Patung Sultan Shalahuddin al-Ayyubi di Museum Militer Mesir | Wikipedia
13 Sep 2020, 15:40 WIB

Akhir Riwayat Sultan Shalahuddin dan Bani Ayyubi

Setelah wafatnya Sultan Shalahuddin, Dinasti Ayyubiyah terus mengalami pergolakan.

OLEH HASANUL RIZQA 

Di bawah pemerintahan Shalahuddin al-Ayyubi (1137-1193), Dinasti Ayyubiyah terus mengalami kemajuan, termasuk dalam bidang militer. Untuk memperkuat kekuatan tempurnya, raja yang disebut Sultan Saladin itu tidak hanya merekrut prajurit yang sebangsa dengannya, Kurdi.

Ada banyak pula suku Berber, Turki, Arab, dan Nubia yang masuk dalam angkatan perang Ayyubiyah. Di samping itu, Shalahuddin juga membangun banyak benteng pertahanan, utamanya di Mesir sebagai pusat kerajaannya.

Ia menjalin kerja sama dengan sejumlah penguasa Muslim di kawasan Asia Barat dan Afrika Utara. Sebab, mereka pada waktu itu menghadapi ancaman yang sama, yakni Pasukan Salib. Sejak 1099, pasukan Kristen itu dapat mencaplok Yerusalem dan mendirikan sebuah kerajaan Latin di tanah suci umat Islam tersebut.

Terkait

Begitu berhasil mengukuhkan kekuasaan di seluruh Syam (Suriah dan sekitarnya), Sultan Shalahuddin melancarkan gerakan ofensif terhadap kaum Salibis. Tujuannya untuk merebut kembali Yerusalem ke tangan Islam. Melalui Pertempuran Hattin pada 1187, ia akhirnya sukses membebaskan kiblat pertama umat Nabi Muhammad SAW itu dari penjajahan yang telah berlangsung puluhan tahun.

Berbeda dengan sikap barbar Pasukan Salib saat menduduki Yerusalem 88 tahun silam, pemimpin kelahiran Tikrit (Irak) itu tidak sampai membantai musuh apalagi penduduk setempat yang berlainan agama dengannya. Bahkan, nyawa dan harta mereka dijamin keselamatannya. Sikapnya yang bijaksana dan menghormati kemanusiaan itu membuatnya dikagumi kawan maupun lawan.

Keberhasilan Shalahuddin di Lembah Hattin lantas menyulut emosi para pemimpin Kristen Eropa Barat. Mereka mengagitasi orang-orang Nasrani sehingga terbentuklah koalisi pasukan salib yang baru.

 
Keberhasilan Shalahuddin di Lembah Hattin lantas menyulut emosi para pemimpin Kristen Eropa Barat.
 
 

Gelombang ketiga Perang Salib pecah antara tahun 1189 dan 1192. Raja Inggris, Richard Si Hati Singa (Richard the Lionheart) memimpin pasukan Salibis untuk menggempur Akka (Acre), kota di pesisir Syam (kini Palestina).

Pertahanan Muslimin di kota tersebut dapat dipatahkan. Sekitar 3.000 orang Islam menjadi tawanan, termasuk anak-anak dan perempuan. Mereka semua dibantai atas perintah Raja Richard. Sultan Shalahuddin menghadapi gerombolan perusuh itu pada 7 September 1191 di Dataran Arsuf.

Meskipun telah berupaya sekuat tenaga, pasukan Ayyubiyah harus menerima kekalahan telak. Terpaksa, sang sultan menyuruh prajuritnya yang tersisa untuk mundur teratur.

Setelah pertempuran itu, Richard bertahan di Jaffa dan membentengi kota tersebut. Sementara itu, pasukan Shalahuddin bergerak ke arah selatan guna memperkuat pertahanan di daerah penghubung Syam dengan Mesir.

Hingga Januari 1192, upaya-upaya perundingan terus berlangsung antara kubu Salibis dan Ayyubiyah. Richard dapat menguasai Beit Nuba, yang hanya sejarak 20 kilometer dari Yerusalem. Bagaimanapun, raja Inggris itu enggan melanjutkan ekspedisi hingga ke kota suci tersebut.

Shalahuddin kemudian menyerang Jaffa, tetapi Richard dapat menahannya agar tidak mendekati benteng kota tersebut. Kedua belah pihak lantas berunding. Disepakatilah bahwa Ayyubiyah mengakui kedaulatan Salibis atas wilayah pantai Palestina, antara Shur (Tyre) dan Jaffa.

Orang-orang Nasrani yang tak bersenjata juga diperkenankan untuk berziarah ke Yerusalem dengan jaminan perlindungan dari Shalahuddin. Sejak itu, perdamaian sempat berlangsung antara Muslim dan Kristen. Namun, sejak Paus Innosensius III naik takhta pada 1198 orang-orang Barat kembali menyerbu Palestina dalam gelombang Perang Salib Keempat (1202-1204).

photo
Salah satu kompleks benteng peninggalan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi, sang pendiri Dinasti Ayyubiyah, di Kairo, Mesir - (DOK WIKIPEDIA)

Pasca-Saladin

Sultan Shalahuddin al-Ayyubi wafat pada 4 Maret 1193 di Damaskus. Sang pendiri Dinasti Ayyubiyah meninggal dalam usia 55 tahun akibat sakit. Sebagai penguasa, di sepanjang hayatnya ia selalu hidup bersahaja sehingga tak meninggalkan harta berlimpah. Yang tersisa darinya hanyalah seperangkat baju perang, seekor kuda, serta uang satu dinar dan 36 dirham.

Sebelum berpulang ke rahmatullah, pahlawan Islam itu tidak hanya menyibukkan diri dengan memimpin jihad fii sabilillah. Ia juga membangun kesejahteraan rakyatnya dengan berbagai upaya. Misalnya, membangun rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, serta masjid di seluruh daerah kekuasaannya.

Tokoh Sunni berdarah Kurdi itu juga membangkitkan perekonomian negeri. Ia mendorong geliat aktivitas perdagangan di kota-kota pesisir Laut Tengah dan Laut Merah yang dikuasainya. Sistem pajak direformasinya. Begitu pula dengan sistem moneter dan kas negara (baitul maal).

Tentunya, jasa terbesar Sultan Shalahuddin ialah membebaskan Masjid al-Aqsha. Begitu berhasil mengusir kaum Salibis, ia segera memerintahkan pemugaran kota suci itu.

Baitul Maqdis dan Kubah Batu dibersihkannya dari simbol-simbol yang menyalahi tauhid. Kompleks rumah ibadah itu diperluasnya serta memperindahnya dengan berbagai ornamen kaligrafi. Ia juga membuat mimbar yang lantas dikenal sebagai Mimbar Saladin di sana. Namun, artefak yang tak ternilai itu akhirnya dijarah dan dibakar seorang Zionis pada 1972.

Sampai wafatnya, sang sultan mewariskan pemerintahan yang stabil, kokoh serta berwibawa. Akan tetapi, intrik-intrik politik kemudian terjadi. Sepeninggalan Shalahuddin, anak ketiganya, al-Malik az-Zahir, berhasil merebut Halab dari pamannya, Al-Malik al-Adil. Sementara itu, anak kedua Shalahuddin, al-Aziz Utsman mengonsolidasi kekuatan di Kairo. Adapun anak sulung sang pendiri Dinasti Ayyubiyah, al-Afdhal, menguasai Damaskus dan Palestina. 

Utsman meninggal saat sedang berburu di pinggiran Kairo. Jantung negeri Mesir itu lantas dilanda perebutan kekuasaan antara anaknya Utsman dan al-Afdhal. Yang terakhir itu justru kehilangan kendali atas Damaskus, yang kemudian jatuh ke tangan al-Adil pada 1201.

Sejak saat itu, adik kandung Sultan Saladin tersebut berhasil menyatukan seluruh negeri untuk tunduk kepadanya. Hingga 50 tahun ke depan, anak keturunannya menjadi pewaris de facto Dinasti Ayyubiyah.

Sesudah era al-Adil, Al-Kamil Nashruddin Abu al-Ma’ali Muhammad kemudian memerintah negeri Ayyubiyah. Pada masanya, Perang Salib Kelima terjadi antara tahun 1217 dan 1221. Pertempuran itu dimenangkan pasukan Muslimin yang berhasil mendesak kaum Salibis hingga ke Mesir.

Enam tahun kemudian, para pemimpin Eropa Barat membentuk koalisi Pasukan Salib. Dalam Perang Salib Keenam ini (1228-1229), Dinasti Ayyubiyah menyerahkan kunci Yerusalem sebagai salah satu persyaratan damai kepada pihak Kristen. Penyerahan itu menyusul adanya kesepakatan antara al-Kamil dan Kaisar Romawi Suci Frederick II. Di antara butir-butir perjanjian ialah tempat-tempat suci Muslimin di Yerusalem tetap berada dalam kendali Ayyubiyah yang berpusat di Mesir.

Kalangan sejarawan memandang, keputusan Sultan al-Kamil itu adalah taktik agar pertumpahan darah tak terjadi berlarut-larut. Apalagi, daerah sepanjang Mesir hingga Syam sesungguhnya dikuasai Ayyubiyah sehingga suatu saat Baitul Maqdis dapat dengan mudah diambil lagi. Keuntungannya, al-Kamil dapat memulihkan perekonomian negerinya yang sempat terjeda peperangan di pesisir Syam.

 
Kalangan sejarawan memandang, keputusan Sultan al-Kamil itu adalah taktik agar pertumpahan darah tak terjadi berlarut-larut.
 
 

Kota-kota di pantai Laut Tengah kembali bergeliat oleh aktivitas perdagangan. Dengan sokongan ekonomi, Ayyubiyah dapat memperkuat militernya. Benar saja, pada 1239 sultan Ayyubiyah yang berkedudukan di Damaskus an-Nashir Daud dapat memporakporandakan tembok pertahanan kaum Salibis di Yerusalem. Tak lama kemudian, ia meninggalkan kota tersebut untuk kembali ke Kerak.

Pasukan Salib hanya mampu mempertahankan Yerusalem hingga tahun 1244. Sesudah itu, koalisi Ayyubiyah dan pasukan Khawarizm semakin berjaya sehingga melemahkan mereka. Akhirnya, dua tahun kemudian kota suci umat Islam itu sepenuhnya kembali dikendalikan Ayyubiyah.

Sultan al-Kamil dapat dikatakan sebagai raja Ayyubiyah terakhir yang dapat mempertahankan stabilitas negeri. Sepeninggalannya pada tahun 1238, dinasti tersebut semakin terpecah belah oleh konflik elite meskipun berbagai serangan dari luar, semisal gelombang Perang Salib, dapat diatasi dan Yerusalem dapat dikuasai.

Pada 1250, pasukan budak (mamluk) yang berkebangsaan Turki berhasil merebut kekuasaan di Mesir. Kejadian itu secara otomatis mengakhiri pemerintahan Ayyubiyah secara keseluruhan. Sejak saat itu, berdirilah trah kekuasaan baru, yakni Dinasti Mamluk.

photo
(Ilustrasi) Legasi Dinasti Ayyubiyah berkaitan dengan kontak budaya antara peradaban Islam yang kosmopolitan dan Eropa Barat yang masih dekaden saat itu. - (DOK PXHERE)
 

Legasi tak Lekang Zaman 

Dinasti Ayyubiyah mungkin tak setua wangsa-wangsa lainnya dalam sejarah peradaban Islam. Usianya tidak sampai 100 tahun, tetapi legasi yang ditinggalkannya tak lekang dimakan waktu.

Ada berbagai kemajuan yang diwujudkan kerajaan tersebut. Dalam bidang pendidikan, misalnya, rezim yang dirintis Sultan Shalahuddin al-Ayyubi itu berhasil menjadikan Damaskus sebagai kota mercusuar ilmu pengetahuan. Hal itu antara lain ditandai dengan berdirinya Madrasah al-Shauhiyyah jantung daerah Syam itu pada 1239 M.

Lembaga tersebut menjadi sentra pengajaran empat mazhab fikih terkemuka dalam ahlus sunnah wa al-jama’ah. Sebelumnya, Darul Hadits al-Kamillah juga dibentuk pada 1222 M untuk mengembangkan studi hukum Islam. 

Seperti halnya kota-kota kebudayaan Islam pada masa keemasan, Damaskus juga bercorak kosmopolitan. Alhasil, cahaya peradaban tidak hanya menyinari umat Islam, melainkan juga komunitas agama-agama lain.

Sebagai contoh, perjalanan keilmuan yang dilakukan Adelardus Bathensis, seorang Nasrani asal Bath, Inggris. Ia melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lainnya di Syam untuk mengumpulkan ilmu pengetahuan yang dipelajari para sarjana Muslim.

Rihlah yang dijalani Adelardus berlangsung di tengah bayang-bayang Perang Salib. Fakta bahwa ilmuwan Kristen itu dapat dengan leluasa mengakses perpustakaan atau pusat-pusat keilmuan di Syam—wilayah kekuasaan Ayyubiyah—membuktikan Perang Salib bukanlah suatu perang agama, yang dilandasi kebencian, katakanlah, antara umat Nasrani dan Islam. Malahan, yang kerap terjadi ialah kontak budaya antara dua masyarakat yang berbeda iman itu.

Adelardus Bathensis dikenang sebagai intelektual Barat pertama yang memperkenalkan sistem angka Arab ke Eropa. Ia juga menerjemahkan banyak manuskrip yang berbahasa Arab ke bahasa Latin. Dengan begitu, terjadilah transfer macam-macam ilmu pengetahuan, mulai dari kedokteran, astronomi, hingga filsafat.

 
Adelardus Balthensis juga menerjemahkan banyak manuskrip yang berbahasa Arab ke bahasa Latin.
 
 

Karakteristik terbuka juga diberlakukan Dinasti Ayyubiyah dalam bidang perdagangan dan industri. Dalam menghadapi kaum Salibis, para pemimpin militer Muslim, mulai dari Shalahuddin hingga Sultan al-Kamil, tidak mengambil opsi the winner takes all.

Malahan, mereka kerap membuka ruang dialog dan perundingan dengan para agresor yang berbeda iman itu. Hasilnya, gencatan senjata kerap terjadi sehingga menjadi masa jeda bagi komunitas Muslim dan Kristen untuk saling berinteraksi, termasuk dalam dunia perniagaan.

Untuk pertama kalinya, bangsa Eropa mengenal sistem moneter Muslim yang jauh lebih kompleks pada masa itu. Sebagai contoh, adanya sistem bank atau letter of credit sehingga seorang pedagang tak perlu repot-repot membawa emasnya di setiap kota yang disinggahi.

Orang-orang Eropa juga menyaksikan, industri tumbuh dengan subur di negeri Islam. Mereka lantas meniru atau mengadopsi berbagai teknologi yang dirintis Muslimin, semisal teknik pembuatan kertas, kain, karpet, atau kincir air untuk irigasi lahan pertanian.

Sejak 1260, Bani Ayyubi dihantam dua kekuatan sekaligus, yakni Dinasti Mamluk di Mesir dan serangan bangsa Mongol atas Syam. Mamluk merupakan mantan pasukan budak Ayyubiyah yang akhirnya memberontak dan berhasil merebut kekuasaan.

Terkait ancaman Mongol, memang itu sudah terasa sejak pertengahan abad ke-13. Bahkan, dua tahun sebelum jatuhnya Syam, jantung Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad telah hancur lebur oleh serbuan bangsa dari Asia Timur itu.

photo
Koin dirham tahun 1190 yang bergambar Sultan Shalahuddin - (Wikipedia)


,
×