Shalat merupakan ibadah yang begitu penting bagi diri setiap Muslim. | Republika/Musiron
31 Oct 2020, 02:30 WIB

Shalatnya Orang-Orang Saleh

Sebagian orang-orang di kalangan saleh akan merasa takut ketika hendak shalat.

OLEH ALI YUSUF

Shalat merupakan ibadah yang istimewa. Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada diri seorang hamba pada Hari Kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan merugi."

Bahkan, shalat dikatakan sebagai mi'raj-nya orang-orang beriman. Maknanya, seorang Muslim ketika melaksanakan shalat, sesungguhnya ia sedang menautkan hatinya untuk bermunajat kepada Allah SWT. Dengan menunaikan shalat secara baik, seorang hamba insya Allah dimampukan dalam melakukan perjalanan rohaniah ke haribaan Ilahi.

Begitu pentingnya shalat sebagai medium berdialog dengan Allah Azza wa Jalla. Sampai-sampai, sebagian orang-orang di kalangan saleh (salafus shalih) akan merasa takut ketika hendak melakukan shalat.

Terkait

Seperti dikisahkan dalam kitab Fadhail Al-A'mal, karangan Syekh Maulana Muhammad Zakariyya Al- Kandahlawi. Para kaum saleh masa lalu saling bertanya tentang shalatnya. Ini sebagaimana dilakukan Syekh Isham yang bertanya kepada Syekh Hatim Zahid Balkhi.

Syekh Isham bertanya, "Bagaimana engkau melakukan shalat?"

Syekh Hatim menjawab, "Pertama-tama aku menyempurnakan wudhu dengan penuh kehati-hatian, lalu setelah sampai di tempat shalat, aku akan berdiri dengan penuh tuma'ninah, seolah-olah Ka'bah berada di depanku, shirath (jembatan) di bawah kakiku. Surga di sebelah kananku dan neraka di sebelah kiriku, seolah-olah malaikat pencabut nyawa berada di atas kepalaku dan aku merasa inilah shalatku yang terakhir.

Mungkin tidak ada lagi shalat begitu setelah ini, setelah serta aku meyakini Allah SWT mengetahui keadaan hatiku. Kemudian dengan penuh kerendahan aku mengucapkan takbir dan membaca ayat-ayat Alquran dengan menghayati maknanya. Dengan penuh tawadhu, aku rukuk. Dengan penuh perasaan hina, aku sujud. Kemudian, dengan penuh kehati-hatian aku selesaikan shalatku.

Selanjutnya dengan penuh harap aku memohon semoga Allah SWT dengan rahmat-Nya agar menerima shalatku. Dan dengan rasa takut serta khawatir, jangan-jangan Allah SWT menolak semua amalku."

Mendengar cerita Syekh Hatim Zahid, Syekh Isham bertanya. "Sudah berapa lama engkau shalat seperti itu? "

Syekh Hatim menjawab, "Sudah 30 tahun."

Mendengar hal itu, Syekh Isham menangis dan berkata, "Satu kali pun aku belum pernah shalat seperti itu."

Diceritakan bahwa Syekh Hatim pernah ketinggalan satu kali shalat berjamaah. Ia begitu bersedih hati. Beberapa orang kawannya lantas mengunjunginya.

Ia pun menangis dan berkata, "Jika salah seorang anakku meninggal dunia, maka separuh penduduk kota Balkh ini akan bertakziah kepadaku, tetapi jika aku tinggalkan shalat berjamaah, hanya satu dua orang yang menjenguk. Demikian pandangan manusia, musibah agama itu lebih ringan daripada musibah dunia!"

Begitu khusyuk

Kisah lainnya yang berkenaan dengan shalat diperoleh berdasarkan pengalaman para sahabat Nabi Muhammad SAW. Para ulama sepakat, semua sahabat Rasulullah SAW adalah orang-orang yang lurus dan adil (mustaqim).

Itulah sebabnya, mereka mendapatkan martabat dan kedudukan yang tinggi. Ini dapat dibuktikan antara lain dalam hal kekhusyukan mereka saat sedang shalat.

Hati mereka hanya tertuju kepada Allah SWT. Mereka mengesampingkan segala masalah duniawi di seputarnya. Dalam benak mereka, yang ada hanyalah kebesaran dan keagungan-Nya.

 
Hati mereka hanya tertuju kepada Allah SWT. Mereka mengesampingkan segala masalah duniawi di seputarnya.
 
 

Mereka begitu merindukan surga yang telah dijanjikan-Nya. Hati mereka selalu diliputi perasaan takut akan azab-Nya. Konsentrasi mereka bertambah kuat tatkala membaca ayat-ayat Alquran. Tepat saat itu, mereka seolah-olah berdialog langsung dengan Sang Khalik.

Dikisahkan, suatu saat 'Urwah bin Zubair sedang sakit pada betisnya. Ada yang menganjurkan agar bagian yang sakit itu dipotong saja, tetapi ia menolaknya.

Namun, lama kelamaan penyakit itu menjalar ke bagian atas tubuh. Menurut sahabat Nabi yang lain, jika penyakitnya telah sampai ke tulang lutut maka dapat menyebabkan kematian.

'Urwah hanya bisa pasrah dan menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. Ia sempat menolak ketika seorang tabib hendak mengobatinya.

Akhirnya, atas saran seseorang, kaki yang sakit itu dipotong oleh si tabib ketika 'Urwah sedang mengerjakan shalat. Pemotongan itu ternyata sama sekali tidak dirasakannya.

Subhanallah! Lantaran begitu khusyuk dan tenangnya 'Urwah saat menunaikan shalat, luka lantaran kakinya dipotong tak dirasakannya. Sebab, hatinya hanya terpusat pada Allah SWT. Tak ada suatu kekuatan yang mampu mengusiknya dari kekhusyukan shalat.

Ada pula kisah lain. Sahabat Khubaib hendak dihukum mati oleh kafir Quraisy. Menjelang dirinya dieksekusi, Khubaib meminta izin untuk bisa mengerjakan shalat dua rakaat. Permintaan itu dikabulkan oleh algojo.

Shalat dua rakaat itu dilakukannya dengan sangat khusyuk dan sempurna. Usai shalat, ia berkata kepada kaum musyrikin Quraisy, "Kalau saja kalian tidak menyangka bahwa aku melamakan shalat karena rasa takut akan mati, pastilah aku akan memanjangkan dan memperbanyak lagi (rakaat) shalatku."


,
×