Guratan kaligrafi beraksara Arab di Gereja Santa Maria dell Ammiraglio, Palermo. Dahulu, bangunan itu adalah masjid di Emirat Sisilia. | DOK FLICKR

Tema Utama

Sisilia di Tangan Muslim

Inilah tonggak dimulainya pemerintahan Islam di Sisilia hingga 260 tahun.

OLEH HASANUL RIZQA

Sejak tahun 830 M, upaya Aghlabiyah untuk menaklukkan Pulau Sisilia mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan. Jatuhnya Kastil Mineo menjadi petanda akan hal itu.

Memang, Bani Umayyah dari Andalusia tidak lagi mengirimkan bantuan militer kepada dinasti yang berpusat di wilayah Ifriqiyah, Afrika utara, itu. Namun, emirat Islam itu tetap melanjutkan perlawanan terhadap sisa-sisa pertahanan Romawi Timur yang masih terdapat di beberapa kota pulau tersebut.

Salah satu kota yang menjadi basis Bizantium di Sisilia adalah Palermo. Daerah yang dalam bahasa Arab disebut Balharm itu dikepung pasukan Muslim selama beberapa bulan. Akhirnya, pada September 831 kota tersebut berhasil direbut.

Aghlabiyah menjadikan Balharm sebagai pusat kendali militernya di pulau terbesar seantero Laut Tengah ini. Pasukan Bizantium dengan susah payah mempertahankan wilayah mereka, khususnya Kota Enna dan Sirakusa, dekat pantai timur Sisilia.

photo
Cover Islam Digest edisi Ahad 7 Agustus 2022. Sejarah Islam di Sisilia. - (Islam Digest/Republika)

Pada Juni 838, amir Aghlabiyah Ziyadatullah meninggal dunia. Sepeninggalnya, dinasti tersebut dipimpin saudara almarhum, yakni Abu Iqal. Pemimpin baru ini kemudian melancarkan serangan masif terhadap sebagian besar wilayah Sisilia. Hasilnya, satu per satu daerah setempat dapat diambil alih, seperti Corleone, Platani, Caltabellotta, Geraci, dan Marineo.

Bahkan, pasukan Muslimin sukses mengambil alih Bari, kota pelabuhan di daratan utama Italia yang menghadap Laut Adriatik. Pada 847 M, Aghlabiyah mendirikan pemerintahan Islam yang disebut Emirat Bari di sana, sebelum diserbu Bizantium tahun 871 M.

Pada 859 M, Aghlabiyah akhirnya dapat menguasai Enna seluruhnya. Dari kota tersebut, pasukan Bizantium terus menyingkir ke pantai timur Sisilia. Kemudian, datanglah bantuan armada yang terdiri atas 300 kapal perang dari Anatolia. Meskipun sudah dibantu bala tentara tambahan oleh Konstantinopel, mereka masih tidak mampu mengatasi serangan pasukan Muslimin.

Pertempuran yang sengit pun dimenangkan kubu Aghlabiyah. Sisa pasukan Bizantium tidak punya pilihan kecuali mundur teratur ke Sirakusa. Selama 18 tahun, kota tersebut menjadi pangkalan utama militer Romawi di Sisilia.

Pada 875 M, Ibrahim II naik menjadi amir Aghlabiyah. Salah satu ambisinya adalah menundukkan Sirakusa selekas-lekasnya. Ia pun menunjuk Ja’far bin Muhammad sebagai komandan dengan misi utama, merebut kota tersebut dari tangan Bizantium.

Ja’far memimpin batalionnya selama berbulan-bulan guna mengepung setiap sisi benteng Sirakusa. Akhirnya, tepat pada 21 Mei 878 kota itu dapat ditembus pasukan Muslimin.

 
Ja’far memimpin batalionnya selama berbulan-bulan guna mengepung setiap sisi benteng Sirakusa. Akhirnya, tepat pada 21 Mei 878 kota itu dapat ditembus pasukan Muslimin.
 
 

Belum genap sebulan sejak kesuksesan di Sirakusa, Ja’far dibunuh oleh budaknya. Belakangan, terkuak bahwa hamba sahaya itu adalah suruhan paman dan saudara Ja’far sendiri. Amir Aghlabiyah setelah mengetahui kasus tersebut langsung melucuti keduanya dari kekuasaan di Sisilia. Sesampainya di Ifriqiyah, mereka diadili dan lantas dihukum mati.

Yang kurang atau tidak diketahui Ibrahim II saat itu adalah timbulnya riak-riak ketidakpuasan di tengah warga Islam Sisilia, khususnya kelompok etnis Berber. Mereka merasa, orang-orang Arab memperoleh bagian lebih banyak daripada mereka kendati sama-sama mendukung penaklukan Aghlabiyah atas pulau tersebut. Pada Desember 886, pecahlah pemberontakan kaum Muslim Berber setempat.

Selama beberapa tahun, kondisi anarki mewarnai wilayah Aghlabiyah di Sisilia. Meskipun demikian, pihak Bizantium tidak mungkin “memanfaatkan” momen itu. Sebab, posisi dan pengaruh mereka hanya pada Kota Taormina di pulau tersebut.

Pada 900 M, Ibrahim II mengangkat anaknya sendiri, Abul Abbas Abdullah, untuk mengatasi persoalan militer-politik di Sisilia. Pada September tahun yang sama, sang pangeran Aghlabiyah dapat mengusir kaum pemberontak dari Palermo. Sebagian besar bahkan kabur ke Taormina.

Kedatangan para pelarian itu menimbulkan optimisme Bizantium untuk memukul mundur Aghlabiyah. Tambahan pula, Konstantinopel bersedia mengirimkan bantuan militer tambahan untuk Taormina.

Mengetahui hal itu, Ibrahim II merasa perlu turun tangan langsung. Sang amir lantas menyuruh putranya untuk kembali ke Ifriqiyah. Kemudian, ia sendiri memimpin pasukan, menyeberangi Laut Tengah guna berjihad.

photo
Peta kawasan Italia dan Mediterania tengah pada abad pertengahan. Islam pernah berkuasa lebih dari dua abad di Pulau Sisilia - (DOK WIKIPEDIA)

Perang yang terjadi akhirnya dimenangkan Muslimin. Pada Agustus 902, Taormina berhasil ditaklukkan. Inilah tonggak dimulainya pemerintahan Islam di Sisilia hingga 260 tahun. Ibrahim II sendiri gugur pada Oktober 902 akibat terjangkit disentri.

Dinasti-dinasti

Di bawah bendera Dinasti Aghlabiyah, Sisilia menerapkan hukum Islam. Penerapan syariat bukan berarti pengislaman masyarakat lokal, apalagi pemaksaan agama.

Komunitas Nasrani dan Yahudi di sana bebas memeluk dan menjalankan keyakinan masing-masing. Mereka hanya diwajibkan untuk membayar pajak atau jizyah yang besarannya sekira 1 dinar per tahun.

Pembayarannya pun sering kali dilakukan secara kolektif sehingga meringankan sekumpulan warga non-Muslim yang menghuni sebuah kota. Adapun zakat dibebankan kepada setiap orang Islam.

Aghlabiyah menjadikan Palermo sebagai pusat pemerintahannya di Sisilia. Otoritas pusat di Ifriqiyah menunjuk kepala daerah untuk memimpin masyarakat setempat. Kadi juga diangkat untuk mengatur urusan kaum Muslimin di pulau tersebut.

 
Pada Agustus 902, Taormina berhasil ditaklukkan. Inilah tonggak dimulainya pemerintahan Islam di Sisilia hingga 260 tahun.
 
 

Ataullah Bogdan Kopanski dalam artikel “Islam in Italy and Its Libyan Colony (720-1992)” menjelaskan, Aghlabiyah pada awal abad ke-10 tidak hanya sukses menaklukkan Sisilia, tetapi juga Kepulauan Malta yang berjarak sekira 140 km dari pantai selatan pulau itu. Dengan demikian, kawasan Mediterania tengah dapat dikatakan berada dalam genggaman wangsa Muslim tersebut pada kurun masa itu.

Kopanski menuturkan, Aghlabiyah dilanda kekacauan politik kala diperintah Abdullah II. Bahkan, amir tersebut kemudian dibunuh oleh anaknya sendiri yang bernama Abu Mudhar. Saat berkuasa, sang putra mengeklaim gelar Ziyadatullah III. Baru duduk di singgasana, ia menjatuhkan hukuman mati atas semua saudara lelaki dan pamannya.

Ziyadatullah III menghadapi berbagai gejolak dalam negeri. Upaya kudeta terutama datang dari gerakan Syiah Ismailiyah yang dipimpin Abu Abdullah asy-Syi’ah—kelak menjadi penasihat Abdullah al-Mahdi Billah, pendiri Dinasti Syiah Fathimiyah yang berbasis di Mesir.

Pada Februari 909, Abu Abdullah mengadakan pemberontakan besar-besaran. Bahkan, ibu kota Aghlabiyah kala itu, Raqqada, dapat dikepung pasukannya dari pelbagai penjuru. Ketika mereka dapat merangsek ke dalam istana, Ziyadatullah III ternyata lebih dahulu kabur ke arah timur.

Amir tersebut memacu kudanya melewati Mesir dengan tujuan mencapai Baghdad untuk meminta Khalifah Abbasiyah mengembalikan kedudukannya. Hingga akhir hayatnya pada 911 M, permintaan itu tidak kunjung disanggupi sang khalifah Sunni.

Pada Maret 909, tamatlah riwayat Dinasti Aghlabiyah di tangan gerakan Syiah Ismailiyah. Pada tahun yang sama, Abu Abdullah bergabung dengan muridnya, Abdullah al-Mahdi, di Mesir. Sejak saat itu, tegaklah dinasti baru yang berhaluan Syiah di Negeri Piramida, Fathimiyah.

 
Pada Maret 909, tamatlah riwayat Dinasti Aghlabiyah di tangan gerakan Syiah Ismailiyah.
 
 

Secara otomatis, wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai Aghlabiyah menjadi milik Dinasti Fathimiyah. Itu pula yang terjadi pada pulau terbesar se-Mediterania. Kekuasaan rezim Syiah itu di Sisilia bertahan selama dua dekade.

Memang, perlawanan sempat bergulir, seperti yang dilakukan Ibnu Qurhub. Namun, mantan kepala daerah Tripoli untuk Aghlabiyah itu dapat ditangkap dan dieksekusi.

Pada 948 M, raja Fathimiyah Ismail al-Manshur menetapkan Hasan bin Ali dari Bani Kalbi sebagai pemimpin Sisilia. Sepeninggalannya, pulau itu dipimpin putranya sendiri, yakni Abu al-Qasim Ali. Maka terbentuklah secara de facto dinasti baru di sana, yakni Kalbiyah atau sering pula disebut Emirat Sisilia.

Abu al-Qasim alias Bolkasimos gugur dalam perang melawan pasukan kaisar Jerman, Otto II, di Crotone, Italia. Penerusnya berupaya menjaga stabilitas dalam negeri dengan meningkatkan kapasitas militer di perbatasan serta meredam konflik-konflik politik internal. Hasilnya, pada era amir Ja’far (983-985) dan Yusuf al-Kalbi (990-998) Emirat Sisilia mencapai masa keemasan.

photo
ILUSTRASI Bagian luar dari Gereja San Giovanni degli Eremiti di Palermo, Sisilia. Bangunan tua di pulau selatan Italia itu menampilkan kekhasan arsitektur Islam. - (DOK WIKIPEDIA )

Kemajuan

Kopanski menulis, pemerintahan dinasti-dinasti Muslim di Sisilia sejak era Aghlabiyah hingga Emirat memperkenalkan banyak produk peradaban Islam. Pertama-tama, para penguasa Muslim menginisiasi reformasi agraria di sana.

Dengan begitu, masyarakat dari kelas non-ningrat dapat memiliki atau mengolah tanah untuk penghasilan mereka sendiri. Dalam skala luas, pemasukan negara juga meningkat pesat, terutama dari sektor jizyah atau zakat.

Orang-orang Arab juga membangun sistem irigasi yang lebih baik ketimbang peninggalan Bizantium berabad silam. Mereka membuat sumur-sumur yang disebut qanat untuk mengangkat air dari dalam ke permukaan tanah. Kemajuan dalam bidang pengairan pada gilirannya mendukung produktivitas pertanian dan perkebunan.

Kaum Muslimin, lanjut Kopanski, memiliki keahlian dalam bertani dan berkebun. Penduduk lokal Sisilia pun belajar banyak keterampilan menumbuhkan berbagai tanaman buah dan sayuran dari mereka. Di bawah pemerintahan bangsa Arab, orang-orang Sisilia mulai mengenal dan kemudian menghasilkan dengan baik jeruk, lemon, tebu, dan kacang pistacio.

photo
Mata uang rubaya yang dipakai Emirat Sisilia selama ratusan tahun. - (DOK WIKIPEDIA)

Jejak Legasi Islam

 

Ibnu Hauqal, seorang ahli geografi dari Baghdad, singgah di Sisilia pada 872 M. Petualang tersebut menulis tentang pulau yang ketika itu merupakan sebuah emirat Muslim yang merdeka. Menurutnya, istana sang amir berdiri dengan megah di Palermo, ibu kota setempat. Di dekatnya, terdapat masjid agung dan katedral.

Ia juga mencatat, kehidupan di Sisilia sangat dinamis. Untuk urusan ibadah, penguasa setempat membangun masjid-masjid. Dikatakan Ibnu Hauqal, jumlah masjid di pulau tersebut lebih banyak daripada yang ada di kota-kota lain yang pernah disambanginya. Perayaan Idul Fitri dan Idul Adha pun selalu lebih meriah.

Untuk perkara ekonomi, Emirat Sisilia mementingkan kenyamanan bisnis dan perniagaan di tengah masyarakat. Ibnu Hauqal menghitung, tidak kurang dari 150 pasar berdiri di Sisilia. Pelabuhan-pelabuhan di kawasan pantainya tentu selalu ramai. Pulau terbesar seantero Laut Tengah ini memang sejak era pra-Islam menjadi salah satu bandar utama di Mediterania.

Emirat Sisilia pun mengembangkan beragam industri, termasuk kertas serta kerajinan emas dan perak. Para raja Muslim menetapkan koin emas yang dinamakan ruba’ya sebagai mata uang. Dinamakan demikian karena nilainya setara seperempat dinar. Penggunaan ruba’ya diterima di kota-kota pelabuhan Mesir dan Syam.

Walaupun lebih masyhur sebagai daerah perdagangan, Sisilia tetap menghasilkan sederet ahli ilmu. Sejumlah cendekiawan Muslim menjadikan pulau itu sebagai negerinya. Misalnya, Ismail bin Khalaf, seorang pakar ilmu qiraat yang menulis Kitab Alfi al-Qira’at; Yahya bin Umar, seorang ulama Maliki; serta Abu Bakar Muhammad at-Tamimi, pakar tasawuf yang pengikut tarekat Syekh Junaid al-Baghdadi.

Beberapa manuskrip Arab terkesan melebih-lebihkan jumlah penduduk Emirat Sisilia. Namun, umumnya sejarawan modern memperkirakan, total populasi setempat di bawah pemerintahan Islam mencapai 250 ribu hingga 350 ribu jiwa.

Mereka menunjukkan kemajemukan, dengan jumlah warga Nasrani dan Yahudi yang cukup signifikan. Semuanya hidup dengan aman di tengah mayoritas Muslim. Walaupun pada masa kekuasaan Fathimiyah, umumnya umat Islam setempat adalah ahlus sunnah yang berpaham fikih Maliki atau Hanafi.

Di samping orang Arab, Yunani, dan penduduk asli, kelompok-kelompok etnis lainnya juga dapat dijumpai di Sisilia, semisal Berber, Yahudi, Jerman, Slavia, Persia, Turki, dan Nubia. Emirat ini menjadi zona peleburan (melting pot) budaya-budaya.

Bahkan sesudah pulau tersebut lepas dari kuasa Muslimin sejak abad ke-12 M, budaya Islam tetap memengaruhi masyarakat lokal. Sebagai contoh, para wanita Nasrani di sana sering kali memakai hijab dan henna.

Puluhan Ribu Majelis Taklim Tersebar di Seluruh Indonesia

Majelis taklim dapat memberikan sumbangsih pemikiran positif bagi pembinaan umat.

SELENGKAPNYA

Majelis Taklim Sumber Islamisasi di Nusantara

Majelis taklim itu khas Indonesia yang dibentuk berabad-abad silam dan terus berjalan hingga kini.

SELENGKAPNYA

Sejarah Islam di Sisilia

Pasukan Muslim mendarat di Pulau Sisilia pada abad ke-9.

SELENGKAPNYA