Santri mengikuti tes diagnostik cepat atau rapid test di Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur, Kamis (18/6). | ARI BOWO SUCIPTO/ANTARA FOTO

Opini

Menolak Rapid Test

Pesan yang disampaikan sebaiknya sederhana, jelas, diulang, dan konsisten.

LEILA MONA GANIEM, Komisioner Konsil Kedokteran Indonesia

Menjelang pengembalian aktivitas warga, sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19, pemerintah melakukan pengujian sampel darah melalui rapid test. Tujuannya, screening potensi penyebaran Covid-19.

Sayangnya, upaya yang membutuhkan banyak sumber daya ini ditolak warga. Sejumlah daerah mengusir tenaga medis, memasang spanduk penolakan, memblokade pintu masuk permukiman penduduk dengan balok kayu.

Petugas tak lantas menyerah, karena tanggung jawab atas tugas, dengan berbagai cara mereka berupaya meyakinkan warga. Terkesan memaksa, warga malah bereaksi mengintimidasi tenaga kesehatan.

Banyak masalah komunikasi di sini. Karena kini medium komunikasi tidak hanya media massa malah sebagian besar media sosial (medsos), yakni setiap orang dapat memproduksi dan mengonsumsi pesan, maka isu virus menjelma menjadi isu viral.

Atas penolakan rapid test di sejumlah wilayah, dari perspektif komunikasi dapat dianalisis adanya beberapa masalah. Pertama, masyarakat belum paham manfaat rapid test bahkan meyakini mudharat tes tersebut. Terminologi soal Covid-19 pun sulit dipahami.

 
Saat hal rasional yang dikonstruksi sejalan dengan nalar masyarakat yang tertekan, membuat individu yakin ada argumen tersembunyi dari suatu kebijakan.
 
 

Sebuah riset di Amerika tentang tingkat kemampuan baca masyarakat menyimpulkan, sebagian besar orang dewasa membaca pada tingkat kelas delapan, 20 persen di antara mereka bahkan berada di tingkat kelas lima.

Kebanyakan informasi kesehatan ditulis di tingkat kelas 10. Pada warga senior, kesulitannya lebih tinggi karena soal ingatan, penglihatan, dan pendengaran. Bagi banyak orang, memahami istilah PDP, OPD, rapid test, swab, reaktif, PCR adalah perkara rumit.

Kedua, medsos yang setiap saat menemani keseharian masyarakat, berisi berita terkini, analisis kritis dengan teori individu tanpa sumber kredibel, imbauan provokatif, dan informasi hoaks yang bertubi-tubi. Semua campur baur.

Saat hal rasional yang dikonstruksi sejalan dengan nalar masyarakat yang tertekan, membuat individu yakin ada argumen tersembunyi dari suatu kebijakan. Jika keyakinan yang salah itu menjadi kesepakatan kolektif, makin tinggi tantangan untuk meluruskannya.

Masyarakat yang tak selektif dalam memilah dan memilih informasi, sangat mungkin terprovokasi informasi yang tidak jelas sumbernya. Mereka juga bakal berprasangka buruk kepada tenaga kesehatan, pemerintah, kelompok, atau satu sama lain di antara mereka.

Misalnya, berita hoaks yang menyatakan adanya rekayasa, sandiwara, dan lahan bisnis atas pandemi ini, memperparah persepsi negatif dan menciptakan sikap defensif pada rapid test yang mereka nilai mengambil keuntungan dari mereka.

Ketiga, secara personal, kekhawatiran yang dikomunikasikan dalam diri individu atas dampak rapid test dengan hasil positif, memiliki ongkos sosial besar. Orang tanpa gejala yang dinyatakan positif Covid-19, kondisinya yang baik-baik saja berubah menjadi duka.

Sebab, orang itu menerima stigma tertentu, dikucilkan, dan harus mengisolasi diri. Ketika bertemu orang lain maka dia akan dilihat sebagai pembawa penyakit yang harus dijauhi.

 
Informasi mengenai rapid test sebaiknya berisi pesan persuasif yang menyelesaikan kekhawatiran masyarakat.
 
 

Keempat, rumor terkait kekhawatiran tertular saat berdekatan dengan tenaga kesehatan yang melakukan rapid test. Alat rapid test saat digunakan juga dicurigai menyebarkan virus. Saat itu menjadi keyakinan kolektif maka kekuatan penolakan semakin solid.

Saran solusi

Komunikasi efektif mengurangi ketidakpastian. Pesan yang disampaikan sebaiknya sederhana, jelas, diulang, dan konsisten.

Untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan, ketika informasi disampaikan dalam bentuk tulisan, sebaiknya ditujukan untuk tingkat baca kelas enam atau lebih rendah, lebih disukai terdapat gambar dan ilustrasi.

Selain itu, informasi mengenai rapid test sebaiknya berisi pesan persuasif yang menyelesaikan kekhawatiran masyarakat, menguntungkan ketika dilaksanakan, dan merugikan jika tidak dilakukan.

Singkatnya, pertanyaan ‘untung saya apa’ membuat orang memahami mengapa perlu rapid test.

Penyampai pesan juga perlu dipertimbangkan siapa yang tepat. Medium komunikasi sebaiknya beragam sehingga efektif mencapai masyarakat generasi Alfa, Z, milenial, X, atau yang lebih senior. Keberagaman budaya lalu sikap juga penting untuk diperhitungkan.

Penanganan Covid-19 adalah upaya kolektif warga negara. Jalur formal memang penting, tetapi pemanfaatan tokoh anutan masyarakat yang disegani di komunitasnya sangat mendukung keberhasilan tujuan berkomunikasi.

 
Saat kekuatan ini diarahkan ke jalur positif melalui komunikasi yang tepat, akan membuahkan tindakan positif bagi penyelesaian pandemi Covid-19. 
 
 

Keterikatan dan interaksi antarmanusia dimediasi oleh aturan yang sesungguhnya dapat dibaca. Mitos atau kepercayaan yang mengganggu sulit dibahas di tingkat formal, itulah mengapa saluran informal melalui sosok kredibel, pantas dipertimbangkan.

Satu lagi kekuatan masyarakat kita adalah jiwa tolong-menolong. Ini telah dibuktikan lembaga pemeringkat, seperti Charities Aid Foundation yang menempatkan Indonesia sebagai negara paling murah hati di dunia pada 2018.

Tahun berikutnya, 2019, Legatum Prosperity Index yang meriset 167 negara menyimpulkan, Indonesia di peringkat ke-5 dunia dan pertama di Asia Pasifik dalam partisipasi sipil serta sosial pada tingkat sukarelawan.

Saat kekuatan ini diarahkan ke jalur positif melalui komunikasi yang tepat, akan membuahkan tindakan positif bagi penyelesaian pandemi Covid-19. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat