ILUSTRASI Seorang pemabuk bertobat setelah budaknya memanjatkan empat doa kepada Allah. | DOK FREE Great Picture

Kisah

09 Jan 2022, 04:51 WIB

Terkabulnya Empat Doa

Doa-doanya mujarab sehingga banyak orang meminta kepada sang mursyid untuk didoakan.

OLEH HASANUL RIZQA

 

Dalam Alquran surah ar-Rahman ayat 60, Allah berfirman, yang artinya, “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” Itulah janji-Nya untuk orang Mukmin yang beramal saleh. Bahkan, ganjaran tersebut tidak hanya di dunia, tetapi juga insya Allah kelak di akhirat.

Kebajikan dapat dilakukan siapa saja, tidak memandang kelas sosial ataupun usia. Begitu pula dengan efek yang dihasilkannya. Dampak positif sering kali dirasakan tidak hanya oleh si pelaku kebaikan, tetapi juga orang-orang di sekitarnya.

Kisah berikut ini menggambarkan situasi demikian. Pada zaman dahulu kala, terdapat seorang remaja yang kaya raya. Sayangnya, pemuda Muslim itu suka lalai dari perintah agama. Tidak jarang, dirinya larut dalam pesta pora atau bahkan mabuk-mabukan.

Pada suatu hari, lelaki itu ingin bersuka ria bersama dengan kawan-kawannya. Mereka semua melalui malam dengan menenggak minuman keras. Menjelang pagi, tenaga para pemuda itu terkuras habis hingga melalaikan shalat Subuh.

Sang tuan rumah terbangun pada waktu dhuha. Sambil berjalan sempoyongan, ia berteriak memanggil budaknya. Lantas, pemuda yang sedang setengah-sadar itu memberikan uang 4 dirham kepada pembantunya. Itu guna membeli buah-buahan untuk teman-temannya tersebut.

Budak itu dengan sigap menjalankan perintah. Namun, dalam hatinya masih tersirat kegelisahan. Ia merasa ingin menasihati tuannya agar berhenti mabuk-mabukan. Shalat lima waktu pun jangan sampai ketinggalan. Apa daya, dirinya terlalu takut untuk berbicara. Sebab, majikannya itu suka menyiksanya apabila sudah terlampau emosi.

Di tengah perjalanan, budak tersebut berpapasan dengan seorang sufi nan alim, Manshur bin Ammar. Ulama itu masyhur sebagai sosok yang zuhud. Doa-doanya mujarab sehingga banyak orang meminta kepada sang mursyid untuk didoakan.

 
Manshur bin Ammar dikenal sebagai ulama masyhur yang zuhud. Doa-doanya mujarab sehingga banyak orang meminta kepada sang mursyid untuk didoakan.
 
 

Setelah menyampaikan salam, si budak terkejut karena tiba-tiba Manshur bin Ammar berkata, “Lakukanlah sedekah dengan 4 dirham.”

Tanpa pikir panjang, sang pembantu menitipkan uang dari majikannya itu kepada sang alim untuk disedekahkan. “Apa doa yang engkau inginkan?”

“Pertama, aku memiliki seorang majikan yang bengis. Aku ingin terlepas darinya. Kedua, aku harap Allah Ta’ala mengganti 4 dirham itu untukku. Ketiga, aku ingin Allah menerima tobat majikan saya. Keempat, saya berdoa, semoga Allah memberikan ampunan untukku, majikanku, orang-orang yang hadir di rumah tuanku itu, serta untuk engkau sendiri,” ujar pembantu itu menjelaskan keinginannya.

Sejurus kemudian, Manshur mengangkat kedua tangannya dan menggumamkan doa. Sesudah itu, si budak pamit untuk kembali ke rumah tuannya.

Sesampainya di tujuan, ia mendapati majikannya sudah di depan pintu. Raut wajah pemuda kaya raya itu seperti menahan amarah.

“Ke mana saja kamu!? Lama sekali! Dan mana buahnya?” hardiknya.

“Saya tadi berjumpa dengan Manshur bin Ammar,” jawab si pembantu. Lantas, ia menceritakan bagaimana 4 dirham disedekahkan kepada sufi tersebut serta empat doa yang dipanjatkan.

Mendengar penjelasan itu, meredalah emosi sang majikan. “Lalu, apa saja keempat doa itu?” tanyanya.

“Pertama, saya memohon kepada Allah agar saya dibebaskan dari perbudakan,” ujar si budak.

“Sungguh, saya memerdekakanmu. Engkau sekarang bebas karena Allah Ta’ala,” sahut si pemuda, “lantas apa doamu yang kedua?”

“Saya berdoa, semoga Allah mengganti 4 dirham itu.”

“Bagimu 4 dirham,” ucap remaja Muslim tersebut sembari memberikan uang yang dimaksud, “kemudian, apa doa berikutnya?”

“Saya memohon kepada Allah agar Dia menerima tobatmu.”

Seketika, si majikan tertunduk lesu. Air mata meleleh, membasahi pipinya. Pemuda Muslim itu segera masuk ke dalam ruangan, menyingkirkan dan memecahkan semua gelas arak. “Ya Allah, aku bertobat kepada-Mu. Aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatan maksiat ini selamanya!” kata orang kaya itu sembari mengangkat kedua tangannya.

“Terakhir,” jelas si mantan budak, “saya memohon agar Allah bersedia memberikan ampunan-Nya untukku, untukmu, serta semua kawanmu yang hadir di rumah ini.”

“Sungguh, itu bukan wewenangku. Hanya Allah, Zat Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang (yang bisa mengabulkan itu),” ucap si pemuda.

Sesudah itu, keduanya berpisah. Pada malam hari, sang majikan bermimpi dalam tidurnya. Ia mendengar suara yang berseru kepadanya, “Sungguh, engkau telah melakukan apa-apa yang menjadi wewenangmu. Dan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampunimu, si pelayan, semua orang yang hadir, dan Manshur bin Ammar.”


Bersahabat karena Allah

Dalam ajaran Islam, memupuk persahabatan adalah salah satu ciri orang yang beriman.

SELENGKAPNYA

Mengingat Kematian

Kematian yang menimpa diri seorang Mukmin bertujuan baik.

SELENGKAPNYA

Jalan Syariat

Seharusnya, setiap orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya mengikuti syariah.

SELENGKAPNYA
×