Warga antre untuk mendapatkan paket bantuan sembako Presiden Joko Widodo di Desa Pekauman Ulu, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Senin (18/1). | BAYU PRATAMA S/ANTARA FOTO
19 Jan 2021, 03:10 WIB

Penuhi Kebutuhan Pengungsi

Jokowi meminta pemda berkoordinasi dengan pusat terkait kebutuhan logistik.

 BANJAR -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau sejumlah lokasi terdampak bencana banjir di Kalimantan Selatan (Kalsel), Senin (18/1). Dalam kunjungannya itu, Jokowi meminta jajarannya dan pemerintah daerah memastikan tercukupinya kebutuhan logistik bagi para pengungsi.

“Logistik untuk pengungsi ini penting karena hampir 20 ribu masyarakat berada di pengungsian,” kata Jokowi saat meninjau lokasi terdampak banjir di Kabupaten Banjar, Kalsel, kemarin.

Jokowi mengatakan, pemerintah pusat dan daerah harus berkoordinasi untuk memenuhi kebutuhan logistik pengungsi. Jika ada kekurangan logistik di pemerintah daerah, kata dia, pemerintah pusat akan membantu memenuhi kebutuhan itu.

“Kekurangan-kekurangan yang ada bisa dibantu oleh pemerintah pusat, selain juga dari logistik yang ada di pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota,” ujarnya.

Terkait

Presiden juga meminta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengerahkan jajarannya untuk memperbaiki beberapa jembatan di Kota Banjar yang rusak akibat banjir. Banjir diketahui telah merusak beberapa jembatan di Kalsel, salah satunya jembatan di Kabupaten Mataraman. Jembatan tersebut menjadi akses masyarakat untuk menuju kabupaten dan kota lainnya.

“Saya sudah minta menteri PUPR agar dalam 3-4 hari ini bisa diselesaikan sehingga mobilitas distribusi barang tidak terganggu,” kata Jokowi.

Jokowi menyebut bencana banjir yang terjadi di Kalsel akibat curah hujan yang tinggi selama 10 hari berturut-turut. Menurut dia, sudah lebih dari 50 tahun tidak terjadi banjir besar di Kalsel. "Daya tampung Sungai Barito yang biasanya menampung 230 juta meter kubik, sekarang ini masuk air sebesar 2,1 miliar kubik air. Sehingga, meluap di 10 kabupaten/kota," ujarnya menjelaskan.

photo
Data banjir di Kalimantan Selatan (Kalsel) update per 18 Januari 2021 - (BNPB Indonesia)

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Senin (18/1) pukul 17.00 WIB, banjir di Kalsel merenggut 15 jiwa. Adapun jumlah pengungsi mencapai 70.166 orang. Sementara, jumlah rumah terendam sebanyak 54.960 unit.

Presiden dalam kunjungannya ke Kalsel turut menyerahkan bantuan sembako, makanan siap saji, dan masker ke beberapa warga di lokasi terdampak. Sebanyak 10 ribu paket sembako dari Presiden disalurkan ke posko pengungsian Stadion Demang Lehman Martapura, Kabupaten Banjar. Ada sebanyak 827 warga yang mengungsi di stadion terbesar di Bumi Lambung Mangkurat tersebut.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

(@humaspoldakalsel)

Ruminah, salah seorang warga, mengaku senang bisa mendapatkan bantuan dari Presiden. "Kami sangat senang Presiden datang," katanya.

Warga yang tinggal di Desa Bincau, Kecamatan Martapura, ini mengaku rumahnya terendam dengan ketinggian hingga satu meter sehingga ia harus mengungsi ke tempat aman. Menurut Ruminah, banjir tidak pernah separah saat ini.

"Baru tahun ini banjir terjadi sampai ke rumah. Biasanya kalau air pasang, hanya jalanan dan halaman depan rumah tergenang," tuturnya.

BNPB menyatakan telah menyerahkan bantuan dana siap pakai (DSP) senilai Rp 3,5 miliar. Bantuan tersebut diberikan untuk lima kabupaten yang terdampak banjir paling parah, yaitu Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanah Laut, Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dan Kabupaten Balangan. Tiap-tiap kabupaten tersebut mendapatkan bantuan Rp 500 juta, sedangkan bantuan untuk Pemerintah Provinsi Kalsel sebesar Rp 1 miliar.

photo
Warga membawa paket bantuan sembako Presiden Joko Widodo di Desa Pekauman Ulu, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Senin (18/1). Paket bantuan tersebut dibagikan langsung kepada warga yang menjadi korban banjir saat presiden meninjau bencana banjir di Kalimantan Selatan. - (BAYU PRATAMA S/ANTARA FOTO)

Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan, BNPB juga akan memberikan bantuan berupa dana stimulan untuk rumah warga yang mengalami kerusakan. Dana stimulan diberikan sebesar Rp 50 juta untuk rumah rusak berat, Rp 25 juta untuk rumah rusak sedang, dan Rp 10 juta untuk rumah rusak ringan (RR).

"Pemerintah daerah agar melakukan pendataan tentang rumah-rumah yang mengalami kerusakan,” katanya.

Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Syamsudin Noor Banjarmasin memperkirakan, hujan dengan intensitas tinggi masih berpeluang menghantam wilayah Kalsel. Pada 12-15 Januari 2021, terjadi hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang yang berdampak banjir di sebagian besar wilayah Kalsel.

Kepala Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor Banjarmasin, Karmana, mengatakan, akumulasi jumlah curah hujan selama dua hari hingga 15 Januari mencapai 300 mm. Kondisi ini tergolong dalam kondisi ekstrem yang dipicu dinamika atmosfer di wilayah Kalsel yang labil.

"Adanya pergerakan suplai uap air dari Pasifik Timur ke Pasifik Barat (La Nina) serta suhu muka laut yang lebih hangat dari normalnya, mengakibatan aktivitas potensi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, terutama di wilayah Kalsel, menjadi lebih signifikan," ujar Karmana, kemarin.

Selain itu, Karmana menyampaikan, adanya pusaran angin tertutup di sekitar Kalimantan mengakibatkan terbentuknya daerah pertemuan angin di wilayah Laut Jawa hingga Kalimantan bagian Selatan dan Timur. Kondisi ini berpotensi menambah massa uap air dari Laut Jawa yang menyebabkan terjadinya pertumbuhan awan-awan konvektif yang masif di sekitar Kalsel.

Secara umum, BMKG memantau Desember 2020 dan Januari 2021 merupakan puncak musim hujan di wilayah Kalsel, kecuali Kabupaten Kotabaru pada Mei dan Juni 2021. "Sehingga, hujan yang terjadi pada bulan-bulan tersebut merupakan hujan yang turun secara kontinu," katanya. 

Banjir Manado

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menegaskan, banjir pesisir yang melanda Manado, Sulawesi Utara pada Ahad (17/1) bukanlah peristiwa tsunami.  Banjir tersebut merupakan salah satu kejadian cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah Indonesia.

Peristiwa naiknya air laut ke daratan di pesisir Manado ramai dibahas di media sosial. Dalam video yang beredar, gelombang pasang tampak meluap ke daratan secara deras. Warga di sekitar kejadian pun terlihat panik.

Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG Eko Prasetyo mengatakan, masyarakat tidak perlu panik dan mengungsi karena peristiwa itu bukan tsunami. "Tapi harus tetap waspada dan terus memantau serta memperhatikan update informasi cuaca terkini dari BMKG," kata Eko dalam keterangan resmi, Senin (18/1).

Eko menjelaskan, peristiwa tersebut terjadi karena dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya karena angin kencang dengan kecepatan maksimum 25 knot yang berdampak pada peningkatan tinggi gelombang di Laut Sulawesi, Perairan utara Sulawesi Utara, Perairan Kepulauan Sangihe-Kepulauan Talaud, dan Laut Maluku bagian utara. Ketinggian gelombang mencapai mencapai 2,5-4 meter.

@republikaonline

Detik-Detik Saat Air Laut Meluap di Pesisir Manado.##TiktokBerita ♬ original sound - Republika

 
Bersamaan dengan itu, ada pengaruh kondisi pasang air laut maksimum di wilayah Manado yang menunjukan peningkatan pasang maksimum harian setinggi 170-190 cm dari rata-rata tinggi muka air laut pada pukul 20.00-21.00 WITA.  Berdasarkan analisis gelombang, diketahui bahwa arah gelombang tegak lurus dengan garis pantai, sehingga dapat memicu naiknya air ke wilayah pesisir.

"Akumulasi kondisi di atas yaitu gelombang tinggi, angin kencang di pesisir, dan fase pasang air laut maksimum yang menyebabkan terjadi kenaikan air laut sehingga mengakibatkan banjir yang terjadi di Manado," jelasnya.

Dia mengatakan, beberapa hari terakhir wilayah Sulawesi Utara dilanda hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi di beberapa wilayah perairan. Fenomena cuaca tersebut sebenarnya merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi terutama pada saat puncak musim hujan seperti saat ini.

"Karena itu kami mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir selalu mewaspadai ancaman bahaya pesisir ketika fase pasang air laut berbarengan dengan gelombang tinggi," tambah Eko.

Masyarakat juga diharapkan mengambil langkah antisipatif terhadap potensi masuknya air laut ke daratan pada saat fase pasang air laut yang bersamaan dengan gelombang tinggi dan angin kencang.

@republikaonline

Relawan Mengangkat Korban Banjir Manado.##Tiktokberita ♬ original sound - Republika

Taruna Siaga Bencana Utama Sulawesi Utara Reisja Tidajoh mengatakan, air pasang tak sampai merusak tanggul yang berada di jalur boulevard atau pantai barat Manado. Hanya saja, perahu-perahu nelayan banyak yang mengalami kerusakan.

Ketua Ikatan Sarjana Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado, Roger Lantang mengatakan, hampir semua pantai barat di Sulawesi Utara terdampak fenomena air pasang tinggi. Dia yang berada di Kabupaten Minahasa pun membenarkan bahwa di pesisir Minahasa juga tedampak.  

Menurutnya, air pasang biasa terjadi setiap tahun, terutama mulai akhir Desember dan awal Januari. "Tapi kejadian seperti ini baru sekarang air masuk sampai mall di kawasan reklamasi boulevard. Ini karena dipengaruhi pasang yang tinggi," kata dia.

Sementara itu, Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, banjir dan tanah longsor di Manado menimbulkan enam korban jiwa berdasarkan data per Senin (18/1) pukul 09.30 WIB.  Sebanyak 500 orang mengungsi, namun sebagian sudah pulang ke rumah masing-masing.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati mengatakan, banjir dan tanah longsor terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi dan struktur tanah yang labil pada Sabtu (16/1) pukul 15.09 WITA. Tinggi muka air sekitar 50 sampai 300 sentimeter.

"BPBD Kota Manado memantau saat ini banjir telah surut dan cuaca terpantau panas," kata Raditya, Senin (18/1).  

Sejumlah kecamatan terdampak bencana ini, antara lain Kecamatan Tikala, Kecamatan Paal Dua, Kecamatan Malalayang, Kecamatan Sario, Kecamatan Bunaken, Kecamatan Tuminting, Kecamatan Mapanget, Kecamatan Singkil dan Kecamatan Wenang. 

 

Sumber : Antara


×