Hidayah itu akan mengantarkan hamba kepada tingkat tertinggi dalam kehidupan. | ANTARA FOTO
01 Sep 2020, 15:17 WIB

Mendekap Hidayah

Hidayah itu akan mengantarkan hamba kepada tingkat tertinggi dalam kehidupan.

Syahdan, seorang Muslimah dikenal berhijab rapi semasa kuliah di kampus. Bukan sekadar menutup aurat, dia amat memperhatikan pakaian agar jangan sampai memperlihatkan bentuk tubuhnya.

Seusai menikah dengan lelaki pujaannya, Muslimah ini hidup bahagia. Tak lama berselang, sang Muslimah diketahui bercerai. Dia menjalani kehidupannya sendiri. Belakangan, dia diketahui melepas hijab dan menggeraikan rambutnya.

Seorang perempuan lain menjalani kehidupan di kampus yang berbeda. Agamanya bukanlah Islam. Sekujur tubuhnya dipenuhi tato dengan berbagai tema. Semua orang mengecap dia sebagai ahli dosa.

Selepas lulus, dia pun menikah dengan lelaki pembuat tato. Kerasnya hidup membuat keluarga kecil ini jatuh miskin. Mereka lantas bercerai. Tak lama berselang, gadis bertato ini memutuskan untuk menjadi mualaf. Dia pun menutup aurat sambil perlahan menghapus tatonya. Belakangan, dia menikahi seorang lelaki Muslim yang bisa menerimanya dengan keadaannya sekarang.

Terkait

Kisah di atas merupakan realita kehidupan yang bisa dialami siapa saja. Amat banyak orang yang menjalani status sebagai orang shalih, tetapi justru berbelok karena kekecewaan kepada manusia dinisbatkan kepada Allah SWT. Sebaliknya, kita juga menyaksikan orang-orang yang sempat menjalani kehidupan penuh dosa tetapi kembali ke trek fitrah untuk menjalani sisa hidup sebagai hamba Allah SWT dengan penuh takwa.

Jalan panjang manusia dalam meniti kehidupan tentulah banyak onak dan duri. Fitrah manusia untuk mengikuti kata hatinya agar menjalani kehidupan yang sesuai dengan petunjuk Allah SWT kerap diganggu oleh godaan setan. Simaklah janji iblis kepada Allah SWT setelah diusir dari surga karena menolak sujud kepada Nabi Adam AS.

"Ia (iblis) berkata: 'Disebabkan karena Engkau telah menyesatkan saya, aku benar-benar akan duduk (menghadapi) mereka di jalan Engkau yang lebar lagi lurus. Kemudian, aku pasti akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur'." (QS al-A'raf:16-17).

Prof Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menjelaskan, kata duduk yang diungkapkan iblis dalam ayat tersebut menunjukkan kesungguhan sekaligus kesadaran akan kemam puannya. Menurut Quraish, setan memilih duduk dalam ucapannya yang bernada sumpah itu agar merasa senang.

Ia ingin menggoda dan menjerumuskan manusia setiap saat tanpa letih atau bosan. Setan selalu awas dan aktif setiap saat. Penyebutan keempat arah iblis datang untuk menggambarkan dia menggunakan segala cara, tempat, dan kesempatan untuk menjerumuskan manusia.

Untuk melawan godaan iblis, Allah SWT melalui Rasulullah SAW mensyariatkan kepada kita untuk membaca surah al-Fatihah setiap melakukan shalat. Dalam sehari, setidaknya kita membacanya 17 kali. Ada satu ayat dalam surah tersebut yang bermakna agar kita mendapatkan hidayah. Ihdina as-shirath al-mustaqim. Pertanyaannya ialah apa yang dimaksud dengan ihdina al-shirath al-mustaqim?

Secara tekstual, ayat keenam dari QS al-Fatihah itu berarti "tunjukkan kami jalan yang lurus". Ustaz Adi Hidayat dalam salah satu kajiannya membagi ayat ini menjadi dua bagian.

Pertama yakni "Ihdhina". Di dalam bahasa Arab, kalimat ini merupakan fi'il 'amr yang berfungsi sebagai permohonan. Ihdhina berasal dari kata hidayah. Jamaknya disebut hudan. Menurut dia, hidayah tak sebatas mengandung satu makna. Maknanya bisa satu, dua, tiga atau empat. "Kalau semua (hidayah) dikumpulkan, maka menjadi jamak dan disebut dengan hudan," kata dia.

Dia menjelaskan, Allah SWT menerangkan kepada seluruh hamba-Nya, permohonan utama seorang hamba adalah hidayah. Hidayah itu akan mengantarkan hamba kepada tingkat tertinggi dalam kehidupan.

Secara bahasa, dia pun menjelaskan beberapa makna hidayah. Salah satunya, yakni adh-dhilalah. Artinya bimbingan Allah lewat hati dengan lembut. Dia mengajak kita untuk sampai kepada kebenaran. Hidayah juga dimaknai sebagai semua bentuk kebajikan yang diharapkan. Kesuksesan, kebahagiaan hingga rumah tangga tenang. Tidak hanya itu, hidayah bisa dimaknai dari sumbernya. Sumber hidayah yakni Allah, Alquran dan Rasulullah SAW.

Hidayah bukanlah monopoli orang Muslim. Allah SWT memiliki otoritas penuh menentukan kepada siapa hidayah tersebut diberikan. "Barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada seorang pun dapat memberinya petunjuk. Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak seorang pun dapat menyesatkannya..." (QS az-Zumar [39]: 36-37).

Dalam menafsirkan ayat ini, Sayyid Qutb menjelaskan, "Dia mengetahui siapa yang berhak menerima kesesatan lalu Dia menyesatkannya. Dan, Dia mengetahui siapa yang berhak menerima petunjuk lalu Dia menunjukkannya. Jika Dia telah memutuskan, tidak ada yang dapat mengubah apa yang dikehendaki-Nya."

Hak ini yang harus kita raih agar layak mendapatkannya. Setelah meraihnya, dekaplah dia jangan sampai lepas. Sungguh mahal untuk bisa kembali ke kampung akhirat dengan status husnul khatimah. Wallahu a'lam.


,
×