Sastra
Sebelum Peluit Kedua
Cerpen Ridwan
Oleh RIDWAN
Aku berdiri di bawah tenda besar berwarna putih. Kain-kainnya menjuntai, bergerak pelan ditiup angin, meski di sela-sela lipatannya aku seperti menangkap bayangan terpal biru yang biasa kami gunakan untuk berteduh dari hujan di lokasi proyek. Di sekelilingku, orang-orang datang silih berganti, menyalamiku, menyebut namaku dengan suara yang terdengar akrab, seolah kami telah lama saling mengenal.
“Selamat ya,” kata seorang lelaki bersongkok hitam sambil menjabat tanganku erat.
“Terima kasih,” jawabku. Suaraku terdengar mantap, tidak gugup seperti yang selama ini kubayangkan.
Tanganku berpindah dari satu jabat ke jabat lain. Ada seorang lelaki berjas rapi; saat jemari kami bertaut, telapak tangannya terasa kasar dan kapalan—tekstur yang begitu akrab di tanganku sendiri. Ada tangan renta berurat yang menggenggamku seolah kami pernah memanggul beban yang sama. Tak satupun bertanya siapa aku, berapa upahku, bekerja apa, atau berasal dari mana. Hari itu, kedaulatanku sebagai manusia terasa utuh.
Dunia di luar tenda seakan mengecil, semua pertanyaan yang biasa membebaniku luruh begitu saja, meski di dada firasat ganjil mulai berdenyut pelan. Aku menoleh ke arah kursi pelaminan. Ia duduk di sana. Perempuan itu mengenakan gaun sederhana berwarna gading dan rambut di sanggul. Tidak berkilau berlebihan, tapi membuat cahaya seolah berhenti di sekelilingnya. Ketika mata kami bertemu, aku terhanyut oleh senyumnya—sebuah senyum yang tidak ingin dipamerkan, hanya ingin dibagi.
“Kamu terlihat tegang, sayang,” ucapnya lembut saat aku duduk di sampingnya.
“Takut salah ucap,” jawabku jujur.
Ia menggenggam jemariku, memberi kehangatan yang merambat pelan. “Kalau salah, kita ulang. Tidak ada tenggat waktu hari ini. Aku milikmu.”
Kalimat itu membuatku terdiam, seolah ada bagian dari diriku yang lupa bahwa di dunia lain, waktu bisa ditawar. Dalam hidupku, waktu selalu datang sebagai perintah: mulai, berhenti, lanjut. Waktu istirahat bukan ruang untuk bermimpi, hanya jeda agar tubuh sanggup kembali dipakai. Barangkali karena itu mimpiku memilih hadir di sela kelelahan—seperti tamu yang tahu diri, datang sebentar sebelum diusir peluit. Aku sadar, aku tidak benar-benar tidur. Aku hanya sedang dipinjamkan hidup lain oleh letih yang menumpuk terlalu lama.
Aku menatapnya, ingin menanyakan banyak hal, tapi kehadirannya sudah cukup menjawab segalanya. Di antara barisan tamu, kulihat Ibuku. Ia tidak memakai kebaya mahal, hanya baju kurung tua yang tampak bersih dan licin disetrika. Tangannya yang biasa bergelut dengan tanah kini menggenggam tas kecil. Saat menyalamiku, ia membisikkan sesuatu yang hampir membuat pertahananku runtuh:
“Akhirnya kamu punya rumah yang tidak perlu kau bangun sendiri, Nak.”
Kalimat itu terasa seperti upah yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah kuterima di hari Sabtu. Namun, entah sejak kapan, udara di sudut belakang tenda mendadak terasa lebih berat dan apak.
Aku melirik ke sana dan dadaku mendadak mengeras. Mandorku berdiri di sana, bersama beberapa temanku. Mereka mengenakan atribut lengkap: helm proyek, rompi kerja, dan sepatu berat yang berdebu. Di leher mandor, peluit tergantung—diam, namun terasa mengancam. Mereka berdiri berjajar rapi, membentuk barisan serupa apel pagi. Wajah-wajah mereka kaku. Tatapan mereka adalah tatapan orang-orang yang menunggu aba-aba kerja, bukan ijab kabul.
Tatapan mandor paling lama bertahan. Tidak marah, namun datar dan pasti; seolah ia sedang mengawasi apakah durasi kebahagiaanku sudah melampaui batas waktu yang sanggup dibayar oleh perusahaan. Saat penghulu duduk di depan kami, suasana mendadak senyap.
“Apakah saudara siap?”
Aku mengangguk. Namun, ketika penghulu mulai menjabat tanganku untuk menuntun ikrar, lidahku mendadak kelu. Aku mencoba membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar. Di depan mataku, bayangan wajah Mandor dan rekan-rekan kerjaku dengan atribut proyek yang kusam mendadak mengaburkan wajah perempuan di sampingku. Helm kuning, rompi oranye, dan deru mesin molen seolah menyumbat tenggorokanku. Aku berjuang mengeja janji suci itu, tapi yang terbayang hanya daftar absensi dan tumpukan semen. Ikrar itu tertahan, membeku di ujung bibir, tepat saat sebuah suara asing menembus paksa keheningan pesta.
“Bangun.”
Suaranya memotong segalanya.
“Bangun, istirahat sudah habis.”
Aku tersentak. Matahari menyorot langsung ke wajahku, tajam dan tanpa ampun. Bau semen dan debu seketika menggantikan aroma kain dan bunga. Di sekelilingku, beberapa kawan berdiri sambil meraih helm yang tergeletak di lantai beton.
“Hei, mimpi apa sampai senyum-senyum? Lalu mendadak pucat seperti orang tercekik?” kata seseorang sambil tertawa kecil.
Aku duduk sebentar. Tangan kananku refleks mencari tangan hangat yang tadi kugenggam, namun yang kutemukan hanyalah gagang sendok semen yang dingin dan kasar. Kehangatan itu menguap, berganti dengan peluh yang mulai membasahi kaus kusamku. Aku memandang kedua tanganku sendiri. Garis-garisnya tebal, kukunya tak pernah benar-benar bersih, dan sendi-sendi jarinya terasa kaku. Tangan ini hafal berat ember, tahu kapan adukan semen terlalu cair atau terlalu pekat, tahu cara menahan panas matahari agar tak cepat menguras tenaga. Namun tangan yang sama tadi gemetar saat harus menggenggam janji.
Seolah tubuhku lebih siap untuk bekerja daripada berbahagia. Aku baru sadar, selama ini aku dilatih untuk kuat, bukan untuk berharap. Hari-hariku diisi ukuran dan takaran: berapa sak semen, berapa jam kerja, berapa hari sebelum hujan datang.
Tidak ada ruang untuk bertanya apakah aku lelah, apalagi bahagia. Semua itu urusan nanti, atau urusan orang lain. Mungkin karena itu lidahku kelu. Bukan karena aku tak ingin mengucap janji, melainkan karena tubuhku tak terbiasa berada di tempat yang tak menuntut apa-apa.
Di tenda putih itu, tidak ada target, tidak ada tenggat, tidak ada peluit. Dan justru di situlah aku tersesat. Aku menarik napas panjang. Debu masuk ke paru-paruku, seperti biasa. Dunia kembali ke ukurannya semula—keras, sempit, tapi kukenal. Aku bangkit perlahan, membawa kesadaran itu bersamaku: bahwa mimpiku barangkali bukan hilang, hanya belum tahu harus tinggal di mana.
Entah mengapa wajah Ibu menyelinap ke kepalaku. Ingatanku kembali pada pagi-pagi ketika ia menyapu halaman rumah kontrakan kami.
“Cepat,” kata temanku lagi. “Mandor sudah jalan ke sini.”
Aku berdiri. Rumah yang kami bangun masih setengah jadi. Dindingnya belum diplester, tiang-tiangnya menjulang telanjang tanpa hiasan. Aku mengambil adonan semen. Tanganku bergerak otomatis, namun batin terasa tertinggal di balik tenda putih tadi—terperangkap pada ikrar yang tak sempat terucap.
Peluit belum berbunyi, tapi waktu istirahat memang tidak pernah menunggu mimpi selesai. Aku mencoba mengingat wajahnya, namun perlahan ia menjauh, seperti suara yang ditelan deru mesin pengaduk semen.
Peluit kedua akhirnya terdengar, melengking panjang, memutus sisa-sisa ingatan. “Ayo, lanjut lagi,” suara mandor terdengar dari ujung bangunan. Suaranya tidak membentak, hanya terdengar serak dan lelah, seolah dia pun sedang memikul beban tenggat waktu yang sama beratnya di pundaknya.
“Dinding ini harus rata sebelum hujan turun.”
Dinding itu memang harus selesai hari ini, pikirku, karena besok pemiliknya akan datang. Mandor sempat menyebutnya sekilas saat apel pagi—rumah ini ingin diserahkan sebelum pesta kecil yang sudah lama dijanjikan kepada istrinya.
Aku tidak menoleh. Tidak ada yang bisa kutinggalkan selain kerja. Aku kembali memoles dinding, membawa sisa mimpi itu di dalam dada—sebuah rahasia kecil yang sempat hidup, tepat sebelum peluit kedua.
***
Ridwan, saat ini berdomisili di Kota Bogor. Ia merupakan mahasiswa program studi Ilmu Hukum di Universitas Terbuka. Di sela-sela kesibukan akademiknya, ia aktif mengeksplorasi gagasan melalui tulisan. Ridwan dapat disapa melalui akun Instagram-nya di @ridwan_veritas.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
