55 WNI yang disekap oleh perusahaan penipuan daring di Kamboja telah diselamatkan, Sabtu (30/7/2022). | KBRI PHNOM PENH

Nusantara

Pekerja Migran Indonesia Korban TPPO Bertambah

Mereka dipaksa menipu saudara sendiri di Indonesia via daring.

JAKARTA -- Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani mengatakan, jumlah warga negara Indonesia (WNI) yang jadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan juga disekap di Kamboja bertambah. Kini, pekerja migran Indonesia (PMI) itu telah mencapai 232 orang.

Dia mendapatkan informasi tersebut dari Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha. Benny mengatakan, jumlah WNI korban TPPO di sana memang dinamis. Awalnya, Kementerian Luar Negeri mengetahui ada 57 korban, lalu bertambah jadi 60, selanjutnya naik lagi menjadi 68 orang. "Sekarang jumlahnya sudah 232 orang," kata Benny kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Rabu (10/8).

Sejauh ini, lanjut Benny, sudah 39 korban yang berhasil dipulangkan ke Tanah Air. Kebanyakan dari mereka masih berusia muda, rata-rata berumur di bawah 30 tahun.

Para korban itu tiba di Indonesia dalam kondisi traumatis karena pernah disekap oleh sindikat TPPO di Kamboja. Sebagian kecil dari mereka juga mengalami penganiayaan selama disekap.

"Yang disekap lalu dianiaya itu karena dia tidak mau kerja. Ya bagaimana mereka mau, karena pekerjaannya disuruh melakukan penipuan online dengan target orang Indonesia juga. Karena itu mereka berontak, sampai akhirnya disekap," katanya.

photo
55 WNI yang disekap oleh perusahaan penipuan daring di Kamboja telah diselamatkan, Sabtu (30/7/2022). - (istimewa)

Kementerian Luar Negeri dan KBRI Kamboja baru-baru ini melakukan penyelamatan terhadap 62 PMI yang mengalami penyekapan di Kamboja dan menjadi korban penipuan peluang kerja yang ditawarkan. Pekerjaan bodong tersebut disertai dengan iming-iming gaji Rp 15-22 juta.

Setelah para PMI tersebut berangkat dan tiba di suatu perusahaan di Kamboja, mereka bukan menjadi marketing, namun menjadi operator sebuah investasi bodong dan penipuan. Selain itu, mereka tidak mendapatkan gaji sesuai dengan tawaran awal. Mereka juga diperkerjakan berlebihan atau overwork dan paspor mereka ditahan oleh para agen-agen di Phnom Penh.

Pada Selasa, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) bersama Kementerian Luar Negeri, Bareskrim Polri, Kementerian Sosial, BP2MI dan lembaga lainnya dalam Gugus Tugas Pemberantasan TPPO, menemui 12 PMI di Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC) Bambu Apus, milik Kementerian Sosial. Mereka adalah di antara puluhan korban yang berhasil dipulangkan ke Indonesia beberapa waktu lalu.

“LPSK dan lembaga terkait melakukan pemeriksaan dan asesmen awal terhadap 12 PMI yang sudah tiba di RPTC,” kata Wakil Ketua LPSK, Antonius PS Wibowo dalam keterangan pers.

Antonius mengatakan, LPSK terus berkoordinasi dengan lembaga terkait guna memastikan korban mendapatkan hak-haknya sesuai UU Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. "Kita memastikan hak-hak korban terpenuhi,” kata Antonius. Sampai saat ini, kata dia, KBRI dan Kemenlu masih melakukan upaya pemulangan para PMI secara bertahap.

Pulang

Kurnia Sari (45 tahun), adalah salah satu dari PMI korban TPPU yang tiba di Jakarta dalam aksi penyelamatan. Warga Kecamatan Alang-alang Lebar, Kota Palembang, Sumatera Selatan itu kini menunggu penjemputan dari pemerintah daerah dan keluarganya.

"Saat ini posisinya sudah berada di Jakarta, tinggal dilakukan penjemputan saja," kata Kepala Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Selatan, Sri Haryanti di Palembang, kemarin.

Kurnia bersama ratusan PMI korban lainnya disekap dan dipekerjakan secara tidak resmi di perusahaan scammer di wilayah Sihanoukville, Phnom Penh, Kamboja. Dia ikut diselamatkan oleh aparat Kamboja bersama KBRI pada Sabtu (30/7). Sri berharap pemerintah daerah turut memfasilitasi pemulangan Kurnia hingga kembali bertemu orang tua dan anaknya di rumah.

 
Kurnia bersama ratusan PMI korban lainnya disekap dan dipekerjakan secara tidak resmi di perusahaan scammer di wilayah Sihanoukville, Phnom Penh.
 
 

Adik kandung Kurnia Sari, Suci (37) mengatakan, kakaknya sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak yang kini menempuh pendidikan di pondok pesantren. Kurnia terakhir pamit menjadi operator perusahaan scammer di Kamboja pada pertengahan Juli 2022. Namun, beberapa hari kemudian, Kurnia menelpon Suci dan menceritakan pengalaman pahitnya bekerja di Kamboja.

Selain upah yang tidak proporsional, kakanya itu mengaku dipaksa bekerja penuh seharian yang berujung pada penyekapan. "Dalam (percakapan) telepon itu, Sari cerita ia disekap sekitar satu pekan. Kemudian dari situ komunikasi kami terputus. Kami hanya bisa berharap Sari dapat kembali pulang ke rumah," ujarnya. 

Saat Indonesia Menggugat

Sebagai imbalan penyerahan kedaulatan, Belanda mendapat bayaran 4,5 miliar gulden dari Indonesia.

SELENGKAPNYA

Hoegeng, Jenderal Polisi yang Menyejukkan

Hoegeng berani menolak sogokan dan membongkar ketidakbenaran.

SELENGKAPNYA

Ada Harapan Ekonomi Indonesia di Zona Hijau

Banyak negara gagal menjaga fundamental ekonomi mereka.

SELENGKAPNYA