Sastra
Kesadaran Kolektif
Puisi-puisi KH Ahmad Rafiuddin
Oleh KH AHMAD RAFIUDDIN
Seleksi Alam
Pada waktunya nanti, orang-orang beriman
yang memiliki frekuensi sama akan bersatu
ke dalam jiwa-jiwa yang memiliki kesadaran tinggi,
dan tentu menghadapi kutub berseberangan
dengan mereka yang berkesadaran rendah.
Polarisasi dua kutub melahirkan kelompok manusia
yang mengalami kebangkitan spiritual,
ketimbang mereka yang merasa nyaman
dengan kemegahan duniawi dan kesenangan sesaat.
Namun pada akhirnya,
mereka yang memiliki kesadaran rendah
akan sulit mengalami kejernihan iman,
hingga mudah terhempas oleh seleksi alam,
karena pilihan hidup yang mereka putuskan sendiri.
***
Peralihan Zaman
Kelak akan terjadi huru-hara atau seleksi alam,
hingga pasar-pasar kehilangan pembeli,
sungai-sungai kehilangan sumber air,
meskipun transportasi telah dipermudah
dengan beragam jalan tol dan jalur kereta api.
Itulah era ketika kepercayaan dan ideologi Dajjal
memasuki relung-relung jiwa masyarakat
dan rumah-tangga bangsa,
hingga memasuki kampung-kampung pedalaman.
Yang benar dianggap salah,
yang jujur dikucilkan dan dilengserkan
dari kursi kekuasaan.
Banyak orang melanggar janji dan sumpah,
karena kepentingan harta, tahta dan wanita,
sampai kemudian muncullah sosok lelaki
yang mendapat petunjuk ilahi (Al-Mahdi),
melahirkan zaman baru yang tak gentar
menegakkan prinsip kebenaran dan keadilan.
Melahirkan jiwa-jiwa manusia merdeka
yang saling menyatukan kekuatan orang beriman.
Sosok penegak keadilan yang paling ditakuti
sang arsitek kegelapan dari zaman ke zaman,
karena kehadirannya akan menghempaskan
perbudakan modern hingga jaringan para elit global.
Ia bergerak berdasarkan petunjuk langit
yang tak mungkin terkontrol oleh teknologi
dan pengawasan secanggih apa pun.
Maka, tibalah saatnya, ketika zaman kolobendu
berganti dengan era welas asih,
peleburan segala angkara murka,
hingga mereka yang berkesadaran rendah
akan dipisahkan oleh semesta dan hukum alam.
Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
***
Hak dan Batil
Kebangkitan spiritual akhir-akhir ini
kian merata di mana-mana.
Kelak mereka yang tercerahkan,
akan menjaga jarak dengan orang-orang toxic
yang memiliki vibrasi negatif.
Polarisasi kedua kubu semakin kentara
antara hak dan batil, baik dan buruk,
bahkan keadilan dan kesewenangan.
Hingga orang-orang spiritual meskipun sedikit,
namun akan memancarkan energi positif,
dan semakin menyadari jati dirinya.
Sementara, mereka yang vibrasinya rendah
akan terjatuh ke dalam sikap pesimis,
skeptis, dan bermental korban.
Mereka akan hilang kesadarannya
seperti orang linglung mengalami amnesia,
lalu menebar kejahatan, serta bertahan hidup
dengan berusaha menyerap energi
dari sesama kelompoknya.
***
Hati yang Mati
Mereka yang vibrasinya tinggi
akan bergetar di medan energi positif,
menularkan kabaikan dan kearifan
terhadap lingkungannya,
bahkan mudah menyembuhkan luka
yang tergores dalam kalbunya.
Proses penyembuhan terjadi secara alami,
hingga orang-orang baik
akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri.
Mereka semakin peka
dan pintar memilah-milah energi,
juga semakin sensitif pada lingkungan sekitarnya,
bahkan berjiwa ikhlas
untuk saling menyembuhkan sesamanya.
Mereka akan mematahkan rencana jahat
dari agenda-agenda Iblis
yang sibuk merancang arsitektur kegelapan.
Sebaliknya, orang-orang toxic yang mati hatinya,
mereka akan sulit mendapatkan akses,
bahkan hanya dapat berkerumun
dengan sesama gerombolannya.
Karena frekuensi mereka tak mungkin selaras
dengan jiwa-jiwa yang tersucikan.
Kebangkitan spiritual yang bergema,
seakan tak berpengaruh dalam sanubari mereka.
***
Kesadaran Kolektif
Akan terjadi perjumpaan alami
bagi jiwa-jiwa yang memiliki satu frekuensi
dalam kesadaran dan kebangkitan spiritual.
Umat Islam akan melebur
ke dalam jiwa-jiwa yang Islami,
yang output-nya menjadi manusia berbudi
dan berkesadaran tinggi.
Mereka memiliki sikap welas-asih,
sebagai manifestasi sifat rahman-rahim Allah.
DNA leluhur dalam diri mereka,
baik jasmani maupun rohani,
akan menjelma ke dalam karakteristik
manusia-manusia Islami,
dan bukan semata-mata berbaju Islam.
Akan tetapi, perkumpulan dalam satu ruangan
yang diisi oleh mereka
yang mengalami kebangkitan spiritual yang sama,
baik yang beragama Islam, Kristen,
Hindu, Budha, Kong Hu Cu dan lain-lain.
Mereka sama-sama memiliki vibrasi tinggi
yang gemanya membangkitkan kesadaran kolektif,
memandang keimanan agama lain (liyan)
sebagai bagian dari rahmatan lil alamin.
Wawasan akidah semakin bermetamorfose
ke dalam pandangan sosiologis dan antropologis.
Sikap welas asih memancarkan energi umat
yang saling memberdayakan nilai kemanusiaan.
Bukan lagi memperdayakan manusia
dan mengeksploitasi sesamanya.
***
KH Ahmad Rafiuddin adalah ketua Tanfidziyah PBNU Jakarta, Pengasuh Pesantren Tebuireng 09, Rangkasbitung, Banten, juga menulis esai dan puisi keislaman di berbagai media nasional luring dan daring
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
