Warga penghuni panti wreda Rumoh Seujahtra Geunaseh Sayang menggunakan masker yang didistribusikan oleh pemerintah di Banda Aceh, Aceh, Jumat (1/5/2020). Para penghuni panti bagi lansia termasuk yang paling rentan pada masa-masa pandemi. | IRWANSYAH PUTRA/ANTARA FOTO

Narasi

30 Nov 2021, 03:45 WIB

Semangat Tinggi dari Panti yang Sepi 

Semangat lansia panti wreda berjuang melawan Covid-19

OLEH ABDULLAH SAMMY

Pandemi Covid-19 memakan korban terbesar dari kalangan lanjut usia (lansia). Data UNICEF di 82 negara menunjukkan lebih dari 50 persen korban meninggal dunia akibat Covid-19 berada pada rentang usia di atas 60 tahun. 

Di Indonesia, dari 143.808 korban meninggal dunia akibat Covid-19, sebanyak 48,6 persen di antaranya merupakan kalangan di atas usia 60 tahun. Proteksi lansia terhadap Covid-19 telah menjadi perhatian serius seluruh negara. Oleh karena itu, prioritas Pemerintah Indonesia dalam program vaksin Covid-19 menyasar pada kelompok di atas 60 tahun (lansia). 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak awal menekankan prioritas vaksin pada lansia. "Kalau nanti di semua kabupaten dan kota, saya titip agar yang lansia didahulukan," kata Jokowi saat meninjau vaksinasi di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Rabu (19/5).

Presiden menyadari bahwa selama 20 bulan pandemi menghantam Indonesia, sudah lebih dari 70 ribu lansia wafat akibat Covid-19. 

Sekalipun data telah merekam kondisi lansia secara umum, tetapi belum ada pendataan resmi terkait nasib lansia yang menghuni panti wreda selama pandemi. Reportase Republika ke beberapa panti wreda menunjukkan temuan terkait tingginya angka kematian. 

Reportase Republika bermula dari rumah lansia di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (12/11). Rumah lansia milik ormas Rabithah Alawiyah itu tampak lengang. Dari tiga kamar yang berada di lantai dasar rumah lansia itu, hanya satu kamar yang berpenghuni.

Dua kamar tampak hanya terisi ranjang kosong. Dua penghuni kamar itu wafat lima bulan lalu akibat terpapar Covid-19.

photo
Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulya 3 margaguna di Jakarta Selatan. - (Abdullah Sammy/Republika)

Pengurus Rumah Lansia Rabithah Peduli, Aisyah Assegaf mengatakan, Covid-19 telah mengakibatkan tiga orang penghuni rumah lansia meninggal dunia. "Total ada empat orang yang terpapar, hanya satu yang berhasil pulih," ujar Aisyah. 

Satu-satunya penghuni rumah lansia yang mampu bertahan itu adalah Siti Khodijah. Wanita berusia 71 tahun itu mengisahkan perjuangannya agar sembuh. Wanita yang terlahir dengan nama Joan Hedwig itu mengisahkan perjuangan keras selama hampir setengah bulan untuk mempertahankan hidupnya. 

Tinggal terpisah dari keluarga tak membuat semangatnya surut berjuang sembuh. Meski begitu, dia harus menjalani perawatan selama hitungan pekan di rumah sakit. Perawatan yang dilalui pun tidak mudah karena seluruh rumah sakit di Jakarta penuh. 

Khodijah mulai merunut kisahnya terpapar virus yang mematikan itu. "Pada 14 Juni 2021, ada suster yang datang dalam keadaan pilek. Dia bilang biasa pilek akibat musim pancaroba. Akhirnya, kita ngobrol dengan jarak dekat," ujar Khodijah. 

Namun, ternyata flu yang diidap sang suster bukanlah flu biasa melainkan akibat Covid-19. Tiga hari berselang, Khodijah mulai merasakan gejala pada tubuhnya. "Pada tanggal 17 (Juni), saya mulai merasa gak enak. Dan suster itu pun sudah ke klinik, ternyata dia positif Covid-19. Saya mulai sakit kepala, badan sakit, tulang-tulang pada sakit semua," ujar Khodijah. 

Tidak hanya Khodijah dan sang suster, tiga lansia lain serta dua suster seluruhnya positif terpapar. Dari seluruh perawat dan penghuni rumah lansia, hanya tiga orang yang negatif Covid-19. "Kemudian tiga lansia dilarikan ke rumah sakit. Sedangkan saya memilih untuk isolasi mandiri," ujarnya. 

Kondisi Khodijah makin memburuk setelah menjalani isolasi mandiri selama lebih dari 10 hari. Hingga akhirnya pada 1 Juli 2021, Khodijah tak sadarkan diri. Dia kejang dan mesti dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans. 

Di rumah sakit, perjuangan Khodijah baru dimulai. Dia harus menunggu hitungan jam di ambulans. Sebab, seluruh rumah sakit di Jakarta saat itu sedang penuh. Dia pun harus menjalani perawatan dari halaman Rumah Sakit Persahabatan. Selama lima hari, dia bertahan di barak darurat. "Di hari kelima, saya baru masuk ke IGD selama tiga hari kemudian baru masuk ruang perawatan," ujar Khodijah. 

 
Saya lihat di kanan kiri banyak yang meninggal. Terus saya tanya ke suster, 'itu umur berapa?'
 
 

Selama di Rumah Sakit itu, Khodijah melihat bagaimana takdir bekerja dengan cara yang berbeda. Dia yang berusia senja ternyata perlahan pulih. Sedangkan  banyak pasien lain yang berusia lebih muda harus meninggal dunia.

"Saya lihat di kanan kiri banyak yang meninggal. Terus saya tanya ke suster, 'Itu umur berapa?' Ada yang umurnya 40 dan 50 tahun. Sedangkan saya sudah lebih 70 tahun masih dikasih umur. Itulah takdir dari Allah," ujar wanita yang juga merupakan kakak kandung dari artis lawas, Clift Sangra itu. 

Namun, tiga penghuni lain Rumah Lansia Kemang tak seberuntung Khodijah. Ketiganya meninggal dalam perawatan di rumah sakit.

Kondisi yang serupa dengan Rumah Lansia Kemang, juga terjadi di Panti Wreda Budi Mulia 3. Rumah yang dikelola Dinas Sosial DKI ini tampak lengang. Menurut pengurus panti, Bu Kris, rumah lansia ini lebih lengang dibandingkan sebelum pandemi karena banyak penghuni yang wafat selama pandemi.

"Banyak yang kena Covid. Namun, untuk datanya saya tidak tahu pasti," ujarnya. 

photo
Data persentase kelompok umur meninggal akibat Covid-19 per 29 November 2021. - (covid19.go.id)

Di Panti Wreda Bina Marga Jakarta Timur tercatat, sejumlah penghuni panti meninggal dunia akibat Covid-19. Kepala Sudin Sosial Jakarta Timur, Susan Budi Susilowati, mengakui bahwa di panti wreda binaannya terdapat penghuni panti yang meninggal dunia saat puncak Covid-19 melanda pada Juli. "Ada tiga orang yang meninggal dunia," ujar Susan.

Menurut dia, kini standar ketat diberlakukan untuk seluruh area panti. "Sebab pandemi belum berakhir, protokol kesehatan ketat terus diberlakukan," ujarnya. 

Sebelumnya, pada akhir 2020, sekitar 66 Panti Sosial Tresna Wreda Budi Mulia Jakarta Barat menjadi klaster Covid-19. Sebab, 66 penghuninya positif terpapar Covid-19. Akibatnya, satu panti dikarantina.

Di Kalimantan Selatan, sekitar empat penghuni Panti Budi Sejahtera meninggal dunia dalam sepekan, saat puncak pandemi melanda medio Agustus 2021. 

Rentannya rumah lansia atau panti wreda terpapar Covid-19 diakui oleh Juru Bicara Satgas Penanganan Covid, Wiku Adisasmito. "Ditemukan beberapa kasus klaster di beberapa daerah, khususnya kelompok populasi yang memiliki karakteristik serupa, yakni binaan pada suatu organisasi yang tinggal bersama. Contoh, klaster panti sosial di DKI Jakarta," ujar Wiku. 

Akibatnya, dari pandemi pun sejumlah rumah lansia kini sepi. Ini seperti kondisi di Rumah Lansia Kemang, Panti Wreda Budi Mulia, ataupun Bina Marga Jakarta Timur. Banyak kamar yang kini ditinggal penghuninya.  

Situasi yang sama juga terjadi di Amerika Serikat. Angka kematian penghuni rumah perawatan lansia di Amerika Serikat bahkan sempat menjadi riset mendalam, yang diulas Profesor Ilmu Kesehatan Masyarakat, University of Chicago, Tamara Konetzka.

Dalam makalah berjudul 'A National Tragedy: Covid-19 in the Nation’s Nursing Homes (Tragedi Nasional: Covid-19 di Rumah Jompo), Konetzka menampilkan data yang cukup mengejutkan, yakni sekitar 40 persen dari angka kematian terkait pandemi di Amerika Serikat terkait dengan rumah perawatan lansia. 

Sementara itu, di Indonesia, belum ada riset atau data resmi pemerintah terkait jumlah penghuni panti wreda atau rumah lansia yang wafat sepanjang pandemi Covid-19. Namun, dari reportase Republika di sejumlah rumah lansia dan panti, persentase kematian yang cukup tinggi bagi penghuni panti yang terpapar Covid-19. Dari tiga panti wreda di Jakarta saja, sekitar 40-50 persen dari penghuni panti yang terpapar Covid-19 menjadi korban meninggal dunia.   

Namun, seperti kisah penghuni Rumah Lansia Kemang, Siti Khodijah, ada pula lansia penghuni panti yang berhasil pulih setelah melalui perjuangan keras. Khodijah mengakui bahwa meski dirinya menjalani hari-hari di rumah lansia yang terpisah dari anak dan cucu, dia tetap punya motivasi tinggi untuk melanjutkan hidup. 

photo
Perbandingan kematian akibat Covid-19 pada populasi umum dan penghuni panti wreda di Amerika Serikat per Februari 2021. - (USAFacts.org)

Sekalipun kini kamar-kamar di rumah lansia yang dia huni semakin sepi, tetapi semangat Siti Khodijah untuk sembuh masih tinggi. Alasan Khodijah sederhana. Dia ingin melihat anak dan cucu yang kini hidup berpisah dengannya.

"Saya masih ingin hidup. Masih ingin ketemu mereka (anak dan cucu)," ujar Khodijah penuh semangat.


×