Sejumlah calon jamaah haji dan umrah memakai kain ihram saat melaksanakan manasik haji di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Senin (23/5/2022). | Republika/Putra M. Akbar

Kabar Tanah Suci

Ihram Kain Persaudaraan

Selama tiga hari itu, ihram akan menjadi kita yang sejati tanpa parfum dan seragam.

A SYALABY ICHSAN dari Makkah

Rabu (6/7) sore, kami ngacir setelah liputan ke Misfalah menuju kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah di daerah Syisyah. Padahal, kami sedang asyik menikmati bala-bala (bakwan goreng) setelah mewawancarai jamaah yang hendak berangkat ke Arafah lebih awal karena ingin melaksanakan Tarwiyah. 

Kami harus bergeser karena ada pengarahan terakhir antarawak Media Center Haji (MCH) di mushala kantor menjelang Arafah, Muzdalifah, Mina (Armuzna). Di sana, Kepala Bidang Media Muhammad Khoeron sudah menanti bersama teman-teman dari MCH Makkah dan bandara.

Inti dari pertemuan itu sebenarnya sederhana. Pak Khoeron ingin mengarahkan kepada kami soal manasik untuk para petugas MCH saat wukuf, melontar jumrah, tawaf ifadah, hingga tahalul. 

Manasik bagi kami berbeda dengan jamaah. Setelah tiba di Arafah, kemudian menuju Muzdalifah, kami diarahkan untuk langsung menuju Masjidil Haram untuk melakukan tawaf ifadah, sa’i, dan tahalul awal. Setelah itu, kami akan pergi ke hotel masing-masing untuk beristirahat. Lontar jamrah aqabah akan dilakukan keesokan harinya. Manasik ini dilakukan untuk menyesuaikan jadwal dengan Amirul Haj.

 
Ada esensi lebih dalam soal dua potong kain putih itu. Kain tersebut diibaratkan menjadi pakaian kita saat mati kelak. 
 
 

Kain ihram menjadi salah satu isu pembahasan dalam pertemuan itu. Kami diwanti-wanti agar kain tanpa jahitan tersebut dipakai dengan benar. Jangan sampai melorot ke bawah pusar. Jangan mengenakan tutup kepala, seperti serban atau handuk. Jangan mencabut rumput dan jangan mengupil.

Kotoran yang kerap diproduksi hidung terutama saat udara berdebu ini bisa membawa rambut atau bulu hidung saat dicabut. Padahal, salah satu larangan ketika berihram adalah mencabut semua rambut dan bulu yang tumbuh di tubuh.

Ada lagi pertanyaan tentang pemakaian celana dalam tak berjahit bagi petugas pria. Apakah diperkenankan? Terlepas dari hukum fikih bahwa kain ihram merupakan kain tak berjahit, ada esensi lebih dalam soal dua potong kain putih itu. Kain tersebut diibaratkan menjadi pakaian kita saat mati kelak. 

photo
Sejumlah calon jamaah haji dan umrah memakai kain ihram saat melaksanakan manasik haji di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Senin (23/5/2022). Latihan manasik haji tersebut untuk membekali para calon jamaah haji dan umrah terkait pemahaman tata cara pelaksanaan ibadah secara mandiri ketika di tanah suci. Republika/Putra M. Akbar - (Republika/Putra M. Akbar)

Tidak ada bekal lain kecuali apa yang melekat di badan. Selama tiga hari itu, ihram akan menjadi kita yang sejati tanpa parfum dan seragam. Kita akan berbaur dengan semua jamaah dari berbagai belahan bumi dengan pakaian putih itu. Kami pun mafhum mendengar penjelasan tersebut.

Pakaian ihram yang akan kami pakai mulai hari ini seyogianya bisa membangun kesadaran untuk mengubur semua emblem pakaian artifisial dari warna kulit, etnis, pangkat, kekayaan, kedudukan, hingga keturunan. Allah tak akan melihat semua hal-hal yang hina itu. 

 
Tidak ada bekal lain kecuali apa yang melekat di badan. Selama tiga hari itu, ihram akan menjadi kita yang sejati tanpa parfum dan seragam. 
 
 

Di sini terlihat doktrin yang kerap kita dengar dalam Alquran. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Kain ihram ini menyadarkan seorang Eropa yang berganti nama sebagai Abdusyukur mengenai betapa indah perspektif manusia dalam Islam. Dikutip dari buku karya Henri Chambert Loir, Naik Haji di Masa Silam (1482-1964), lelaki ini berkenalan dengan seorang kiai asal Jawa yang juga memiliki nama depan Abdul, yakni Abdussalam. Takdir mempertemukan mereka saat  pergi haji pada 9 Dzulhijah 1366 Hijriyah atau 1947 Masehi silam.

Abdusyukur berkisah, sudah lama dia berkelana mencari Tuhan. Dia mendalami berbagai agama yang tak juga memuaskan hatinya. Pada satu waktu, dia tengah berjalan-jalan di Kota Paris yang terkenal indah itu.

photo
Jamaah Indonesia berhenti sejenak di Bir Ali, Madinah, guna membaca niat ihram dan shalat dua rakaat sebelum menuju Makkah. - (Fitriyan Zamzami/Republika)

Dia pun mendengar suara azan. Dengan suara itu, bagai ada perintah halus ke dalam hatinya untuk menjadi orang Islam. Dia menjumpai imam masjid itu. Di tangannyalah lelaki itu menjadi seorang mualaf hingga dapat naik haji.

Pada awal abad ke-19, Islam bukan hal baru di Eropa, termasuk Prancis. Setelah Perang Dunia I, sebuah masjid raya didirikan di Paris sebagai rasa terima kasih kepada tirailleurs Muslim, sebutan bagi pasukan infantri Prancis pada masa Napoleon Bonaparte berkuasa.

Mereka direkrut dari wilayah-wilayah jajahan Prancis, salah satunya Aljazair. Negeri nenek moyang pelatih Real Madrid dan bekas pemain sepak bola terbaik dunia Zinedine Zidane. Lewat masjid, pemerintah hendak memberi penghargaan kepada para 100 ribu tirailleurs yang tewas saat bertempur melawan Jerman.

 
Namun, sekularisme di negeri Menara Eifel tak berarti menutup hidayah bagi pencari Tuhan, seperti Abdusyukur.
 
 

Pada 1944, tercatat ada 550 ribu tentara Afrika-Prancis. Banyak di antara mereka direkrut, baik terpaksa maupun sukarela, dari koloni-koloni Prancis. Mereka berasal dari Aljazair, Maroko, Tunisia, dan negara-negara koloni Prancis lain di Afrika. Selain bertempur pada Perang Dunia I, tentara multiras itu diterjunkan dalam pertempuran di Italia pada 1943 untuk mengusir Jerman dari Monte Cassino.

Untuk menghormati mereka, Prancis membangun masjid itu pada 1926. Selama Perang Dunia II, saat Prancis dicaplok Nazi, Jerman, Imam Masjid Si Kaddour Benghabrit pernah menjadikan masjid itu sebagai tempat untuk melindungi pengungsi Aljazair dan Yahudi Eropa. Benghabrit menjamin akan menyediakan kamar perjalanan yang aman hingga sertifikat kelahiran Muslim palsu untuk melindungi mereka dari eksekusi Jerman.

Meski demikian, Prancis tetaplah Prancis. Negara yang trauma dengan adanya kekuasaan di tangan kaum borjuis dan pemuka agama. Revolusi Prancis pada 1789 menghancurkan dominasi Gereja Katolik. Hingga sekarang, Prancis memberi contoh kepada banyak negara demokrasi di Eropa tentang praktik pemisahan kekuasaan antara agama dan negara alias sekularisme.

Namun, sekularisme di negeri Menara Eifel tak berarti menutup hidayah bagi pencari Tuhan, seperti Abdusyukur. Seperti dikisahkan oleh Abdussalam, Abdusyukur malah memeluk Islam setelah mendengar lantunan azan di Paris. Sang mualaf itu pun berkesempatan untuk menunaikan rukun Islam kelima untuk berangkat haji.

Saat menjalankan wukuf di Arafah, Abdusyukur melihat ratusan ribu Muslim dibalut pakaian putih. Suara-suara zikir manusia bergema dari bukit tandus itu. Mereka menengadahkan tangan untuk menjadi sebenar-benarnya hamba. “Benar saudara, katanya. Biar saya tak mempunyai kapal udara, tidak punya mobil, tidak punya gedung yang permai, dengan kurnia-Nya saya menjadi umat Islam ini, sudah lebih dari dunia dengan isinya,” katanya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kementerian Agama RI (@kemenag_ri)

 

Lebih dari 4.000 Jamaah Jalani Tarwiyah

Penanggung jawab pelaksanaan tarwiyah harus memastikan anggotanya dalam keadaan sehat. 

SELENGKAPNYA

Helm Lokal Terus Mendunia

Reputasi helm lokal sukses terdongkrak berkat ajang MotoGP. 

SELENGKAPNYA

Kasus Masih Naik, PPKM Diturunkan

Yang terpenting dalam pembatasan masyarakat adalah implementasi aturan di lapangan.

SELENGKAPNYA