
Bodetabek
Geliat Industri Kue Kering di Bogor
Pemesanan kue kering pada tahun ini cenderung stabil seperti tahun lalu.
OLEH SHABRINA ZAKARIA
Ramadhan benar-benar dimanfaatkan oleh pengusaha kue, salah satunya oleh pemilik Rafita’s Cake, Noor Rafita. Toko kuenya yang terletak di Jalan Sholeh Iskandar, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, telah memproduksi pesanan 10 ribu toples kue kering hingga pekan kedua Ramadhan 1443 Hijriyah.
Ditemui Republika di tokonya, Rafita mengakui, pemesanan kue kering pada tahun ini cenderung stabil seperti tahun lalu. Pada 2021, ia menerima pesanan total 27 ribu toples kue kering selama Ramadhan. Pada 2022, ia menyiapkan 30 ribu toples kue kering.
Rafita’s Cake mulai menjajakan kue kering ke para distributor, agen, reseller, dan langganannya sejak Januari dan Februari. Pada Maret, ia dan para karyawannya mulai menyiapkan barang dan memproduksi kue-kue kering tersebut.
Wanita berusia 44 tahun ini menyebutkan, jenis kue kering yang ditawarkan Rafita’s Cake ialah kastengel, nastar, putri salju, choco thumbprint, choco mede, cornflakes, palm cheese, dan sultana. Tiga kue kering klasik, yaitu kastengel, nastar, dan putri salju masih menjadi kue kering favorit sejak 2013.
“Banyak orang cari yang klasik, yang baru kurang diminati karena tradisi mungkin ya. Kalau Lebaran ibaratnya harus ada nastar, kastengel, dan putri salju,” kata Rafita.
Harga kue kering yang dijajakan, yakni Rp 55 ribu untuk toples mini dan Rp 70 ribu untuk toples premium. Selain menerima pesanan kue kering regular, Rafita’s Cake juga telah menerima pesanan 1.000 hampers reguler dan 500 hampers eksklusif yang berisi kue kering.
Rafita mengakui, pemesanan kue kering memang meningkat selama Ramadhan setiap tahunnya. Pada hari biasa, kue kering buatannya masih bertengger di etalase toko Rafita’s Cake. Hanya saja, per bulannya hanya terjual 100 hingga 200 toples.
Melihat kondisi ini, Rafita pun memanfaatkan penjualan selama bulan Ramadhan ini sebagai business moment. “Cari saat momennya tiba saja. Kita manfaatin business moment ini. Bisa jadi saving kita di bulan-bulan berikutnya,” ujar wanita berkacamata ini.
Sambil menyusun toples kue kering di kotak hampers, Rafita menyebutkan, kue kering di Rafita’s Cake telah terjual di Jabodetabek, Cilegon, Bandung, Cikarang, dan Karawang. Untuk di luar Pulau Jawa, Rafita’s Cake juga telah mengirim kue hingga Batam, Balikpapan, Sumatra, dan Bali.
Ramadhan ini juga menjadi berkah bagi karyawan harian Rafita’s Cake. Setiap Ramadhan, Rafita menambah 20 hingga 30 karyawan harian untuk membantu membuat adonan kue kering, mencetak, memanggang, finishing, hingga pengemasan.
Produksi kue kering yang dilakukan di lantai tiga tokonya pun tak pernah putus. Setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, kue-kue kering andalan Rafita’s Cake terus diproduksi.
Tahun ini Rafita mulai mengalami peningkatan harga bahan pokok, bahkan kelangkaan bahan. Komoditas yang menjadi perhatiannya ialah butter dan keju edam. Ia pun harus meningkatkan harga kue kering sejak awal dijajakan sebelum memasuki bulan Ramadhan.
Rafita pun tetap mempertahankan resep turun-temurun yang dimilikinya sejak 1995. Saat itu ia baru memulai usaha kue kering rumahan saat duduk di bangku SMA. Pada 2012, Rafita juga membuka pesanan kue lain hingga berhasil membuka toko pertamanya pada 2013. Selain kue kering, Rafita’s Cake juga menawarkan kue tart, roti, donat, dan turut menjajakan produk titipan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lainnya.
Dengan slogan ‘Halal Cake Solution’, wanita berjilbab ini ingin Rafita’s Cake menjadi solusi kue halal keluarga Indonesia. Sebab, dalam pandangannya, banyak pengusaha bakery ternama yang tidak mengurus kehalalan produk.
“Buat kami ini menjadi concern utama karena kami ingin menyajikan produk berkualitas dan halal. Jadi, kita dapat kepercayaan dari konsumen. Terutama di Indonesia mayoritas Muslim, jadi kita benar benar memperhatikan kehalalan produk kita,” katanya.
View this post on Instagram
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
Waspadai Dampak Inflasi
Alokasi dana program prioritas nasional 2023 mencapai Rp 467,3 triliun.
SELENGKAPNYAMenjemput Lailatul Qadar
Datangnya Lailatul Qadar sesungguhnya dapat dilihat dengan memperhatikan alam semesta.
SELENGKAPNYA