Tentara dan warga sipil berjalan di antara puing-puing di Hirosihma dua hari selepas bom atom dijatuhkan oleh Amerika Serikat pada 6 Agustus 1945. | AP/STR

Kronik

Bom Atom dan Kemerdekaan Indonesia

Bertekuk lututnya balatentara Jepang tak banyak diketahui bangsa Indonesia karena semua radio disegel.

OLEH ALWI SHAHAB

Hiroshima, 6 Agustus 1945 pukul 08.15 pagi. Kota yang berpenduduk 350 ribu itu baru saja siap-siap untuk mulai melakukan aktivitas. Tiba-tiba tanpa peringatan lebih dulu bom atom pertama dijatuhkan di kota nomor tujuh terbesar di Jepang itu.

Begitu dasyatnya ledakan bom pemusnah massal itu. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana paniknya penduduk kota Hiroshima. Baik para bapak, ibu dan anak-anak. Lebih dari 70 ribu orang tewas secara mengenaskan. Masih ribuan orang lagi yang meninggal secara mengerikan akibat terkena debu radio-aktif atau radiasi bom yang amat hebat itu.

Tiga hari kemudian (9 Agustus 1945) Nagasaki menjadi sasaran bom berikutnya. Seperti juga Hiroshima, kota Nagasaki juga hancur lebur dan mereka yang tewas akibat ledakan bom kedua ini sebanyak 75 ribu orang. Sekali pun peristiwa ini sudah berlangsung 64 tahun,  tapi sampai kini dunia masih tetap berkabung.

Dengan dijatuhkannya bom atom di kedua kota itu, maka Kaisar Hirohito yang sangat dimuliakan rakyatnya memerintahkan agar perang dihentikan. Balatentara Dai Nippon yang bersemboyan Asia Timur Raya akhirnya takluk tanpa syarat kepada Sekutu dalam PD II yang menelan korban jutaan orang.

photo
Penampakan Gereja Katolik Urakami di Nagasaki pada 13 September 1945 alias sekitar sebulan setelah bom atom dijatuhkan. - (AP/Stanley Troutman/POOL ACME)

Bertekuk lututnya balatentara Jepang itu rupanya tidak banyak diketahui bangsa Indonesia. Karena pada masa pendudukan Jepang semua radio disegel, hingga boleh dikata orang Indonesia tidak pernah mendengar dan buta terhadap berita-berita luar negeri. Warga yang memiliki radio juga sangat sedikit. Pemilik radio memiliki tanda khusus di depan rumahnya.

Yang paling ditakuti oleh warga ketika itu adalah Kempetai (Polisi Militer Jepang). Mereka yang kedapatan mendengarkan berita luar negeri, dibawa ke Hoofdbureau (Hopbiro), semacam markas kepolisian yang kala itu berkantor di bagian barat Monas sekarang ini. Begitu bengisnya tentara Jepang, hingga mereka yang dibawa ke markas polisi atau militer saat pulang hanya tinggal nama.

Bahkan, Bung Karno dan Bung Hatta, yang sangat dekat dengan Jepang, tidak mengetahui bila negeri matahari terbit ketika itu telah bertekuk lutut. Terbukti keduanya bersama dr Radjiman ketika pada 14 Agustus 1945 kembali ke Jakarta masih belum yakin Jepang sudah menyerah. Padahal ketiga tokoh itu baru saja bertemu dengan Jenderal Besar Terauchi, panglima tertinggi pasukan Jepang di Asia Tenggara, di Dalath sekitar 150 km dari kota Saigon (kini Ho Chin Minh City). 

photo
Foto lansiran Angkatan Udara AS pada 6 Agustus 2022 menunjukkan asap akibat ledakan bom atom di Hiroshima. - (AP/George R. Caron/US Air Force)

Kalau Bung Karno dan Bung Hatta sendiri belum yakin akan kekalahan Jepang, apalagi rakyat biasa. Karena sejauh ini rakyat selalu disuguhi berita-berita  kemenangan Jepang. Sementara gerakan Tiga A (Aku Anti Amerika) terus dikumandangkan, termasuk di sekolah-sekolah, universitas dan kantor-kantor. Ada semboyan lagi yang juga dikumandangkan oleh Bung Karno, "Inggris kita linggis, Amerika kita setrika".

Tidak heran kalau takluknya Jepang itu tidak banyak diketahui. Hanya sejumlah orang yang bekerja 'di bawah tanah' yang mengetahui melalui radio luar negeri. Mereka tak berani menyebarkan berita itu terang-terangan. Hal inilah yang membuat suasana kota Jakarta tegang dan penuh kesibukan.

Pada 15 Agustus, berita menyerahnya Jepang ke tangan sekutu makin santer. Sementara golongan muda memaksa Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan hari itu juga. Karena menolak desakan para pemuda, keduanya kemudian diculik ke Rengasdenglok, dekat Karawang, Jawa Barat.

Kedatangan tentara Jepang bukan soal mendadak bagi bangsa Indonesia. Dalam buku Ramalan Jayabaya disebutkan akan adanya kedatangan orang-orang katai (pendek). Masa itu karena orang Jepang bertubuh pendek mendapat julukan kate.

photo
Warga menerima perawatan setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima, Jepang, pada 6 Agustus 1945. - (AP/STR)

Kini, berkat gizi, bangsa Jepang jauh lebih tinggi dan enerjik dari bangsa kita. Kalau dulu tinggi rata-rata orang Jepang tak lebih 150 cm, sekarang mencapai 170 cm sampai 180 cm. Demikian pula badan mereka, kini jauh lebih tegap.

Menurut ramalan Jayabaya, orang kate ini hanya berkuasa seumur jagung dan akan membebaskan Indonesia dari cengkramen Belanda. Ketika dengan mendadak menyerang Pearl Harbour, pusat kekuatan AL AS (8 Desember 1941), dalam waktu singkat angkatan perang Jepang merebut dan menduduki Singapura (15/2-1942) yang merupakan benteng pertahanan Inggris/Sekutu.

Setelah menaklukkan Kalimantan dan Sumatera pada 1 Maret 1942 Jepang mendarat di tiga tempat di Jawa. Banten dan Eretan (Jawa Barat) serta Kranggen (Jateng). Kekuatan Belanda di Hindia Belanda kala itu berjumlah 40 ribu orang (4 divisi). Di antaranya terdapat pasukan AS, Inggris, dan Australia. Sedangkan, kekuataan Jepang jauh lebih besar, yaitu 6-8 divisi (100 ribu hingga 120 ribu orang).

Batavia pun dikosongkan. Setelah dibombardir dari laut pada 5 Maret 1942, Batavia dinyatakan sebagai kota terbuka dan tidak akan dipertahankan.

Tiga hari kemudian (8 Maret 1942) Gubernur Jenderal Tjarda van Stankenborgh menyatakan menyerah secara resmi kepada pasukan Jepang. ''Wij Sluiter nu Vrwed totbeteremtijden leve de Kongen (Kita berhenti sampai di sini, sampai jumpa di hari-hari yang lebih baik. Hidup Ratu).'' Demikian pernyataan sang jenderal.

Sejak  saat itu penjajahan Jepang selama tiga setengah tahun dimulai dan rakyat semakin menderita. Tidak terhitung orang yang mati kelaparan. Pemandangan mayat yang tergeletak dipinggir jalan merupakan hal biasa. Banyak orang yang memakai kain dari tikar hingga dikerubuti kutu. Rumah sakit hampir tidak memiliki obat. Orang bergumul di bak-bak sampah mencari sisa makanan yang sukar didapat.

Disadur dari Harian Republika edisi 16 Agustus 2009. Alwi Shahab merupakan wartawan Republika sepanjang zaman yang wafat pada 2020.

Buya Hamka: Ulama, Penulis, dan Politisi

Beliau adalah satu dari sedikit ulama Indonesia yang mendapat gelar sebagai mufassir (ahli tafsir).

SELENGKAPNYA

Majelis Taklim Sumber Islamisasi di Nusantara

Majelis taklim itu khas Indonesia yang dibentuk berabad-abad silam dan terus berjalan hingga kini.

SELENGKAPNYA

Sisilia di Tangan Muslim

Inilah tonggak dimulainya pemerintahan Islam di Sisilia hingga 260 tahun.

SELENGKAPNYA