemen lain memperkenalkan hukuman penjara hingga 10 tahun bagi mereka yang menolak untuk berperang atau mengikuti perintah komandan. Pengesahan UU baru tersebut, menyusul laporan media yang menyebut sejumlah tentara Rusia di Ukraina telah menolak untuk berperang dan mencoba mengundurkan diri dari dinas.

Sekjen PBB: Dunia dalam Bahaya

Di tengah perbedaan, PBB tetap jadi pertemuan kunci para pemimpin dunia.

SELENGKAPNYA

Rusia Mundur dari Sejumlah Kota Penting Ukraina

Saksi mata menggambarkan kemacetan karena warga meninggalkan wilayah yang diduduki Rusia.

SELENGKAPNYA

Rusia Tunda Kiriman Gas ke Jerman

Jerman adalah tulang punggung kekuatan ekonomi Eropa.

SELENGKAPNYA